Tasmalinda
Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:30 WIB
angka pengangguran di Sumatera Selatan meningkat pada medio tahun 2026.
Baca 10 detik
  • BPS Sumsel melaporkan Tingkat Pengangguran Terbuka Mei 2026 naik tipis menjadi 3,60 persen dengan jumlah pengangguran 165 ribu orang.
  • Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penyerapan tenaga kerja terbesar di Sumatera Selatan mencapai 46,81 persen.
  • Tingkat pengangguran tertinggi di Sumatera Selatan justru berasal dari kelompok lulusan perguruan tinggi yang mencapai 7,19 persen.

SuaraSumsel.id - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 mencapai 3,60 persen atau naik tipis dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 3,59 persen. Di sisi lain, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung lapangan kerja dengan menyerap hampir separuh tenaga kerja di Sumsel.

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan Moh. Wahyu Yulianto, S.Si., S.ST., M.Si. dalam rilis resmi statistik yang digelar pada Rabu (5/8/2026).

Menurut Wahyu, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukkan jumlah angkatan kerja di Sumsel mencapai 4,59 juta orang, dengan 4,42 juta orang bekerja dan sekitar 165 ribu orang masih menganggur. Dibandingkan Februari 2026, jumlah penduduk bekerja berkurang sekitar 169 ribu orang, sementara tingkat pengangguran naik tipis menjadi 3,60 persen.

"Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 sebesar 3,60 persen, naik 0,01 persen poin dibanding Februari 2026," demikian data yang dipaparkan BPS Sumsel.

Di tengah berbagai perubahan struktur ekonomi, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sumatera Selatan.

BPS mencatat sebanyak 2,07 juta orang atau 46,81 persen dari total penduduk bekerja menggantungkan mata pencahariannya pada sektor tersebut. Posisi berikutnya ditempati sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 13,59 persen, disusul Konstruksi sebesar 5,63 persen.

Meski tetap mendominasi, dinamika pasar kerja menunjukkan adanya pergeseran. Dibandingkan Februari 2026, sektor konstruksi justru mencatat penambahan pekerja terbesar, sedangkan sektor perdagangan mengalami penurunan jumlah tenaga kerja paling banyak.

Ironi, Lulusan Sarjana Justru Punya Tingkat Pengangguran Tertinggi

Temuan lain yang menjadi perhatian dalam rilis BPS adalah tingkat pengangguran berdasarkan pendidikan.

Baca Juga: BI Sumsel Beberkan Kunci Inflasi Tetap Terkendali Meski El Nino dan Tahun Ajaran Baru

Alih-alih didominasi lulusan pendidikan rendah, tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 yang mencapai 7,19 persen. Posisi berikutnya ditempati lulusan SMK sebesar 7,02 persen dan SMA sebesar 6,22 persen. Sementara itu, lulusan SD ke bawah mencatat tingkat pengangguran paling rendah, yakni 0,51 persen.

Data ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum otomatis menjamin seseorang lebih cepat memperoleh pekerjaan, terutama di tengah dinamika kebutuhan pasar kerja.

BPS juga mencatat adanya peningkatan proporsi pekerja formal di Sumsel menjadi 38,32 persen, naik dibanding Februari 2026.

Namun demikian, mayoritas penduduk bekerja masih berada di sektor informal yang mencapai 61,68 persen, mulai dari pelaku usaha mandiri, pekerja keluarga, hingga pekerja bebas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi menuju pekerjaan formal masih menjadi tantangan, meskipun terdapat tren perbaikan dibandingkan survei sebelumnya.

Gambaran Pasar Kerja Sumsel

Load More