Tasmalinda
Jum'at, 04 September 2026 | 18:53 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono [dok bank indonesia sumsel]
Baca 10 detik
  • Sumatera Selatan mencatat inflasi bulanan sebesar 0,06 persen dan tahunan sebesar 2,60 persen pada Agustus 2026.
  • Kenaikan harga dipicu oleh daging ayam ras, emas perhiasan, beras, dan gangguan cuaca panas.
  • TPID Sumsel melaksanakan lebih dari 385 operasi pasar dan memperkuat kerja sama antarwilayah untuk mengendalikan inflasi.

SuaraSumsel.id - Inflasi Sumatera Selatan kembali bergerak pada Agustus 2026. Setelah mengalami deflasi pada bulan sebelumnya, tekanan harga mulai meningkat, meski masih berada dalam level yang relatif terkendali.

Di tengah ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu pasokan pangan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat pada tahun ajaran baru, Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada Agustus 2026.

Secara tahunan, inflasi Sumsel tercatat 2,60 persen year on year (yoy), naik tipis dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka 2,50 persen. Meski demikian, angka tersebut masih mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga di tengah berbagai potensi tekanan terhadap perekonomian daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, dalam rilis menyampaikan bahwa perkembangan inflasi tersebut mencerminkan pentingnya sinergi pengendalian harga untuk menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan kesejahteraan produsen.

“Capaian ini mencerminkan terjaganya stabilitas harga serta efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah, sehingga memberikan keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat sembari tetap memastikan kesejahteraan produsen,” katanya.

Pada Agustus 2026, tekanan inflasi terutama datang dari sejumlah komoditas utama. Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,33 persen, disusul emas perhiasan sebesar 0,07 persen, beras dan kacang panjang masing-masing 0,02 persen, serta jagung manis sebesar 0,01 persen.

Cuaca Panas Tekan Produktivitas Ayam

Kenaikan harga daging ayam ras tidak terlepas dari persoalan produktivitas di tengah kondisi cuaca panas. Pertumbuhan ayam yang tidak optimal menyebabkan masa pemeliharaan menjadi lebih panjang, sementara permintaan terus bergerak. Kombinasi tersebut kemudian memberi tekanan terhadap harga di tingkat konsumen.

Di sisi lain, harga emas perhiasan meningkat sejalan dengan perkembangan harga emas global yang mendorong penyesuaian harga di pasar domestik. Sementara harga beras juga mengalami tekanan akibat berkurangnya pasokan dari petani. Kondisi tersebut diperkuat oleh peningkatan kebutuhan bahan baku plastik kemasan di tengah kembali beroperasinya program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Baca Juga: Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Meski inflasi Agustus masih terkendali, tantangan berikutnya mulai terlihat. Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi pada September 2026 cenderung meningkat. Salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah potensi gangguan pasokan pangan hortikultura akibat fenomena El Nino.

Kondisi kemarau yang lebih kering dan curah hujan yang diperkirakan berada di bawah normal berpotensi memengaruhi produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan.

“Tekanan inflasi pada September 2026 diprakirakan akan cenderung meningkat, antara lain dipengaruhi oleh potensi gangguan pasokan pangan hortikultura imbas El Nino yang menyebabkan kondisi kemarau yang lebih kering dan curah hujan yang diprakirakan berada di bawah normal,” imbuhnya.

Selain faktor cuaca, aktivitas sekolah yang kembali berjalan penuh juga diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap sejumlah kebutuhan pangan. Komoditas seperti daging ayam ras dan telur ayam ras menjadi dua komoditas yang berpotensi mengalami peningkatan permintaan seiring normalisasi aktivitas masyarakat pada tahun ajaran baru.

Tekanan inflasi juga masih berpotensi datang dari pergerakan harga emas global.

Lebih dari 385 Operasi Pasar Digelar

Menghadapi berbagai potensi tekanan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi. Strategi pengendalian inflasi dijalankan melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Hingga akhir Agustus 2026, telah dilaksanakan lebih dari 385 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai wilayah Sumatera Selatan.

Selain itu, pemerintah dan TPID juga melakukan puluhan inspeksi mendadak atau sidak pasar untuk memastikan ketersediaan stok serta kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi.

Upaya stabilisasi juga diperkuat melalui subsidi harga dan subsidi ongkos angkut. Hingga Agustus 2026, Bank Indonesia Sumatera Selatan telah memfasilitasi subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali untuk berbagai komoditas pangan utama dengan total volume sekitar 47,92 ton.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran distribusi pangan dan menjaga pasokan di tengah masyarakat.

Bank Indonesia Sumatera Selatan juga mencatat pembelian bawang merah secara business to business dari Sumatera Barat sebanyak 22,67 ton, serta cabai dari Kabupaten Magelang sebanyak 3,68 ton untuk membantu meningkatkan ketersediaan pasokan di Sumsel.

Perkuat Kerja Sama Antarwilayah

Pengendalian inflasi juga tidak hanya dilakukan melalui operasi pasar. Hingga Agustus 2026, pemerintah daerah di Sumatera Selatan terus memperkuat kerja sama antarwilayah, termasuk dengan pemerintah daerah di Jawa Tengah.

Tercatat terdapat tambahan 8 Kesepakatan Bersama (KSB) dan 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) antarpemerintah daerah dalam skema government to government.

Sementara kerja sama business to business juga diperkuat melalui empat perjanjian kerja sama. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia ketika terjadi gangguan produksi di satu wilayah.

Ketahanan Pangan Jadi Kunci

Di tengah ancaman perubahan iklim dan dinamika harga pangan, penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu fokus penting Sumatera Selatan. Program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan atau GSMP kini telah ditransformasikan menjadi Rantai Pasok Pangan GSMP.

Program tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk pesantren dan koperasi, dalam membangun ekosistem produksi dan distribusi pangan.

Penguatan dilakukan melalui business matching dengan offtaker serta finance matching dengan perbankan untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui akses pembiayaan.

Bank Indonesia Sumatera Selatan bersama pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi, menjaga stabilitas harga, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Di tengah bayang-bayang El Nino, tantangan inflasi Sumatera Selatan kini bukan hanya soal menjaga harga tetap stabil. Lebih jauh, kemampuan daerah dalam memastikan pangan tetap tersedia, distribusi tetap lancar, dan masyarakat tetap memiliki daya beli akan menjadi ujian penting bagi ketahanan ekonomi Sumsel dalam beberapa bulan mendatang.

Load More