Tasmalinda
Jum'at, 21 Agustus 2026 | 22:23 WIB
asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti kota Palembang
Baca 10 detik
  • Pantau Gambut mencatat 15.067 titik panas terjadi pada Juli 2026 di berbagai wilayah Indonesia.
  • Paparan asap kebakaran hutan memicu gangguan kesehatan pernapasan serta menghambat aktivitas belajar anak-anak.
  • Perempuan menanggung beban rumah tangga yang semakin berat akibat terbatasnya akses air dan pangan.

SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan lahan terbakar dan kabut asap. Di balik krisis ekologis tersebut, anak-anak dan perempuan menghadapi dampak yang lebih panjang, mulai dari risiko gangguan pernapasan hingga bertambahnya beban keluarga ketika kualitas udara memburuk.

Temuan Pantau Gambut menunjukkan 15.067 titik panas terdeteksi pada Juli 2026 atau melonjak 549 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi di sejumlah wilayah, dengan Kalimantan Barat mencatat 4.874 titik dan Papua Selatan 4.220 titik.

Perwakilan warga Merauke, Beatrix Gebze, mengatakan paparan asap berkepanjangan telah menjadi ancaman serius bagi anak-anak dan perempuan di wilayah terdampak. Kondisi tersebut diperburuk dengan sulitnya akses terhadap fasilitas kesehatan, air bersih dan pangan. “Karhutla di Papua Selatan bukan lagi sekadar krisis ekologis, melainkan ancaman langsung bagi keselamatan perempuan dan anak,” tegas Beatrix.

Menurut dia, paparan asap berkepanjangan dapat memicu ISPA pada anak-anak. Di sisi lain, keluarga harus menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar ketika sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan ikut terdampak.

Anak menjadi kelompok rentan

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan ketika kabut asap menyelimuti permukiman. Sistem pernapasan mereka yang masih berkembang membuat paparan udara tercemar menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Krisis karhutla juga dapat mengganggu aktivitas anak. Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan di luar rumah perlu dibatasi. Aktivitas sekolah, bermain dan kegiatan sosial anak pun dapat ikut terdampak.

Persoalan kesehatan tersebut kemudian berimbas kepada keluarga. Orang tua harus memberikan perhatian lebih ketika anak mengalami gangguan pernapasan, sementara akses terhadap layanan kesehatan tidak selalu mudah bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.

Perempuan menghadapi beban berlapis

Baca Juga: Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga

Dampak karhutla juga dirasakan berbeda oleh perempuan. Ketika anggota keluarga mengalami gangguan kesehatan, perempuan kerap berada di posisi yang harus memastikan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Dalam situasi ketika air bersih, pangan atau akses layanan kesehatan terbatas, beban tersebut dapat semakin berat.

Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan Mamut Menteng, Irene Natalia Lambung, menilai perempuan adat belum ditempatkan sebagai subjek yang setara dalam upaya mitigasi krisis iklim.

“Solusi yang ada sekadar cuci tangan dan membiarkan perempuan menanggung dampak krisis secara mandiri,” kata Irene.

Ia juga menyoroti belum adanya iktikad politik pemerintah untuk mengeksekusi putusan Citizen Law Suit (CLS) Gerakan Anti Asap (GAAS) yang telah dimenangkan warga sejak 2019.

Sumsel ikut menghadapi tekanan karhutla

Dampak karhutla terhadap perempuan dan anak juga relevan dengan kondisi Sumatera Selatan yang kini memasuki periode rawan kebakaran. Data BPBD Sumsel menunjukkan 449 hotspot terdeteksi pada 20 Agustus 2026. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 133 titik.

Load More