Tasmalinda
Minggu, 26 Juli 2026 | 22:52 WIB
pertunjukan wayang Palembang di Taman Budaya Jakabaring, Minggu (26/7/2024)
Baca 10 detik
  • Ratusan pelajar menyaksikan pementasan lakon Bambang Tuseno di Taman Budaya Sriwijaya pada Minggu, 26 Juli 2026.
  • Kegiatan pelestarian budaya ini diselenggarakan oleh Rumah Sri Ksetra dengan dukungan Dana Indonesiana 2025 untuk memperkenalkan seni tradisional.
  • Agung Saputro menyatakan bahwa pementasan ini bertujuan agar generasi muda memahami warisan seni dan identitas budaya daerah.

SuaraSumsel.id - Cahaya lampu perlahan menerpa kelir, sementara jemari sang dalang menghidupkan tokoh-tokoh wayang yang menari mengikuti irama gamelan. Selama hampir dua jam, ratusan pelajar larut dalam lakon Bambang Tuseno. Mereka bukan sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan, melainkan diajak menelusuri jejak warisan budaya yang perlahan kembali menemukan ruangnya di tengah generasi muda.

Di balik setiap gerak wayang, tersimpan ikhtiar untuk menghidupkan kembali Wayang Palembang, kesenian tradisi yang pernah berkembang di lingkungan Kesultanan Palembang, namun sempat meredup diterpa perubahan zaman.

Dalang senior Kiagus Wirawan Rusdi mengatakan Wayang Palembang sejak dahulu bukan sekadar tontonan, melainkan media yang menyampaikan petuah kehidupan, nilai moral, hingga ajaran tentang budi pekerti. "Lewat wayang, kami ingin menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Hiburan hanyalah pintu masuk, tetapi yang ingin kami tinggalkan kepada penonton adalah pelajaran hidup," ujarnya usai pementasan di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, Minggu (26/7/2026).

Dalam lakon Bambang Tuseno yang diadaptasi dari epos Ramayana, pesan itu diwujudkan melalui kisah seorang anak yang tidak pernah mengenal ayahnya sejak lahir. Meski demikian, ia tumbuh dengan menjunjung tinggi bakti kepada ibunya hingga akhir hayat. "Pesan yang ingin kami sampaikan sederhana, tetapi sangat penting. Seorang anak harus menghormati orang tua, terutama ibunya," kata Kiagus.

Baginya, nilai-nilai seperti itulah yang membuat Wayang Palembang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Pertunjukan wayang bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter yang dapat diterima lintas generasi.

Wayang Palembang memiliki kekhasan yang membedakannya dari wayang kulit di Jawa. Diperkirakan mulai berkembang di Palembang sejak abad ke-17, kesenian ini tumbuh di lingkungan Kesultanan Palembang sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dan Melayu.

Bahasa Palembang digunakan dalam dialog para tokohnya, sementara bentuk busana wayang disesuaikan dengan identitas lokal yang kaya akan ornamen serta dominasi warna merah dan keemasan, warna yang lekat dengan kebudayaan Palembang.

Keunikan itu menjadikan Wayang Palembang bukan sekadar adaptasi dari tradisi Jawa, melainkan sebuah ekspresi budaya yang memiliki identitas dan karakter tersendiri. Namun perjalanan kesenian ini tidak selalu mulus. Seiring perubahan pola hiburan masyarakat, Wayang Palembang sempat mengalami masa surut.

Kini, menurut Kiagus Wirawan, hanya tersisa satu sanggar miliknya yang masih aktif melestarikannya. Karena itu, memperkenalkan Wayang Palembang kepada generasi muda menjadi langkah penting agar warisan budaya tersebut tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi tetap hidup melalui pengetahuan dan pengalaman langsung.

Baca Juga: Modus Bisnis Ayam Untung Rp750 Ribu Sehari, IRT di Palembang Kehilangan Rp1 Miliar

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan, Agung Saputro, mengapresiasi upaya Rumah Sri Ksetra yang menghadirkan Wayang Palembang sebagai ruang belajar budaya bagi generasi muda.

"Wayang Palembang merupakan bagian dari kekayaan budaya Sumatera Selatan yang perlu terus dikenalkan. Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memahami bahwa daerahnya memiliki warisan seni pertunjukan yang menjadi bagian dari identitas budaya," ujarnya.

Agung berharap program pelestarian budaya berbasis komunitas semacam ini dapat terus diperluas sehingga semakin banyak anak muda yang terlibat secara langsung dalam mengenal, mempelajari, hingga mencintai kesenian tradisional daerahnya. "Program Dana Indonesiana seperti ini hendaknya lebih meluas pada upaya-upaya pelestarian budaya kepada generasi muda," katanya.

Menjadikan Wayang sebagai Identitas Budaya

Ketua Rumah Sri Ksetra, Nopri Ismi, mengatakan kegiatan "Menyelamatkan Wayang Palembang di Sungai Musi: Merayakan Wayang Palembang Bersama Generasi Muda" diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus menjadikan Wayang Palembang sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

"Harapan kami, kegiatan ini mendorong generasi muda untuk menjadikan Wayang Palembang sebagai salah satu seni yang dapat menjadi simbol identitasnya, dalam menjelaskan harapan dan nilai-nilai dalam kehidupannya," ujar Nopri.

Load More