Tasmalinda
Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:46 WIB
kenali tanda-tanda anak mulai terpapar kabut asap.
Baca 10 detik
  • Dokter Rista Lestari dari IDI Pontianak mengingatkan orang tua melindungi anak dari kabut asap.
  • Anak menunjukkan gangguan pernapasan melalui kelelahan, rewel, perubahan perilaku, serta pola makan yang tidak biasa.
  • Orang tua wajib membatasi aktivitas luar ruangan anak saat kualitas udara memburuk tanpa menunggu munculnya sakit.

SuaraSumsel.id - Dear Mom, ketika kabut asap mulai menyelimuti kota, perhatian orang tua biasanya tertuju pada satu hal: apakah anak mulai batuk?

Padahal, gangguan akibat udara tercemar tidak selalu dimulai dengan batuk. Anak bisa terlihat lebih cepat lelah, aktivitasnya menurun, pola makan dan minumnya berubah, atau menjadi lebih rewel. Pada bayi dan balita, tanda-tanda gangguan pernapasan bahkan bisa sulit dikenali karena mereka belum mampu menjelaskan apa yang dirasakan.

Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak, dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc, mengingatkan orang tua agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk mulai melindungi anak dari paparan kabut asap. Menurutnya, paru-paru anak masih berkembang sehingga paparan polutan menjadi perhatian khusus.

“Kabut asap adalah persoalan kesehatan anak,” kata Rista.

Dear Mom, anak belum tentu bilang sesak

Ada alasan mengapa orang tua perlu lebih jeli ketika kualitas udara memburuk. Anak yang lebih besar mungkin hanya mengatakan dirinya lelah. Balita bisa menjadi lebih rewel dari biasanya. Sementara bayi tidak dapat mengatakan bahwa napasnya terasa tidak nyaman.

Karena itu, perubahan kecil pada perilaku anak patut diperhatikan. Apakah anak yang biasanya aktif tiba-tiba lebih banyak diam? lalu, apakah ia cepat lelah ketika bermain?, apakah makan dan minumnya berubah?

dan apakah napasnya terlihat berbeda dari biasanya?

Menurut Rista, perubahan cara bernapas, penurunan aktivitas, gangguan makan dan minum hingga perubahan perilaku merupakan hal yang perlu diperhatikan orang tua ketika kabut asap terjadi.

Baca Juga: Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?

Paru anak masih dalam masa berkembang

Persoalannya bukan sekadar anak menghirup udara yang terasa tidak nyaman. Menurut Rista, paru-paru anak yang masih berkembang membuat paparan polutan menjadi perhatian tersendiri. Setiap kali anak menghirup udara tercemar, terdapat paparan polutan yang masuk ke tubuhnya.

Karena itu, kabut asap sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan atau dampak karhutla.

Bagi keluarga, kabut asap juga merupakan persoalan kesehatan sehari-hari.

Anak tetap harus berangkat sekolah, bermain, berolahraga dan beraktivitas. Di sinilah orang tua perlu mengambil keputusan berdasarkan kondisi udara, bukan semata-mata rutinitas.

Kalau udara buruk, bermain di luar masih perlu? Jawabannya tidak harus menunggu anak sakit.

Load More