Tasmalinda
Senin, 24 Agustus 2026 | 19:31 WIB
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat Karhutla Sumatera Selatan di Palembang
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Sumatera Selatan pada Senin, 24 Agustus 2026, untuk memimpin rapat penanganan karhutla.
  • Kepala BPBD melaporkan akumulasi 12.956 hotspot, 1.926 hektare lahan terbakar, serta kualitas udara Palembang yang sangat tidak sehat.
  • Pemerintah mengerahkan 11.567 personel gabungan, tujuh helikopter, dan operasi modifikasi cuaca untuk menanggulangi karhutla yang masih fluktuatif.

Persoalan karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Dalam laporan BPBD, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumsel turut menjadi perhatian. Dari pemantauan ISPU di sejumlah daerah, hanya Musi Rawas dan Ogan Komering Ulu Selatan yang berada dalam kategori baik. Sementara itu, Kota Palembang masuk kategori sangat tidak sehat.

Kondisi ini memberikan gambaran berbeda dari sekadar melihat grafik hotspot.

Api dapat berada jauh dari pusat kota, tetapi asapnya tetap memengaruhi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan. Kondisi geografis Palembang yang berada di wilayah cekungan juga disebut membuat asap cenderung bertahan di kawasan kota.

Prabowo datang saat situasi karhutla masih fluktuatif

Presiden Prabowo tiba di Palembang pada Senin (24/8/2026) dan langsung memimpin rapat penanganan karhutla Sumsel. Rapat tersebut membahas penanganan karhutla di Sumsel serta koordinasi untuk wilayah Sumatera lainnya.

Kedatangan Presiden terjadi ketika pemerintah menghadapi dua gambaran yang tampak bertolak belakang: hotspot harian turun, tetapi akumulasi hotspot Agustus melonjak dan dampak asap masih terasa.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah hotspot turun pada 23 Agustus.

Pertanyaannya adalah apakah penurunan tersebut akan bertahan dalam beberapa hari berikutnya. Jika angka kembali melonjak setelah penurunan sehari, grafik tersebut lebih tepat dibaca sebagai fluktuasi hotspot daripada tanda bahwa krisis karhutla telah berakhir.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Sumsel telah mengerahkan 11.567 personel gabungan dari berbagai unsur, termasuk BPBD, TNI, Polri, Lanud, Manggala Agni, Polhut, Satpol PP, Masyarakat Peduli Api, hingga tim perusahaan.

Baca Juga: Viral, Kawasan Lereng Gunung Jempol Lahat Terbakar

Penanganan juga diperkuat melalui operasi udara. Sumsel mendapat dukungan dua helikopter patroli dan lima helikopter water bombing.

Selain itu, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan dalam beberapa sesi. Operasi terakhir dimulai pada 22 Agustus dan dijadwalkan berlangsung hingga 26 Agustus 2026.

Kementerian Kehutanan sebelumnya juga memperkuat operasi terpadu di Sumsel dengan tambahan personel serta pemadaman darat dan udara. Hingga 23 Agustus, operasi difokuskan antara lain di OKI, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin.

Belum waktunya menyebut karhutla mulai reda

Penurunan dari 1.742 menjadi 1.344 hotspot memang patut dicatat. Namun, angka tersebut baru menggambarkan satu potongan waktu dari krisis yang lebih besar. Hingga 23 Agustus, Sumsel telah mencatat 12.956 hotspot sepanjang tahun, dengan 8.044 di antaranya terjadi hanya pada Agustus, 1.926 hektare lahan terbakar, dan 1.723 kejadian karhutla.

Maka, kedatangan Presiden Prabowo ke Sumsel bukan sekadar soal melihat angka hotspot yang sedang turun. Hal yang jauh lebih menentukan adalah apakah seluruh operasi pemadaman, water bombing, modifikasi cuaca, penguatan personel, dan pencegahan mampu membuat penurunan tersebut bertahan, sekaligus menekan kebakaran yang masih aktif.

Load More