alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Lestarikan Tanjak dan Gandik: Tidak Hanya Digunakan Pada Acara Adat Saja

Tasmalinda Selasa, 20 April 2021 | 09:15 WIB

Lestarikan Tanjak dan Gandik: Tidak Hanya Digunakan Pada Acara Adat Saja
Gandik, hiasan kepala perempuan Palembang {Fitria/Suara.com] Lestarikan Tanjak dan Gandik: Tidak Hanya Digunakan Pada Acara Adat Saja

Melestarikan tanjak dan gandik Palembang harus dipakai tidak hanya saat acara adat dan formal saja.

SuaraSumsel.id - Tanjak dan Gandik merupakan salah satu budaya yang dimiliki Palembang sejak lama. Umumnya pemakaian hiasan kepala tersebut hanya dikenakan saat acara-acara resmi atau adat saja, seperti acara pernikahan dan lainnya.

Untuk melestarikan kedua hiasan kepala ini, Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama Raden Muhammad Fauwaz Diradja berpendapat menjadikan keduanya tidak hanya dipakai pada acara adat saja.

Tanjak yang diperuntukkan bagi laki-laki dan gandik bagi perempuan harus dilestarikan.

“Sekarang kita hidupkan kembali dan siapapun bisa menggunakan tanjak dan gandik bukan hanya saat acara pernikahan saja,” katanya saat menghadiri acara pelatihan melipat tanjak dan membuat gandik di Atrium OPI Mall Palembang belum lama ini.

Baca Juga: Setuju Konsep Ancol Pulau Kemaro, Herman Deru: Sumsel Ini Haus Wisata

Sultan juga menjelaskan awal mula pemakaian tanjak dan gandik di wilayah Palembang.

Menurut ia,  pemakaian hiasan kepala tersebut sudah dimulai saat Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang yang menandak kepercayaan kepada yang di atas (Tuhan YME) dan harapan kehidupan.

“Kita ini bangsa Melayu menggunakan tanjak sebagai ikat kepala, di artikan agar kehidupannya akan seperti gunung yang meninggi atau menanjak maka namanya tanjak,”jelasnya.

Lalu untuk gandik disimbolkan bahwa wanita memang sejak dulu suka berhias untuk mempercantik diri.

“Mereka itu suka berhias menggunakan ornamen-ornamen seperti yang ada di Gandik, dan dulunya dipakai oleh orang yang baru menikah saja,” terang ia.

Baca Juga: Kasus Perawat Dianiaya, PPNI Sumsel: Kasus Hukum Diteruskan Meski Memaafkan

Untuk ikut mendukung upaya pelestarian dan menonjolkan kembali kebudayaan ini, ia berencana membuat Rekor MURI 1000 orang melipat dan memakai Tanjak terbanyak.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait