- Ziarah Kubro 2026 di Palembang melibatkan ribuan peziarah berjalan kaki menghormati ulama penyebar Islam pada 6 hingga 8 Februari.
- Puncak acara ditandai napak tilas ke makam bersejarah seperti Kawah Tengkurep dengan estimasi 30.000 jamaah.
- Ritual tahunan bulan Sya’ban ini berfungsi menguatkan kebersamaan serta menjadi magnet wisata religi di Palembang.
SuaraSumsel.id - Kota Palembang, Palembang, tampak berbeda sepanjang pekan ini. Ribuan warga dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti tradisi Ziarah Kubro 2026, ritual keagamaan tahunan yang melibatkan puluhan ribu jemaah peziarah berjalan kaki menghormati para ulama dan penyebar dakwah Islam di Bumi Sriwijaya.
Sepanjang tiga hari rangkaian acara yang dimulai sejak Jumat (6/2) hingga Minggu (8/2), relung kota dipenuhi lautan jamaah berpakaian putih yang berjalan beriringan di jalan-jalan utama Palembang. Puncaknya terjadi pada Minggu, ketika ribuan jemaah terlihat memutihkan Kota Palembang dari bawah Jembatan Musi IV hingga titik ziarah lainnya.
Rangkaian kegiatan ini bukan sekadar simbol berjalan kaki. Pada hari puncak, jemaah melakukan napak tilas ke makam para ulama dan auliya, termasuk hingga kawasan pemakaman bersejarah seperti Kawah Tengkurep dan area Kambang Koci. Doa bersama dan selawat memenuhi suasana, menciptakan suasana khidmat dan penuh kebersamaan antar-umat beragama.
Bagi sebagian warga yang menyaksikan dari pinggir jalan maupun jembatan, tradisi ini menghadirkan nuansa emosional tersendiri. Seorang warga Palembang menyebut bahwa acara ini tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi juga cara menghormati sejarah panjang hubungan Palembang dengan ulama dari berbagai daerah, termasuk dari Hadramaut, Yaman.
Baca Juga:Inflasi Sumsel Masih Aman, Tapi Warga Mulai Merasakan Perubahan Harga
Sekretaris Daerah Kota Palembang, yang turut menyaksikan jalannya puncak Ziarah Kubro, mengatakan kegiatan ini adalah simbol kebersamaan umat Islam dalam menghormati jasa para ulama dan habaib yang telah berperan besar dalam penyebaran dakwah di wilayah ini. Bahkan, pemerintah kota memperkirakan tidak kurang dari 30.000 jamaah mengikuti tradisi ini selama puncak ziarah berlangsung.
Peristiwa ini juga menjadi magnet wisata religi yang menarik perhatian dari berbagai daerah di Tanah Air, bahkan hingga mancanegara. Selain menjadi ajang spiritualitas, Ziarah Kubro juga kerap disebut sebagai momentum menguatkan silaturahmi dan persaudaraan lintas wilayah.
Tradisi Ziarah Kubro sendiri digelar setiap tahun bertepatan dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Selain rangkaian ziarah, kegiatan juga mencakup haul para ulama, doa bersama, dan zikir yang diikuti ribuan peserta.
Sumsel sepekan ini tidak hanya mencatat dinamika sosial-keagamaan yang kuat, tetapi juga menunjukkan bagaimana tradisi turun temurun tetap relevan dan dirayakan dengan antusias oleh berbagai generasi, sebuah pemandangan tahunan yang kini menjadi bagian dari warna budaya dan spiritual Kota Palembang.
Baca Juga:Gedung FPI Sumsel Diresmikan, Sinyal Peran Baru FPI di Ruang Publik Palembang