- Pemadaman listrik massal di wilayah Sumatra memicu kekhawatiran serius terkait ketahanan sistem transmisi dan jaringan kelistrikan nasional Indonesia.
- IESR mendesak pemerintah melakukan investigasi independen serta transparansi data untuk mengungkap akar masalah sistemik di balik gangguan tersebut.
- Keterlambatan penyelesaian proyek transmisi 500 kV membuat sistem kelistrikan Sumatra terlalu bergantung pada jaringan transmisi 275 kV yang rentan.
Proyek “Tol Listrik” Sumatra Disorot
Dalam keterangannya, Fabby turut menyinggung molornya proyek jaringan transmisi 500 kV Lahat-Medan yang sebelumnya ditargetkan selesai sejak 2019.
Jaringan tersebut disebut seharusnya menjadi “jalan tol listrik” di Sumatra agar distribusi daya lebih kuat dan stabil.
Menurut Fabby, keterlambatan proyek membuat sistem kelistrikan Sumatra masih terlalu bergantung pada backbone 275 kV sehingga ketika satu jalur terganggu, dampaknya bisa cepat menyebar ke banyak wilayah.
Baca Juga:Tagihan Listrik PLN Membengkak di Palembang Saat Cuaca Panas? Begini Cara Menghematnya
“Tertundanya proyek 500 kV Sumatra membuat sistem masih terlalu bergantung pada backbone 275 kV. Akibatnya, ketika satu koridor 275 kV terganggu, dampaknya jauh lebih mudah menyebar,” ujarnya.
Di sisi lain, IESR juga mengimbau rumah tangga dan pelaku usaha yang mampu secara ekonomi mulai mempertimbangkan penggunaan PLTS atap yang dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS).
Kombinasi panel surya dan penyimpanan energi dinilai dapat membantu menjaga pasokan listrik mandiri saat terjadi pemadaman massal sekaligus mengurangi ketergantungan pada genset berbahan bakar minyak.