- Masyarakat Tempirai, Sumatera Selatan, melestarikan kuliner tradisional Joadah berbahan beras hitam melalui Festival Lahan Basah tahunan.
- Proses memasak Joadah dilakukan secara gotong royong menggunakan metode tradisional sebagai simbol kebersamaan dan nilai budaya masyarakat.
- Tradisi ini menjaga keberlanjutan varietas padi lokal serta mempererat hubungan harmonis antara masyarakat dengan ekosistem lahan basah.
Proses memasaknya tidak singkat.
Adonan harus terus diaduk di dalam kuali besar menggunakan tungku kayu selama berjam-jam hingga mengental dan berubah menjadi hitam pekat. Jika ingin menghasilkan rasa yang lebih manis, gula pasir baru ditambahkan setelah adonan mulai matang, lalu kembali dimasak hingga menyatu.
Sobri menjadi salah satu warga yang ikut memasak Joadah pada Festival Lahan Basah tahun ini. Menurutnya, bagian tersulit bukan menyiapkan bahan, melainkan menjaga adonan agar terus bergerak. "Kalau berhenti mengaduk sedikit saja, bagian bawah bisa gosong. Jadi dari dulu memang dikerjakan bersama-sama. Satu orang lelah, diganti yang lain," ujarnya.
Tradisi memasak Joadah, kata Sobri, selalu menjadi ruang berkumpul masyarakat.
Di sekeliling tungku, orang-orang saling membantu, berbincang, sekaligus mewariskan pengetahuan kepada anak-anak mereka. "Yang diwariskan bukan hanya resepnya, tetapi kebersamaan. Dari dulu memang begitu." ungkapnya.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, Agung Saputro, menilai masyarakat Sumatera Selatan, termasuk Tempirai, mewarisi kekayaan tradisi dan budaya yang menjadi jejak peradaban besar di masa lalu.
Menurutnya, beragam pengetahuan lokal, seperti kuliner, serta berbagai tradisi lainnya yang masih bertahan saat ini membuktikan bahwa peradaban luhur pernah tumbuh dan berkembang di wilayah yang menjadi bagian dari Kedatuan Sriwijaya. "Masyarakat di Sumatera Selatan, seperti di Tempirai, merupakan masyarakat yang kaya dengan tradisi dan budaya. Kekayaan ini membuktikan di masa lalu peradaban luhur pernah tumbuh dan berkembang, termasuk pada masa Kedatuan Sriwijaya. Tugas kita sekarang adalah menggali, melestarikan, sekaligus memanfaatkannya agar memberi manfaat bagi masyarakat," kata Agung saat menjadi pembicara dalam Festival Lahan Basah Tempirai.
Ia menilai, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah mendorong tradisi kuliner seperti Joadah untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) atau jongot sebagai hutan budaya. Sebelumnya kuliner sagarurung sudah menjadi WBTB. Dengan pengakuan tersebut, menurutnya, bukan hanya tradisi yang terjaga, tetapi juga membuka peluang agar nilai budaya itu memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan pendidikan bagi masyarakat, baik pada masa kini maupun generasi mendatang.
Menjaga Pangan, Menjaga Lahan Basah
Baca Juga: Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
Bagi masyarakat Tempirai, Joadah bukan sekadar kuliner tradisional. Ia adalah jejak bagaimana bentang lahan basah melahirkan sistem pangan yang khas.
Mulai dari memilih benih lokal, menunggu satu kali musim tanam setiap tahun, memanfaatkan hasil panen untuk kebutuhan adat, hingga memasaknya secara gotong royong.
Festival Lahan Basah Tempirai menghidupkan kembali tradisi tersebut agar tidak berhenti sebagai kenangan. Di tengah semakin sedikitnya masyarakat yang menanam padi arang dan berubahnya pola pertanian, Joadah menjadi pengingat bahwa makanan tidak pernah lahir begitu saja. Ia tumbuh bersama lanskap yang menjaganya.
Dan selama lahan basah masih dirawat, selama benih-benih lokal tetap ditanam, Joadah akan terus bercerita tentang hubungan masyarakat Musi dengan air, tanah, dan rasa syukur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Berita Terkait
-
Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
-
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
-
Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Festival Lahan Basah Pertama di Indonesia Hadir dari Tempirai, Merawat Tradisi yang Hampir Hilang
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Telok Abang Palembang Bukan Sekadar Tradisi Agustus, Kini Jadi Ikon Budaya Kota