Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna

Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang dikritik karena dianggap mengintervensi ruang simbolik Titik Nol kota tanpa membaca makna historisnya.

Tasmalinda
Minggu, 11 Januari 2026 | 16:42 WIB
Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
air mancur Palembang
Baca 10 detik
  • Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang dikritik karena dianggap mengintervensi ruang simbolik Titik Nol kota tanpa membaca makna historisnya.
  • Desain baru, seperti ornamen digital dan air mancur menari di depan masjid utama, dinilai kurang kontekstual serta berpotensi mereduksi nilai kesakralan.
  • Pemerintah menargetkan revitalisasi ini menciptakan ikon kota modern yang representatif bagi wisatawan, namun memicu perdebatan tentang etika ruang publik.

SuaraSumsel.id - Revitalisasi Bundaran Air Mancur (BAM) Palembang menuai sorotan publik. Proyek yang berada tepat di jantung kota dan di sumbu utama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo ini dinilai tidak sesederhana urusan mempercantik wajah kota, melainkan menyentuh persoalan makna, identitas, dan etika ruang publik.

Sejumlah kalangan menilai, persoalan utama revitalisasi BAM justru terletak pada ketepatan membaca makna ruang simbolik Palembang, mengingat kawasan tersebut kerap diposisikan sebagai Titik Nol Kota, yang menjadi ruang yang memikul sejarah, spiritualitas, dan memori kolektif warga.

Kritik tersebut disampaikan arsitek sekaligus Wakil Ketua Lembaga Kajian Pembangunan Sumatera Selatan (LKPS), Dr. Ir. Zuber Angkasa, M.T. Menurutnya, revitalisasi BAM merupakan intervensi pada ruang simbolik yang tidak bisa diperlakukan semata sebagai proyek estetika atau destinasi visual.

Perdebatan menguat setelah desain monumen yang diklaim terinspirasi dari motif Cempaka Telok justru lebih banyak ditafsirkan publik sebagai teratai, simbol kuat era pra Islam yang telah lama hadir dalam ikonografi Palembang.

Baca Juga:Bikin Geger Penumpang, Batik Air Angkat Bicara soal Pramugari Gadungan Asal Palembang

Perbedaan tafsir ini dinilai bukan sekadar soal selera, melainkan indikasi kegagalan komunikasi simbolik. Dalam perspektif tata kota, Zuber menilai ketika sebuah desain membutuhkan penjelasan panjang agar dipahami maksudnya, sementara persepsi visual publik justru membaca makna lain, maka yang bermasalah bukan warga, melainkan bahasa visual desain itu sendiri.

Sorotan lain mengarah pada konsep air mancur menari, permainan cahaya, dan ornamen digital yang kini hadir di kawasan BAM. Elemen semacam ini lazim ditemukan di ruang rekreasi atau kawasan komersial, namun dinilai berisiko ketika ditempatkan tepat di depan masjid utama kota.

Kritik serupa juga diarahkan pada penggunaan running text LED Asmaul Husna. Meski substansinya suci, medium digital yang identik dengan iklan dan informasi komersial dinilai rawan mereduksi nilai kesakralan jika tidak ditempatkan secara kontekstual.

"Kritik ini bukan penolakan terhadap simbol keagamaan, melainkan soal etika medium dan ruang," ujarnya.

Meski kritis, Zuber menegaskan bahwa pandangannya bukan untuk menolak pembangunan. Ia justru mendorong koreksi arah desain agar lebih kontekstual dengan identitas Palembang. Salah satu pendekatan yang ia tawarkan adalah kembali pada bahasa visual Songket, yang mengekspresikan flora melalui abstraksi geometris dan selaras dengan prinsip estetika Islam yang menghindari figurasi literal.

Baca Juga:Tarif Baru Penerbangan Perintis Susi Air 2026, Rute Pagar Alam-Palembang Mulai Rp365 Ribuan

Pendekatan ini dinilai lebih aman secara makna, mampu menghadirkan kesan anggun dan berwibawa, serta berdialog dengan arsitektur masjid, bukan bersaing dengannya. Pemilihan material yang jujur dan tahan iklim tropis juga dianggap penting agar ikon kota tidak cepat menua dan kehilangan martabat simboliknya.

Ditargetkan Kembali Jadi Ikon Kota

Pemkot bersama Pemprov Sumatera Selatan tengah melakukan revitalisasi total Bundaran Air Mancur sebagai bagian dari upaya mempercantik ruang publik sekaligus menjadikannya ikon baru Kota Palembang.

Pemerintah memposisikan kawasan BAM, yang berada di antara kawasan Masjid Agung dan Jembatan Ampera—sebagai wajah kota yang representatif bagi wisatawan.

Revitalisasi ini dirancang menghadirkan tampilan yang lebih modern dan berseni, dengan fitur seperti air mancur menari, tata cahaya artistik, serta ornamen visual yang diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kawasan pusat kota.

Proyek ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui skema bantuan keuangan, dengan target penyelesaian dalam waktu relatif singkat. Selain aspek estetika, Pemkot menyebut revitalisasi BAM juga mempertimbangkan faktor keselamatan lalu lintas.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini