Anggapan negatif yang lahir dari mereka pun membuat Dek Wan sempat merasa terancam apabila harus tinggal lama di desa yang didominasi oleh masyarakat dengan pekerjaan sebagai pandai besi dan penenun kain songket khas Sumsel ini.
“Saya kan tetap rutin melakukan ibadah salat jumat di masjid sini. Nah tidak lama dari itu, saya sering sekali dicibir kalau banci itu salat nya pakai mukena, bukan sarung sama peci. Waktu itu pas khotbah ustaz nya juga membawakan materi soal waria. Katanya kehadiran waria itu hanya akan merusak generasi anak muda di sini, gak akan ada kesudahan pokoknya kata dia,” terangnya dengan sedikit mengingat-ingat kembali kejadian itu.
Peristiwa-peristiwa inilah yang membuat Dek Wan begitu alergi saat mendengar kata politik, meskipun dia sadar perbuatannya itu akan menghambat efektivitas pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Ia tetap saja kekeh untuk tidak lagi menuangkan pikiran dan tenaganya dalam rangkaian politik seperti apapun.
“Kalau yang terbaru di tahun 2020, sehari sebelum pemilihan TL itu datang lagi untuk memberikan uang kepada saya, kalau tidak salah itu Rp 300 ribu isinya, tapi saya diminta untuk coblos nama calon yang dia sebutkan. Waktu itu langsung saja saya bilang tidak mau, dengan alasan saya tidak datang ke TPS,” bebernya.
Baca Juga:Gelar Zikir Akbar di Sumsel, Airlangga Hartanto: Semua Partai Ingin Berkomunikasi Dengan Golkar
Ajakan yang diberikan kala itu bak buah simalakama baginya, sebab diwaktu yang sama dia betul-betul membutuhkan tambahan modal untuk meningkatkan kebutuhan peralatan salon, akan tetapi di sisi lain apabila pemberian itu diterima, tentu praktik politik uang akan semakin panjang umurnya dan akan memperbesar peluang bagi para politikus bersama tim suksesnya untuk terus menjadikan dia sebagai objek kampanye.
Beberapa kali pun dia juga didesak oleh pelanggan untuk bisa menghadirkan layanan baru pada salonnya. Kalau hanya mengandalkan rias dan potong rambut saja, maka penghasilan yang dia dapatkan tentu tidak seberapa.
“Saya menolak karena saya yakin ada jalan lain untuk saya bisa mengumpulkan modal,” ungkapnya.
Saat disinggung mengenai tuntutan kepada para caleg dan tim sukses yang pernah melibatkannya dalam kegiatan politik, dia justru mengaku sampai saat ini belum pernah bertemu kembali dengan caleg-caleg tersebut.
“Selepas urusan mereka kemarin, saya tidak mendapat kesempatan untuk menuntut banyak dari caleg, kalaupun ada waktunya, kami tahu permintaan kami tidak akan mendapat solusi apapun. Mereka pastinya hanya akan mengatakan beragam alasan untuk tidak memfasilitasi itu atau bahkan kami hanya akan mendapat hinaan saja sebagai banci dusun,” pungkas dia.
Baca Juga:Pemilu Dipastikan Derek Inflasi Sumsel, Perlu Langkah Antisipasi
![Foto Dek Wan, transpuan di Palembang [Dok. Mita R]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/02/07/42890-foto-dek-wan-transpuan-di-palembang-dok-mita-r.jpg)
Jadi Partisipan Langganan Kampanye, Transpuan Hanya ‘Tukang Hibur’