Berlokasi di salah satu desa di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), JW (43) terlihat begitu sibuk merapikan alat-alat cukur yang sama sekali belum dia gunakan pada hari itu, Kamis (19/1/2023). Bukan tanpa alasan, sebetulnya aktivitas tersebut dia lakukan sebagai bentuk kegelisahan karena belum ada satupun orang yang berniat mengunjungi salonnya untuk sekedar memangkas rambut.
JW bernasib serupa dengan Dek Wan. JW terpaksa mendirikan salon dengan luas bangunan 3 x 2 meter dengan modal tabungan pribadi. Selama 10 tahun terakhir dirinya sibuk dengan kegiatan kampanye di sana-sini, tapi kegiatan itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Dia kesulitan mengakses modal usaha dari para pemangku kepentingan politik di daerahnya.
Dinilai sebagai salah satu anggota Terong Biru (nama komunitas transpuan di desanya) yang memiliki daya pikat yang besar bagi masyarakat karena sikap lucu dan keunikannya, JW dapat dipastikan selalu hadir dalam barisan waria di Ogan Ilir yang terlibat kampanye calon kepala daerah disana. Tidak untuk diberikan tugas yang berat ataupun menyampaikan pidato-pidato panjang mengenai visi misi parpol ataupun caleg, JW mengaku hanya diminta untuk mempromosikan dan mengajak masyarakat untuk mau memilih pasangan calon atau partai yang menggelar acara tersebut.
“Kami dulunya sering mengikuti kampanye dari partai Golkar, kami diajak. Tugasnya untuk menghibur saja, kadang kalau tidak ada artisnya kami disuruh nyanyi . Kan dulu-dulunya mereka bersikap seolah-olah senang dengan kami, pada saat itulah kami diminta untuk promosi lewat lagu atau berpantun misalnya,” katanya kepada Suarasumsel.id
Baca Juga:Gelar Zikir Akbar di Sumsel, Airlangga Hartanto: Semua Partai Ingin Berkomunikasi Dengan Golkar
Diceritakan ia, peran waria di Kabupaten Ogan Ilir memang sangat dibutuhkan pada saat memasuki tahun politik guna kebutuhan kampanye, hal itu sudah mulai dilakukan beberapa partai sejak awal tahun 2000-an. Sehingga banyak sekali waria yang akhirnya membentuk komunitas transpuan di masing-masing desa, seperti yang berlaku pada komunitas Terong Biru yang dia gagas bersama beberapa rekan lainya di desa tersebut.
Komunitas Terong Biru awalnya hadir guna mengakomodir seluruh informasi yang berkaitan dengan kampanye parpol sebagai harapan waria yang tergabung di dalamnya dapat berbagi pekerjaan pada saat dibutuhkan oleh parpol-parpol yang akan melakukan kampanye pemilihan kepala daerah dan lain sebagainya.
Dorongan untuk menerima hak dasar bagi kelompok waria terus dilakukan JW dengan cara ini, baginya kesenangan yang dialirkan melalui kampanye menjadi asa agar para pemimpin yang terpilih nantinya mampu menciptakan kebijakan yang ramah akan kebutuhan waria, minimal keamanan dan kenyamanan hidup sebagai warga negara.
Bahkan sepanjang tahun 2014 lalu, masih dengan partai yang sama JW sempat diberangkatkan menuju ke kabupaten lain yang ada di Sumsel untuk rangkaian kegiatan kampanye, JW mengaku sangat senang, sebab dia selalu diikutkan dalam perjalanan politik pada waktu itu.
“Yang berangkat dari kami sekitar 5 sampai 7 orang untuk menghibur target kampanye mereka. Jadi saya ingat, waktu itu ada artis ibu kota juga, tapi saya lupa namanya. Kami dikasih kerudung dan baju sama orang partai ini dan jam tangan,” ucapnya.
Baca Juga:Pemilu Dipastikan Derek Inflasi Sumsel, Perlu Langkah Antisipasi
Namun, seiring berjalannya waktu, tepat disaat calon-calon itu telah berhasil meraih keinginannya sebagai kepala daerah atau jabatan legislatif lainnya, JW justru dilupakan begitu saja. Istilah habis manis sepah dibuang selalu dilekatkan JW kepada tokoh-tokoh yang dianggap mampu merubah stigma masyarakat tentang transpuan yang hidup di desa melalui kebijakan-kebijakannya kedepan.