Waspada Kibul Parpol Terhadap Transpuan di Tahun Politik

Keberadaan transpuan di musim politik termasuk di Sumatera Selatan masih terpinggirkan sekaligus dianggap hanya penghibur.

Tasmalinda
Minggu, 19 Februari 2023 | 18:07 WIB
Waspada Kibul Parpol Terhadap Transpuan di Tahun Politik
Dek Wan, transpuan di Palembang [dok: Mita R]

Dari situ dia mengatakan betul-betul sadar bahwa waria hanya dijadikan sebagai objek hiburan semata pada saat kampanye berlangsung, terlepas dari apapun kepentingan yang mereka bawa saat masuk ke dalam ranah politik, JW kembali menegaskan, seharusnya mereka dapat melihat kebutuhan masyarakat dengan lebih objektif.

Kekecewaan lainnya yang masih dirasakan JW pasca kampanye hingga sekarang yaitu, JW tidak pernah bisa menerima bantuan apapun karena dianggap memiliki kecenderungan suara pada salah satu parpol saja oleh pejabat desa di lingkungannya, anggapan itu pun akhirnya membuat dia harus kehilangan beberapa kali informasi terkait bantuan pemerintah seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang tidak pernah diketahuinya dari perangkat desa yang memiliki pandangan politik berbeda dari partai yang dikampanyekan JW.

“Dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah menerima bantuan apapun dari partai yang mengajak saya kampanye, bahkan bantuan dari kades saja saya tidak pernah dikasih tahu, katanya karena saya pasti sudah dapat bantuan dari partai. Jadi sekarang saya harus pontang-panting cari modal untuk salon, pinjam di bank sana sini,” ungkapnya dengan ekspresi kekecewaan yang terlihat sangat jelas.

Dirinya juga sering bertanya kepada tetangga tentang langkah-langkah penerima bantuan, namun pertanyaan-pertanyaanya justru kembali dilemparkan kepada kepala desa, tentu itu membuatnya semakin kelimpungan, berjuang demi mendapatkan kesejahteraan disana-sini.

Baca Juga:Gelar Zikir Akbar di Sumsel, Airlangga Hartanto: Semua Partai Ingin Berkomunikasi Dengan Golkar

“Ada juga kemarin ucapan mereka yang bilang, kalau bantuan ini bukan untuk yg seperti saya ini (transpuan). Tidak tahu mereka bercanda atau tidak, tapi itu membuat saya merasa terpinggirkan sebagai warga sini. Suka sedih lihat mereka bisa dapat bantuan, sedangkan saya tidak,” terusnya.

JW mengaku merupakan tulang punggung keluarga yang saat itu hidup bersama ibunya yang telah renta dan juga adiknya yang diketahui sebagai difabel.

Pendapatan yang diperoleh JW menjadi satu-satunya penunjang kebutuhan sandang dan pangan di keluarga kecilnya itu.

Dianggap Biang Bencana, Transpuan Terusir dari Tanah Kelahiran

Memilih untuk tampil secara terang-terangan sebagai transpuan sudah dilakukan JW sejak dirinya berusia 20 tahun, diakui oleh nya, perilaku femi yang ada pada dia begitu terasa saat JW masih kecil. Ketika teman laki-laki sebaya lebih memilih bermain sepak bola, justru JW akan lebih nyaman bila bermain dengan teman perempuan, dia terbiasa bermain boneka atau permainan lainnya yang identik dengan perempuan.

Baca Juga:Pemilu Dipastikan Derek Inflasi Sumsel, Perlu Langkah Antisipasi

Saat kecil dia sering menerima tindakan bullying dari teman-temannya bahkan orang tua di masa itu, mereka mengatakan JW bukanlah manusia normal, beberapa diantaranya menyebut JW terlahir berbeda karena hukuman Tuhan kepada keluarganya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini