- Bank Indonesia Sumatera Selatan meluncurkan program QRIS untuk musisi jalanan di kawasan wisata Benteng Kuto Besak Palembang.
- Inisiatif ini bertujuan mempermudah masyarakat memberikan apresiasi karya musisi tanpa harus bergantung pada ketersediaan uang tunai receh.
- Program tersebut merupakan bagian dari festival Gemilang Palembang Raya untuk mendorong akselerasi digitalisasi transaksi di sektor ekonomi kreatif.
SuaraSumsel.id - Setiap kali menikmati alunan gitar para musisi jalanan di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB), Lili hampir selalu melakukan hal yang sama. Tangannya merogoh tas, membuka dompet, lalu mencari uang receh untuk dimasukkan ke dalam kotak kecil yang diletakkan di depan para musisi.
Namun, niat baik itu tak selalu berakhir menjadi sebuah apresiasi. "Kadang lagunya bagus, kita memang ingin kasih. Tapi pas buka dompet tidak ada uang receh. Yang ada pecahan besar. Mau minta kembalian juga rasanya sungkan, akhirnya batal memberi," tutur Lili bercerita.
Pengalaman sederhana itu ternyata bukan hanya dialaminya seorang diri. Di tengah masyarakat yang semakin terbiasa membayar makanan, kopi, parkir, hingga transportasi menggunakan QRIS, memberi penghargaan kepada musisi jalanan masih bergantung pada sesuatu yang kini mulai jarang dibawa orang: uang tunai.
Padahal, musik jalanan telah menjadi bagian dari denyut kawasan Benteng Kuto Besak. Di sela ramainya wisatawan menikmati panorama Sungai Musi, mencicipi kuliner khas Palembang, hingga berburu produk UMKM, alunan lagu para musisi menjadi warna yang membuat kawasan wisata itu terasa hidup.
Berangkat dari kenyataan sederhana itulah, Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan menghadirkan sebuah pendekatan yang berbeda dalam penyelenggaraan Gemilang Palembang Raya x Digital Kito Galo (GPR x DKG) ke-7 Tahun 2026 yang digelar empat hari di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang.
Di antara festival kuliner, Digital Expo, promosi UMKM, transaksi LRT menggunakan QRIS, hingga berbagai kegiatan ekonomi kreatif, lahirlah satu gagasan yang menarik perhatian, yakni Musisi Jalanan di-QRIS-kan.
Program tersebut memang baru diperkenalkan. Namun gagasan yang dibawanya jauh melampaui persoalan alat pembayaran. Ia mencoba menjawab pertanyaan sederhana: bagaimana jika apresiasi terhadap sebuah karya tidak lagi bergantung pada ada atau tidaknya uang receh di saku penonton?
Seorang musisi jalanan yang biasa menghibur pengunjung di kawasan Benteng Kuto Besak menyambut baik gagasan tersebut. Saat dihubungi melalui WhatsApp, Alan mengaku optimistis program itu akan memudahkan masyarakat memberikan apresiasi.
"Kalau nanti benar-benar bisa pakai QRIS, tentu akan membantu. Banyak orang sebenarnya ingin memberi, tapi sering bilang tidak membawa uang tunai atau tidak punya uang receh. Kalau tinggal scan QRIS, mungkin mereka jadi lebih mudah mengapresiasi kami," ujarnya.
Gagasan itu lahir di tengah pertumbuhan ekonomi digital Sumatera Selatan yang terus menunjukkan akselerasi.
Hingga Mei 2026, nilai transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) hampir menyentuh Rp14 triliun. Perputaran transaksi tersebut didukung lebih dari 1,23 juta merchant dan 1,57 juta pengguna yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengatakan capaian tersebut mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital.
"Capaian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sumatera Selatan semakin percaya dan nyaman memanfaatkan pembayaran digital dalam kehidupan sehari-hari," ujar Bambang.
Kepercayaan itulah yang kini ingin diperluas. Tidak hanya kepada pelaku usaha. Tidak hanya kepada pusat perbelanjaan. Tidak hanya kepada restoran dan minimarket.
Tetapi juga kepada pelaku ekonomi kreatif yang selama ini menjadi bagian dari wajah pariwisata Kota Palembang. Karena itulah Digital Kito Galo tidak hanya menghadirkan pameran teknologi.