- Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Sumatera Selatan pada Senin, 24 Agustus 2026, untuk memimpin rapat penanganan karhutla.
- Kepala BPBD melaporkan akumulasi 12.956 hotspot, 1.926 hektare lahan terbakar, serta kualitas udara Palembang yang sangat tidak sehat.
- Pemerintah mengerahkan 11.567 personel gabungan, tujuh helikopter, dan operasi modifikasi cuaca untuk menanggulangi karhutla yang masih fluktuatif.
SuaraSumsel.id - Presiden Prabowo Subianto tiba di Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026), di tengah lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di hari yang sama, jumlah hotspot yang terpantau justru mengalami penurunan dalam pemantauan harian. Namun, apakah penurunan tersebut benar-benar menandakan karhutla di Sumsel mulai mereda?
Kepala BPBD Sumatera Selatan, Dr. M. Iqbal Alisyahbana, S.STP., M.M., dalam koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa akumulasi hotspot di Sumsel sepanjang 2026 telah mencapai 12.956 titik hingga 23 Agustus. “Jumlah titik hotspot ini sangat meningkat di bulan Agustus ini,” kata Iqbal dalam laporan yang disampaikan kepada Presiden.
Angka tersebut menunjukkan persoalan yang dihadapi Prabowo saat datang ke Sumsel bukan kebakaran biasa. Dari total hotspot sepanjang tahun itu, sebanyak 8.044 titik tercatat hanya sepanjang Agustus hingga 23 Agustus. Sementara pada Juli, jumlah hotspot tercatat 2.096 titik.
Data pemantauan menunjukkan hotspot Sumsel sempat mencapai 1.742 titik pada 22 Agustus 2026. Sehari kemudian, angka tersebut turun menjadi 1.344 titik. Penurunan 398 titik dalam sehari memang terlihat cukup besar. Namun, angka itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa karhutla Sumsel mulai reda atau telah terkendali.
Terlebih, penurunan hotspot harian tersebut terjadi setelah lonjakan tajam dalam beberapa hari sebelumnya. Pada 20 Agustus tercatat 449 titik, kemudian naik menjadi 600 titik pada 21 Agustus. Angkanya kembali melonjak menjadi 1.742 titik pada 22 Agustus, sebelum turun menjadi 1.344 titik pada 23 Agustus.
Dengan kata lain, grafik memang bergerak turun pada 23 Agustus, tetapi masih berada pada level tinggi.
Ada hal penting yang perlu dicatat: hotspot tidak sama dengan titik kebakaran. Hotspot merupakan indikasi panas yang terdeteksi melalui satelit dan tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah benar merupakan kebakaran.
OKI menjadi episentrum hotspot
Dalam laporan kepada Presiden, Iqbal juga menunjukkan wilayah yang paling banyak menyumbang hotspot. Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 2.435 titik. Berikutnya Musi Banyuasin dengan 2.139 titik dan Muara Enim dengan 1.909 titik.
Baca Juga: Viral, Kawasan Lereng Gunung Jempol Lahat Terbakar
Tiga wilayah tersebut penting karena bukan hanya memiliki jumlah hotspot tinggi, tetapi juga berulang kali menjadi fokus penanganan karhutla di Sumsel.
Kementerian Kehutanan sebelumnya juga menyebut OKI, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin sebagai wilayah yang menjadi perhatian utama dalam penanganan karhutla Sumsel. Luas lahan terbakar sudah mencapai 1.926 hektare
Di balik angka hotspot, terdapat fakta lain yang membuat situasi Sumsel belum bisa dianggap aman.
Hingga 23 Agustus 2026, luas lahan terbakar di Sumsel mencapai 1.926 hektare. Pada periode yang sama, BPBD Sumsel mencatat 1.723 kejadian karhutla.
Artinya, penurunan hotspot dalam satu hari tidak otomatis menghapus persoalan kebakaran yang sudah terjadi sebelumnya. Bahkan, angka tersebut juga belum menjawab apakah masih ada titik api aktif yang berpotensi meluas.
Palembang justru menghadapi masalah asap
Persoalan karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Dalam laporan BPBD, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumsel turut menjadi perhatian. Dari pemantauan ISPU di sejumlah daerah, hanya Musi Rawas dan Ogan Komering Ulu Selatan yang berada dalam kategori baik. Sementara itu, Kota Palembang masuk kategori sangat tidak sehat.
Kondisi ini memberikan gambaran berbeda dari sekadar melihat grafik hotspot.
Api dapat berada jauh dari pusat kota, tetapi asapnya tetap memengaruhi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan. Kondisi geografis Palembang yang berada di wilayah cekungan juga disebut membuat asap cenderung bertahan di kawasan kota.
Prabowo datang saat situasi karhutla masih fluktuatif
Presiden Prabowo tiba di Palembang pada Senin (24/8/2026) dan langsung memimpin rapat penanganan karhutla Sumsel. Rapat tersebut membahas penanganan karhutla di Sumsel serta koordinasi untuk wilayah Sumatera lainnya.
Kedatangan Presiden terjadi ketika pemerintah menghadapi dua gambaran yang tampak bertolak belakang: hotspot harian turun, tetapi akumulasi hotspot Agustus melonjak dan dampak asap masih terasa.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah hotspot turun pada 23 Agustus.
Pertanyaannya adalah apakah penurunan tersebut akan bertahan dalam beberapa hari berikutnya. Jika angka kembali melonjak setelah penurunan sehari, grafik tersebut lebih tepat dibaca sebagai fluktuasi hotspot daripada tanda bahwa krisis karhutla telah berakhir.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Sumsel telah mengerahkan 11.567 personel gabungan dari berbagai unsur, termasuk BPBD, TNI, Polri, Lanud, Manggala Agni, Polhut, Satpol PP, Masyarakat Peduli Api, hingga tim perusahaan.
Penanganan juga diperkuat melalui operasi udara. Sumsel mendapat dukungan dua helikopter patroli dan lima helikopter water bombing.
Selain itu, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan dalam beberapa sesi. Operasi terakhir dimulai pada 22 Agustus dan dijadwalkan berlangsung hingga 26 Agustus 2026.
Kementerian Kehutanan sebelumnya juga memperkuat operasi terpadu di Sumsel dengan tambahan personel serta pemadaman darat dan udara. Hingga 23 Agustus, operasi difokuskan antara lain di OKI, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin.
Belum waktunya menyebut karhutla mulai reda
Penurunan dari 1.742 menjadi 1.344 hotspot memang patut dicatat. Namun, angka tersebut baru menggambarkan satu potongan waktu dari krisis yang lebih besar. Hingga 23 Agustus, Sumsel telah mencatat 12.956 hotspot sepanjang tahun, dengan 8.044 di antaranya terjadi hanya pada Agustus, 1.926 hektare lahan terbakar, dan 1.723 kejadian karhutla.
Maka, kedatangan Presiden Prabowo ke Sumsel bukan sekadar soal melihat angka hotspot yang sedang turun. Hal yang jauh lebih menentukan adalah apakah seluruh operasi pemadaman, water bombing, modifikasi cuaca, penguatan personel, dan pencegahan mampu membuat penurunan tersebut bertahan, sekaligus menekan kebakaran yang masih aktif.
Jika hotspot kembali melonjak setelah kunjungan Presiden, penurunan sehari itu akan menjadi catatan penting: apakah Sumsel memang mulai keluar dari krisis, atau sekadar mengalami jeda dalam lonjakan karhutla?
Tag
Berita Terkait
-
Viral, Kawasan Lereng Gunung Jempol Lahat Terbakar
-
Prabowo ke Sumsel Cek Karhutla, Akankah Kembali Tanpa Masker di Tengah Kabut Asap?
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana
-
Perkuat Keamanan Ruang Udara Obvitnas, Kilang Plaju Jalani Assessment AIP dan Supervisi SMP
-
Ratu Dewa Target Macet Palembang Turun 40 Persen dalam 90 Hari, Mungkinkah?
-
Bukan Water Bombing, Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' dari Singkong Atasi Karhutla