- Sumur minyak ilegal di Kabupaten Musi Banyuasin kembali meledak pasca aparat gabungan melaksanakan kegiatan razia penertiban.
- Aktivitas pengeboran tanpa izin terus berulang karena faktor ekonomi masyarakat, lemahnya pengawasan, serta adanya jaringan distribusi minyak.
- Ledakan tersebut berdampak pada ancaman keselamatan jiwa, kerusakan lingkungan, hingga potensi kerugian negara dari sektor industri migas.
SuaraSumsel.id - Kebakaran kembali terjadi di lokasi pengeboran minyak masyarakat di Desa Keban I, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Kamis (25/6/2026) malam. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 21.30 WIB itu kembali menambah daftar panjang insiden kebakaran di sumur minyak ilegal yang dalam beberapa tahun terakhir berulang kali terjadi di wilayah Muba.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, kobaran api menghanguskan area sekitar sumur bor serta membakar sejumlah sepeda motor milik para pekerja yang berada di lokasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kebakaran terjadi saat proses pengeboran masih berlangsung di sumur yang diduga milik seorang warga berinisial R. Saat itu, seorang pekerja yang bertugas menarik minyak tengah menaikkan dan menurunkan pipa canting ke dalam pipa besi galvanis.
Dugaan sementara, gesekan antara pipa memunculkan percikan api yang kemudian menyambar uap hidrokarbon dan material mudah terbakar di sekitar lokasi pengeboran. Dalam hitungan menit, api membesar dan merambat ke area parkir kendaraan pekerja.
Melihat kobaran api semakin membesar, para pekerja berusaha menyelamatkan diri sambil meminta bantuan kepada rekan-rekan mereka di pondok sekitar lokasi. Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.00 WIB sehingga tidak sempat menjalar ke area yang lebih luas.
Mengapa Kebakaran Sering Terjadi?
Insiden ini kembali memunculkan pertanyaan yang terus berulang setiap kali kebakaran terjadi di kawasan sumur minyak ilegal Muba: mengapa lokasi pengeboran masyarakat begitu rentan terbakar?
Secara umum, aktivitas pengeboran tradisional memiliki risiko tinggi karena melibatkan minyak mentah dan gas yang mudah menguap. Sedikit percikan api akibat gesekan logam, korsleting listrik, mesin yang terlalu panas, atau sumber api terbuka dapat memicu kebakaran apabila bertemu uap hidrokarbon yang mudah terbakar.
Selain itu, sebagian besar lokasi pengeboran masyarakat menggunakan peralatan sederhana dan berada di area terbuka, sehingga penerapan standar keselamatan kerja tidak selalu sama dengan kegiatan eksplorasi migas yang dilakukan secara resmi.
Baca Juga: Rp160 Miliar Diduga Tak Pernah Masuk Kas Daerah, Aktor Utama Korupsi Sungai Lalan Dibidik
Meski demikian, penyebab pasti kebakaran dalam setiap kasus tetap harus dipastikan melalui penyelidikan aparat kepolisian.
Kasi Humas Polres Musi Banyuasin AKP Hutahaean mengatakan penyidik masih melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut. Petugas dari Satreskrim Polres Muba telah mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta meminta keterangan sejumlah saksi guna memastikan penyebab pasti kebakaran.
"Hingga saat ini penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan," kata AKP Hutahaean.
Kebakaran di lokasi pengeboran minyak masyarakat bukan kali pertama terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden serupa berulang di berbagai titik pengeboran yang dikelola masyarakat.
Berulangnya kejadian tersebut menunjukkan bahwa persoalan keselamatan kerja di kawasan pengeboran minyak masyarakat masih menjadi tantangan. Selain mengancam keselamatan pekerja, kebakaran juga berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan kerugian material apabila tidak segera ditangani.
Penyelidikan polisi diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kebakaran sekaligus menjadi bahan evaluasi agar insiden serupa tidak terus berulang.
Tag
Berita Terkait
-
Rp160 Miliar Diduga Tak Pernah Masuk Kas Daerah, Aktor Utama Korupsi Sungai Lalan Dibidik
-
Koalisi Anti Mafia Tanah Sumsel Kecam Penetapan 4 Petani Muba sebagai Tersangka
-
Konflik Agraria Muba Memanas, 3 Petani Jadi Tersangka Usai Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
Kebakaran Bus Jakarta - Padang di Muba: Fakta Terbaru, Dugaan Penyebab, dan Kondisi Penumpang-
-
Cadangan Minyak Baru Ditemukan di Musi Banyuasin, Produksi Pertamina Capai 1.857 Barel per Hari
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
- 4 Zodiak Paling Beruntung pada 27 Juni 2026, Siap-siap Jadi Magnet Uang
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
Pilihan
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
Terkini
-
Detik-detik Pajero Terbakar di Tol Kayuagung-Palembang, Polisi Ungkap Dugaan Penyebabnya
-
Update Harga Emas Hari Ini, Antam 1 Gram Rp2,66 Juta, Perhiasan Tembus Rp14,7 Juta per Suku
-
Peserta Latsarmil Koperasi Merah Putih Asal Baturaja Meninggal, Disebut Alami Henti Jantung
-
Hari Ketiga GPR x DKG 2026 Semarak, Wadah Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi Kreatif
-
Festival Lahan Basah Tempirai Hidupkan Lagi Joadah, Kuliner Beras Hitam Masyarakat Musi