Tasmalinda
Minggu, 28 Juni 2026 | 11:25 WIB
Kuliner beras hitam yang kembali dimasak di Festival Lahan Basah
Baca 10 detik
  • Masyarakat Tempirai, Sumatera Selatan, melestarikan kuliner tradisional Joadah berbahan beras hitam melalui Festival Lahan Basah tahunan.
  • Proses memasak Joadah dilakukan secara gotong royong menggunakan metode tradisional sebagai simbol kebersamaan dan nilai budaya masyarakat.
  • Tradisi ini menjaga keberlanjutan varietas padi lokal serta mempererat hubungan harmonis antara masyarakat dengan ekosistem lahan basah.

SuaraSumsel.id - Di atas tungku kayu bakar, sebuah kuali besi berdiameter hampir satu meter terus diaduk tanpa henti. Asap tipis mengepul bersama aroma kelapa sangrai yang memenuhi udara. Sedikit demi sedikit, adonan berwarna hitam berubah menjadi liat, mengilap, dan mengeluarkan wangi yang khas. Bagi masyarakat Tempirai, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), adonan itu bukan sekadar dodol.

Namanya Joadah, kuliner tradisional yang lahir dari bentang lahan basah Sumatera Selatan dan selama puluhan tahun menjadi hidangan istimewa dalam pesta pernikahan, kenduri, hingga berbagai upacara adat masyarakat Musi.

Namun, kuliner yang dahulu hampir selalu hadir dalam setiap hajatan itu kini mulai jarang ditemui. Melalui Festival Lahan Basah Tempirai, masyarakat kembali memasak Joadah sebagai upaya menghidupkan ingatan kolektif tentang kuliner yang lahir dari hubungan panjang manusia dengan sungai, rawa, dan lahan basah.

Berbeda dengan daerah pertanian lainnya, masyarakat Tempirai hanya dapat menanam padi sekali dalam setahun, umumnya pada Oktober. Bentang lahan basah yang dipengaruhi pasang surut air membuat pola tanam masyarakat mengikuti siklus alam.

Karena itu, setiap musim tanam menjadi sangat berharga. Di antara hamparan padi putih dan ketan, masyarakat selalu menyisihkan sebagian kecil lahan untuk menanam padi arang atau beras hitam.

Ketua Pelaksana Festival Lahan Basah Tempirai, Azizah Syamsudin, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun. Menurutnya, masyarakat mengenal puluhan varietas padi lokal yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.

Mulai dari padi pulut, padi kumpal bawah, padi puyuh, padi kure, padi alus, padi beras merah, padi puring, padi telok ikan, padi arang atau beras hitam, padi serai putih, padi seni, padi ketumbar, padi ketan hitam, padi paing kancil, padi kumpai, hingga padi selasi.

"Semua jenis padi itu ditanam bukan hanya untuk dimakan sehari-hari. Ada padi yang digunakan untuk membuat makanan pada hari-hari besar atau upacara adat, seperti padi pulut, padi abang, padi arang, dan padi kumpal bawah yang diolah menjadi lemang maupun makanan tradisional lainnya," kata Azizah.

Keberagaman benih tersebut menjadi bukti bagaimana masyarakat lahan basah mengembangkan sistem pangan yang menyesuaikan diri dengan kondisi alam selama ratusan tahun.

Baca Juga: Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi

Azizah menjelaskan, beras hitam memiliki makna khusus dalam kehidupan masyarakat Tempirai. Selain diolah menjadi Joadah, padi arang juga digunakan dalam berbagai ritual adat. Pada tradisi Sedekah Sungai, misalnya, beras hitam dimasak tanpa minyak sebagai bentuk persembahan rasa syukur masyarakat atas hasil ikan dan berkah yang diberikan sungai.

Sementara dalam pesta pernikahan, beras hitam menjadi bahan utama pembuatan Joadah, makanan yang hampir selalu hadir sebagai simbol kebersamaan dan doa bagi keluarga yang baru dibentuk. "Beras hitam memang tidak pernah ditanam banyak. Tetapi dalam setiap musim tanam, masyarakat selalu menyisihkan sedikit lahan untuk menanamnya karena dibutuhkan untuk kepentingan adat," ujarnya.

Rasa yang Dijaga Bersama

Azizah mengingat bagaimana setiap musim tanam keluarganya selalu menyisihkan petakan sawah untuk padi arang. Meski hasilnya tidak sebanyak padi putih, keberadaannya tidak pernah ditinggalkan.

"Kalau musim tanam, pasti ada beras hitam yang ditanam. Walaupun sedikit, harus tetap ada karena dipakai untuk kebutuhan adat," katanya.

Ketika panen tiba, beras hitam kemudian dicampur dengan beras ketan putih. Sekitar empat kilogram beras ketan dipadukan dengan beras hitam, lalu dimasak bersama kelapa sangrai, santan, minyak kelapa, dan rempah-rempah yang menjadi resep turun-temurun masyarakat Tempirai.

Load More