- Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani Sumatera Selatan Agustus 2026 menembus angka 150,53.
- Kenaikan NTP didorong oleh peningkatan harga komoditas perkebunan, tanaman pangan, dan peternakan di berbagai daerah.
- Nilai Tukar Nelayan justru mengalami penurunan sebesar 0,33 persen akibat penurunan harga hasil tangkapan.
SuaraSumsel.id - Nilai Tukar Petani atau NTP Sumatera Selatan kembali mencatatkan penguatan pada Agustus 2026. Angkanya menembus 150,53, naik 1,58 persen dibandingkan Juli yang berada di level 148,18.
Capaian tersebut menjadi angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir berdasarkan tren NTP Sumatera Selatan periode 2024 hingga Agustus 2026. Namun, di balik kenaikan tersebut, terdapat fakta lain yang menarik: nelayan justru mengalami penurunan daya tukar.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto melalui rilis resmi BPS menjelaskan, kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang harus dibayar petani.
Pada Agustus 2026, indeks harga yang diterima petani naik 1,73 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani hanya meningkat 0,14 persen. Kondisi tersebut membuat posisi ekonomi petani secara umum menguat.
BPS menjelaskan NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan atau daya beli petani di daerah perdesaan. Semakin tinggi nilainya, secara relatif semakin kuat pula kemampuan daya beli petani.
Penguatan NTP Sumsel tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah komoditas utama menjadi pendorong kenaikan harga yang diterima petani. Di antaranya karet, kopi, gabah, kelapa sawit, jagung, ayam ras pedaging, kacang panjang, terung, kelapa dan kakao.
Khusus subsektor perkebunan rakyat, NTP pada Agustus 2026 meningkat 1,60 persen.
BPS mencatat kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas perkebunan rakyat.
“Naiknya It di NTPR disebabkan naiknya harga komoditas dari kelompok tanaman perkebunan rakyat, khususnya karet, kopi dan kelapa sawit,” demikian penjelasan BPS dalam rilis resmi perkembangan NTP Sumatera Selatan Agustus 2026.
Baca Juga: Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
Bagi Sumatera Selatan, kenaikan tiga komoditas tersebut menjadi penting karena karet, kopi dan sawit memiliki basis ekonomi masyarakat yang luas di sejumlah daerah.
Selain perkebunan, tanaman pangan juga memberikan dorongan kuat terhadap kenaikan NTP. Subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan 1,79 persen, tertinggi dibandingkan sejumlah subsektor utama lainnya.
BPS mencatat kenaikan indeks harga tanaman pangan didorong oleh kelompok padi yang meningkat 1,62 persen serta kelompok palawija, terutama jagung yang naik 3,29 persen.
Data tersebut menunjukkan penguatan NTP Sumsel pada Agustus tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Ketika harga karet, kopi dan sawit meningkat di sektor perkebunan, petani tanaman pangan juga memperoleh dorongan dari gabah dan jagung.
BPS mencatat kenaikan harga terutama terjadi pada ayam ras pedaging yang meningkat 2,08 persen dan telur ayam ras yang naik 0,16 persen. “Pada Agustus 2026, NTPT subsektor peternakan mengalami kenaikan sebesar 0,90 persen,” demikian data BPS Sumatera Selatan.
Kenaikan harga yang diterima peternak sebesar 0,95 persen tercatat lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar sebesar 0,05 persen. Dengan kata lain, sebagian pelaku usaha peternakan juga mengalami perbaikan posisi daya tukar pada Agustus.
Berita Terkait
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Ketimpangan Sumsel Makin Rendah, Tapi Jurang Pengeluaran Kota dan Desa Masih Terasa
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Tapi 870 Ribu Warga Masih Hidup di Bawah Garis Miskin
-
BPS: Pengangguran Sumsel Naik Jadi 3,60 Persen, Pertanian Tetap Serap Terbanyak
-
Dekat Pabrik Pusri, Petani di Palembang Justru Mengeluh Pupuk Subsidi Sulit Didapat
Terpopuler
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Kronologi Kader PDIP Musyafirin Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai Berujung Usulan Pemecatan
- 4 Shio Ini Diprediksi Panen Cuan dan Sukses Besar di Tahun Kambing Api 2027
- Apakah 180 BPM Normal saat Lari? Ini Cara Menghitung Heart Rate Sesuai Usia
Pilihan
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
Terkini
-
Langit Palembang Sempat Cerah, Kabut Asap Kembali Pekat, BMKG Ungkap Faktor Pemicu
-
BRI Salurkan Kredit UMKM Rp1.235,4 Triliun, Dorong Ekonomi Inklusif
-
Jadwal Listrik Padam Palembang Pekan Ini, Cek Lokasi dan Jam Pemadaman
-
Kebakaran di Lorong Sabar Palembang, Belasan Rumah Diduga Hangus dan Warga Dievakuasi
-
Dari Temuan ke Perbaikan, Kilang Plaju Perkuat Budaya Kerja Proaktif dan Keselamatan Operasional