Tasmalinda
Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:31 WIB
Sejumlah pelajar berangkat sekolah menggunakan perahu tradisional melewati kawasan yang diselimuti kabut asap di Sungai Ogan, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (13/8/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU]
Baca 10 detik
  • Kebakaran hutan dan lahan di Palembang menyebabkan udara memburuk serta mengganggu jarak pandang penerbangan bandara.
  • Dinas Kesehatan membagikan sepuluh ribu masker gratis pada Minggu, 23 Agustus 2026, untuk mengantisipasi gangguan kesehatan warga.
  • DPRD Sumatera Selatan mendesak agar sistem pembelajaran dialihkan dari rumah akibat peningkatan polusi asap.

SuaraSumsel.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin terasa di Palembang. Kualitas udara memburuk, warga mulai diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker, bahkan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sempat turun hingga 500 meter dan mengganggu sejumlah penerbangan. Namun, aktivitas sekolah di Palembang belum dihentikan.

Pertanyaannya, kapan sebenarnya sekolah di Palembang dan Sumatera Selatan akan diliburkan atau dialihkan menjadi pembelajaran dari rumah? Pertanyaan ini semakin relevan setelah DPRD Sumsel meminta siswa belajar dari rumah menyusul memburuknya kualitas udara akibat karhutla.

Sekolah belum diliburkan, tetapi opsi sudah disiapkan

Pemerintah Sumatera Selatan sebelumnya memang telah membuka kemungkinan menghentikan sementara kegiatan sekolah apabila kondisi udara semakin memburuk.

BPBD Sumsel menyatakan opsi peliburan sekolah dapat direkomendasikan apabila kualitas udara sudah mengganggu kesehatan masyarakat.

Artinya, peliburan sekolah bukan tidak mungkin dilakukan. Persoalannya adalah kapan pemerintah menilai kondisi tersebut sudah memenuhi ambang yang dianggap membahayakan.

Di sinilah muncul pertanyaan publik: apakah harus menunggu udara masuk kategori berbahaya terlebih dahulu sebelum anak-anak tidak lagi diwajibkan beraktivitas di luar rumah?

Palembang sudah diminta memakai masker

Dinas Kesehatan Kota Palembang pada Minggu (23/8/2026) mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan kabut asap. Pemerintah Kota Palembang juga menyiapkan 10.000 masker gratis bagi warga.

Baca Juga: Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan

Imbauan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah melihat kondisi udara sebagai persoalan kesehatan yang perlu diantisipasi.

Namun, anak-anak sekolah menghadapi situasi yang berbeda.

Mereka tidak hanya keluar rumah untuk beberapa menit. Mereka harus melakukan perjalanan menuju sekolah, berada di lingkungan sekolah selama berjam-jam dan dalam sejumlah kegiatan masih mungkin melakukan aktivitas di luar ruangan.

Karena itu, pertanyaan tentang sekolah menjadi lebih penting dibanding sekadar imbauan memakai masker.

DPRD mulai mendorong belajar dari rumah

Desakan untuk mengubah pola pembelajaran mulai muncul dari DPRD Sumsel. Anggota DPRD Sumsel Fajar Febriansyah meminta siswa mempertimbangkan pembelajaran dari rumah ketika kualitas udara akibat karhutla semakin buruk.

Load More