Tasmalinda
Jum'at, 04 September 2026 | 22:45 WIB
623 titik panas terpantau di Sumsel, 317 masih diverifikasi Polda
Baca 10 detik
  • Polda Sumatera Selatan mendeteksi 623 titik panas hingga Jumat, 4 September 2026, melalui aplikasi Stop Karhutla.
  • Petugas memverifikasi 306 titik dan mendapati seluruh lokasi tersebut merupakan anomali panas stockpile batu bara industri.
  • Polda menyiagakan 1.000 personel di 20 posko untuk memverifikasi 317 sisa titik panas tersisa.

SuaraSumsel.id - Sebanyak 623 titik pantauan panas terdeteksi di sejumlah wilayah Sumsel. Dari jumlah tersebut, 306 titik telah dilakukan pengecekan langsung di lapangan, sementara 317 titik lainnya masih dalam proses verifikasi oleh jajaran Polda Sumatera Selatan.

Data tersebut berdasarkan laporan hasil pengecekan darat atau ground check melalui aplikasi Sistem Terpadu Operasi Karhutla (Stop Karhutla) hingga Jumat, 4 September 2026. Dari total 623 titik pantauan, sebanyak 569 berada pada tingkat kepercayaan menengah dan 54 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah. Dalam data tersebut tidak ditemukan titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Karo Ops Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Muhammad Anis Prasetio Santoso mengatakan, jajaran kepolisian terus menindaklanjuti setiap indikasi panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Kami bergerak aktif dan cepat merespons setiap data yang masuk di aplikasi Stop Karhutla. Dari 623 titik pantauan, sebanyak 306 titik sudah kami tindak lanjuti dan terverifikasi di lapangan sebagai area stockpile batubara, bukan titik api kebakaran,” ujar Muhammad Anis.

Menurut dia, hasil pengecekan terhadap 306 titik yang telah diverifikasi menunjukkan bahwa seluruh lokasi tersebut merupakan anomali panas non-kebakaran yang berada di area aktivitas industri berupa penumpukan atau stockpile batu bara.

Sementara itu, sebanyak 317 titik lainnya masih menjadi perhatian tim di lapangan. Polda Sumsel memastikan proses verifikasi dan pemantauan terhadap lokasi tersebut terus dilakukan untuk mengetahui kondisi faktual serta menentukan langkah penanganan sesuai hasil pengecekan.

Muhammad Anis mengatakan, penambahan kekuatan personel dilakukan untuk mempercepat proses penelusuran terhadap titik-titik yang masih belum selesai diverifikasi.

“Dengan penebalan kekuatan hingga 1.000 personel di 20 posko siaga, sisa titik lainnya terus kami telusuri secara intensif agar masyarakat tetap merasa aman, tenang, dan terlindungi,” katanya.

Berdasarkan data pemantauan, titik pantauan terbanyak tercatat berada di Kabupaten Musi Banyuasin dengan 152 titik. Kabupaten Ogan Komering Ilir menyusul dengan 118 titik, kemudian Banyuasin sebanyak 90 titik, Muara Enim 57 titik dan Ogan Ilir 43 titik.

Baca Juga: Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Sebaran tersebut menjadi salah satu dasar bagi jajaran kepolisian dalam menentukan prioritas pengecekan serta memperkuat patroli di wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan, Polda Sumsel juga telah meningkatkan jumlah personel operasi. Kekuatan yang sebelumnya berjumlah 548 personel kini diperkuat menjadi 1.000 personel gabungan.

Personel tersebut disiagakan melalui 20 posko operasi terpadu untuk melakukan pemantauan, ground check, patroli dan mempercepat respons apabila ditemukan indikasi kebakaran di lapangan.

Muhammad Anis menegaskan, data dari sistem pemantauan tidak serta-merta menjadi kesimpulan bahwa telah terjadi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, pengecekan langsung menjadi bagian penting sebelum petugas menentukan kondisi sebenarnya.

Menurutnya, teknologi digunakan sebagai sistem peringatan dan pemantauan awal, sedangkan kondisi faktual tetap harus dipastikan melalui verifikasi langsung oleh petugas.

“Setiap indikasi panas yang terpantau harus kami pastikan langsung di lapangan. Dengan ground check, penanganan dilakukan berdasarkan kondisi dan fakta yang sebenarnya,” ujarnya.

Load More