- Mutia Maharani dari Solidaritas Perempuan Palembang menilai pengenaan PPN 11 persen pada pembalut sangat memberatkan kelompok ekonomi bawah.
- Keterbatasan ekonomi membuat perempuan prasejahtera di pesisir DAS Musi terpaksa memakai satu pembalut dalam durasi tidak aman.
- Solidaritas Perempuan mendesak pemerintah dan parlemen merevisi regulasi perpajakan agar pembalut memperoleh fasilitas pembebasan PPN dengan tarif nol persen.
SuaraSumsel.id - Pembalut menjadi kebutuhan rutin bagi perempuan yang mengalami menstruasi. Namun, bagi sebagian perempuan dari keluarga prasejahtera, memenuhi kebutuhan sanitasi bulanan bukan perkara sederhana. Harga produk yang harus dibeli secara berkala menjadi beban tersendiri, terlebih ketika pembalut masih dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Polemik pengenaan PPN efektif sebesar 11 persen pada pembalut kembali ramai diperbincangkan setelah sejumlah pengguna media sosial membagikan foto struk belanja yang memperlihatkan komponen pajak produk sanitasi perempuan. Perdebatan itu kemudian memunculkan pertanyaan mengenai keadilan menstruasi atau menstrual equity: mengapa kebutuhan biologis yang harus dipenuhi perempuan setiap bulan masih diperlakukan sebagai barang konsumsi umum?
Aktivis Solidaritas Perempuan (SP) Palembang, Mutia Maharani, menilai pengenaan pajak tersebut memberatkan perempuan, terutama mereka yang berada dalam kelompok ekonomi bawah. Menurutnya, pembalut bukan barang mewah atau pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kesehatan reproduksi.
“Pembalut bukan sekadar komoditas komersial, melainkan kebutuhan dasar biologis yang wajib dipenuhi setiap bulan oleh perempuan yang mengalami siklus menstruasi,” ujar Maharani.
Ia menilai kebijakan fiskal yang memperlakukan produk sanitasi menstruasi seperti barang konsumsi umum berisiko memperberat beban ekonomi perempuan. Dampaknya dapat lebih terasa bagi buruh perempuan, perempuan marjinal perkotaan, serta keluarga prasejahtera di kawasan pinggiran.
Perempuan di Kawasan Pesisir DAS Musi Hadapi Beban Berlapis
Persoalan akses pembalut tidak hanya berkaitan dengan harga di toko. Di sejumlah kawasan marginal Kota Palembang, keterbatasan ekonomi membuat perempuan harus mengatur penggunaan produk menstruasi agar kebutuhan bulanan tetap terpenuhi.
Maharani menyoroti kondisi perempuan dari keluarga prasejahtera di kawasan pesisir Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi dan wilayah pinggiran kota. Sebagian perempuan, menurutnya, terpaksa memperpanjang penggunaan satu pembalut karena keterbatasan kemampuan membeli persediaan yang cukup.
“Banyak perempuan dari keluarga prasejahtera terpaksa berhemat dengan mengenakan satu pembalut dalam durasi yang tidak aman,” ungkapnya.
Baca Juga: 438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa akses terhadap produk menstruasi yang aman tidak selalu tersedia secara setara. Ketika kemampuan membeli terbatas, perempuan berisiko mengorbankan kenyamanan dan kesehatan demi menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
Maharani mengakui Solidaritas Perempuan Palembang belum memiliki riset kuantitatif khusus yang mengukur dampak langsung pengenaan pajak pembalut di tingkat lokal. Organisasi tersebut juga belum mendokumentasikan kasus spesifik perempuan yang beralih menggunakan media ekstrem yang tidak higienis.
Meski demikian, ia menilai persoalan kerentanan akses sanitasi menstruasi perlu menjadi perhatian pemerintah karena menyangkut kebutuhan dasar dan kesehatan reproduksi perempuan.
Alternatif Pembalut Ramah Lingkungan Belum Tentu Terjangkau
Sebagian orang mungkin melihat pembalut kain yang dapat dicuci ulang, tampon, atau menstrual cup sebagai alternatif untuk mengurangi pengeluaran pembalut sekali pakai.
Namun, menurut Maharani, pilihan tersebut belum tentu dapat diakses semua perempuan, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.
Tag
Berita Terkait
-
438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?
-
IIPK Bank Sumsel dan TP PKK Sumsel Babel Perkuat Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga
-
Kilang Plaju dan Polda Sumsel Perkuat Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
-
Wajah Lain Krisis Karhutla: Anak Terpapar Asap, Perempuan Lebih Berat Merasakan Beban
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti
-
Dijanjikan Gaji Rp50 Juta dan Bonus Rp620 Juta, 58 WNI Terjebak TPPO Tentara Bayaran Rusia
-
Dua Korporasi Sudah Diselidiki, WALHI Kini Laporkan 9 Perusahaan soal Karhutla Jambi
-
Ketika Membeli Pembalut Harus Berhemat, Perempuan Marginal Palembang Hadapi Risiko Kesehatan
-
4 Koridor Feeder LRT dan Teman Bus Palembang Setop Operasional, Ini Rute yang Terdampak