- Masyarakat Musi di Kabupaten PALI melestarikan Jongot sebagai warisan budaya dan identitas kolektif yang telah bertahan selama dua abad.
- Jongot merupakan sistem agroforestri tradisional yang berfungsi menjaga sumber pangan, ketersediaan air, serta keberagaman ekosistem di lahan basah.
- Tradisi ini menghadapi tantangan serius berupa alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi pengetahuan dari generasi muda saat ini.
SuaraSumsel.id - Di tengah Festival Lahan Basah yang digelar di Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, pada 16–21 Juni 2026, perhatian pengunjung tidak hanya tertuju pada pameran budaya, bentang lahan basah, dan kehidupan masyarakat perairan Musi. Salah satu tema yang paling menyita perhatian adalah Jongot, tradisi masyarakat Musi yang telah bertahan selama ratusan tahun dan menjadi cara mereka menjaga pangan, air, sekaligus hubungan dengan alam.
Bagi sebagian orang, Jongot mungkin terlihat seperti kebun buah biasa. Namun bagi masyarakat Musi, Jongot adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks. Ia merupakan ruang hidup yang diwariskan lintas generasi, tempat tumbuhnya beragam pohon buah, tanaman obat, sumber air, hingga pengetahuan yang membentuk identitas masyarakat setempat.
Peneliti Jongot sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang, Ainur Ropik, mengatakan selama ini banyak orang memahami Jongot hanya sebagai kebun tradisional.
Padahal, hasil penelitiannya menunjukkan Jongot merupakan bagian dari identitas kolektif masyarakat Musi yang telah bertahan lebih dari dua abad. Temuan tersebut menjadi dasar disertasinya berjudul Politik Ekologi dalam Praktik Agroforestri Tradisional: Jongot sebagai Artikulasi Identitas Kolektif Suku Musi di Sumatera Selatan.
Baca Juga:Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
"Orang sering melihat Jongot sebagai kebun buah. Padahal Jongot adalah lanskap budaya yang membentuk cara masyarakat Musi hidup, mengelola alam, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya," ujar Ainur saat menjadi pembicara dalam Festival Lahan Basah Tempirai.
Menurutnya, keunikan Jongot terletak pada cara masyarakat mengelola lahan.
Berbeda dengan perkebunan modern yang umumnya hanya menanam satu komoditas, Jongot ditumbuhi berbagai jenis tanaman secara bersamaan. Durian, petai, duku, kemang, aren, rambai, cempedak hingga pohon-pohon kayu besar tumbuh dalam satu hamparan lahan. "Awalnya masyarakat menanam kebutuhan hidup. Tetapi karena dipertahankan dan diwariskan terus-menerus, kawasan itu akhirnya berkembang menyerupai hutan," katanya.
Dari Kebun Menjadi Bentang Hutan
Ainur menjelaskan Jongot lahir dari cara masyarakat Musi beradaptasi dengan bentang lahan basah Sungai Musi. Pada masa lalu, masyarakat membangun permukiman di kawasan talang atau daratan yang relatif aman dari banjir. Di sekitar permukiman itulah mereka menanam berbagai tanaman yang dibutuhkan keluarga.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Perkuat Tata Kelola dan Perlindungan Aset Lewat Kerja Sama dengan Kejari PALI
Berbeda dengan pola pertanian modern, masyarakat tidak membersihkan seluruh vegetasi yang ada. Pohon-pohon besar tetap dipertahankan, sementara tanaman baru ditambahkan sesuai kebutuhan.
Proses yang berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun itulah yang kemudian membentuk lanskap Jongot. "Kalau dilihat hari ini, banyak Jongot yang tampak seperti hutan. Tetapi sebenarnya itu hasil dari proses panjang pengelolaan masyarakat," ujarnya.
Dalam disertasinya, Ainur menyebut fenomena tersebut sebagai landscape-based identity atau identitas berbasis lanskap, yakni identitas yang terbentuk melalui hubungan panjang antara masyarakat dan lingkungan tempat mereka hidup.
Menjaga Pangan dan Air
Penjelasan Ainur diamini Ibrahim, salah satu pewaris Jongot di PALI. Menurutnya, sejak dahulu Jongot tidak pernah hanya berfungsi sebagai kebun buah. "Mulai dari buah, batang sampai akar semuanya bermanfaat," kata Ibrahim.
Ia menceritakan, masyarakat dahulu membuka Jongot di sekitar kawasan yang dekat dengan sumber air karena sungai menjadi jalur transportasi utama.
Dari kawasan itulah keluarga memperoleh buah-buahan, kayu, tanaman obat, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. "Jaman dulu akses utama menggunakan transportasi air. Karena itu masyarakat membuka Jongot di sekitar kawasan pemukiman yang dekat dengan perairan," ujarnya.
Keberadaan pohon-pohon besar juga membantu menjaga ketersediaan air di sekitar kawasan tersebut. Karena itulah banyak masyarakat tua meyakini bahwa hilangnya Jongot tidak hanya mengurangi jumlah pohon, tetapi juga mengubah keseimbangan lingkungan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Meski telah bertahan selama ratusan tahun, Ainur menilai Jongot kini menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya. Tekanan ekonomi membuat banyak kawasan Jongot beralih fungsi menjadi perkebunan karet dan sawit. Di sisi lain, generasi muda semakin sedikit yang mengenal tradisi tersebut.
Dalam penelitiannya, Ainur menyebut kondisi itu sebagai ancaman terhadap transmisi pengetahuan lintas generasi yang selama ini menjadi fondasi keberlanjutan Jongot.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan Tony, pewaris generasi keempat Jongot di PALI. Menurutnya, semakin banyak anak muda yang tidak lagi memahami makna Jongot.
"Sedih juga melihat anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu tentang Jongot," katanya.
Padahal di dalam Jongot terdapat puluhan jenis tanaman yang selama ini menjadi sumber pangan dan obat tradisional masyarakat.
Tony sendiri masih menjaga Jongot keluarganya yang luasnya sekitar setengah hektare. Di kawasan tersebut tumbuh ratusan pohon dari berbagai jenis tanaman yang diwariskan oleh leluhurnya.
Menjaga Lebih dari Sekadar Pohon
Bagi masyarakat Musi, alasan mempertahankan Jongot tidak selalu berkaitan dengan nilai ekonomi. Tony mengaku pernah mendapat tawaran hingga ratusan juta rupiah untuk menjual Jongot keluarganya.
Namun tawaran itu ditolak. "Ada yang pernah menawar sampai ratusan juta rupiah, tetapi kami tidak tertarik menjualnya. Kami ingin anak cucu nanti tetap bisa menikmati hasilnya," ujarnya.
Menurut Ainur, sikap seperti itulah yang membuat Jongot mampu bertahan hingga sekarang.
Jongot bukan sekadar ruang produksi. Ia juga menjadi ruang tempat keluarga berkumpul, mengenang leluhur, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. "Ketika satu Jongot hilang, yang hilang bukan hanya pohonnya. Yang ikut hilang adalah pengetahuan, sejarah keluarga, dan identitas masyarakat yang hidup di dalamnya," katanya.
Di tengah perubahan lanskap Sumatera Selatan yang terus berlangsung, Festival Lahan Basah Tempirai menjadi pengingat bahwa Jongot bukan hanya cerita masa lalu.
Ia adalah bukti bahwa masyarakat Musi telah menemukan cara menjaga pangan, air, dan alam jauh sebelum dunia berbicara tentang keberlanjutan.
Dan selama masih ada yang mewariskannya, Jongot akan tetap tumbuh—bukan hanya sebagai kebun, melainkan sebagai hutan ingatan yang hidup di tengah masyarakat Musi.