- Kebakaran hutan dan lahan di Palembang menyebabkan udara memburuk serta mengganggu jarak pandang penerbangan bandara.
- Dinas Kesehatan membagikan sepuluh ribu masker gratis pada Minggu, 23 Agustus 2026, untuk mengantisipasi gangguan kesehatan warga.
- DPRD Sumatera Selatan mendesak agar sistem pembelajaran dialihkan dari rumah akibat peningkatan polusi asap.
SuaraSumsel.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin terasa di Palembang. Kualitas udara memburuk, warga mulai diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker, bahkan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sempat turun hingga 500 meter dan mengganggu sejumlah penerbangan. Namun, aktivitas sekolah di Palembang belum dihentikan.
Pertanyaannya, kapan sebenarnya sekolah di Palembang dan Sumatera Selatan akan diliburkan atau dialihkan menjadi pembelajaran dari rumah? Pertanyaan ini semakin relevan setelah DPRD Sumsel meminta siswa belajar dari rumah menyusul memburuknya kualitas udara akibat karhutla.
Sekolah belum diliburkan, tetapi opsi sudah disiapkan
Pemerintah Sumatera Selatan sebelumnya memang telah membuka kemungkinan menghentikan sementara kegiatan sekolah apabila kondisi udara semakin memburuk.
BPBD Sumsel menyatakan opsi peliburan sekolah dapat direkomendasikan apabila kualitas udara sudah mengganggu kesehatan masyarakat.
Artinya, peliburan sekolah bukan tidak mungkin dilakukan. Persoalannya adalah kapan pemerintah menilai kondisi tersebut sudah memenuhi ambang yang dianggap membahayakan.
Di sinilah muncul pertanyaan publik: apakah harus menunggu udara masuk kategori berbahaya terlebih dahulu sebelum anak-anak tidak lagi diwajibkan beraktivitas di luar rumah?
Palembang sudah diminta memakai masker
Dinas Kesehatan Kota Palembang pada Minggu (23/8/2026) mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan kabut asap. Pemerintah Kota Palembang juga menyiapkan 10.000 masker gratis bagi warga.
Baca Juga: Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
Imbauan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah melihat kondisi udara sebagai persoalan kesehatan yang perlu diantisipasi.
Namun, anak-anak sekolah menghadapi situasi yang berbeda.
Mereka tidak hanya keluar rumah untuk beberapa menit. Mereka harus melakukan perjalanan menuju sekolah, berada di lingkungan sekolah selama berjam-jam dan dalam sejumlah kegiatan masih mungkin melakukan aktivitas di luar ruangan.
Karena itu, pertanyaan tentang sekolah menjadi lebih penting dibanding sekadar imbauan memakai masker.
DPRD mulai mendorong belajar dari rumah
Desakan untuk mengubah pola pembelajaran mulai muncul dari DPRD Sumsel. Anggota DPRD Sumsel Fajar Febriansyah meminta siswa mempertimbangkan pembelajaran dari rumah ketika kualitas udara akibat karhutla semakin buruk.
Berita Terkait
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Kabut Asap Karhutla Ganggu Bandara SMB II Palembang, 6 Penerbangan Harus Tertunda
-
Kabut Asap Selimuti Palembang, Warga Tetap CFD: Sehat atau Malah Berisiko?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?