- Festival Lahan Basah Tempirai digelar di PALI, Sumatera Selatan, pada 16–21 Juni 2026 untuk merayakan kebudayaan berbasis air.
- Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan masyarakat dan akademisi untuk membahas pentingnya pelestarian ekosistem serta kearifan lokal lahan basah.
- Festival menekankan bahwa menjaga lahan basah adalah upaya krusial dalam melindungi identitas, pengetahuan tradisional, dan peradaban masyarakat setempat.
SuaraSumsel.id - Selama enam hari, Desa Tempirai Selatan di Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), tak sekadar menjadi lokasi penyelenggaraan sebuah festival. Desa yang dikelilingi sungai, lebak, dan rawa itu berubah menjadi ruang belajar tentang bagaimana bentang lahan basah telah membentuk kehidupan masyarakat Sumatera Selatan selama ratusan tahun.
Di sana, tokoh adat berbicara tentang asal-usul budaya yang lahir dari perairan. Akademisi menjelaskan kekayaan ikan air tawar yang mulai menghilang. Peneliti mengulas sejarah permukiman, sementara pegiat lingkungan mengingatkan ancaman alih fungsi lahan. Ada pula pembahasan mengenai perempuan yang selama ini menjadi penjaga pengetahuan masyarakat lahan basah.
Itulah benang merah Festival Lahan Basah Tempirai bertajuk "Bahagia Bersama Air dan Tanah" yang digelar pada 16–21 Juni 2026. Festival yang didukung Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiaraya dan LPDP itu tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang bertemunya pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan untuk membicarakan masa depan lahan basah Sumatera Selatan.
Sepanjang sepekan, masyarakat mengikuti diskusi budaya, lokakarya, pameran foto, pertunjukan sastra tutur, hiking Jongot, lomba melebung, pasar rakyat, hingga pesta adat. Namun lebih dari rangkaian acara, festival ini menghadirkan satu pesan yang sama dari seluruh narasumber: menjaga lahan basah berarti menjaga peradaban yang lahir dari air.
Dari Air Lahir Budaya
Bagi tokoh adat Tempirai, Amrullah Marsup, lahan basah bukan sekadar bentang alam yang dipenuhi sungai, rawa, atau lebak. Di situlah masyarakat Musi membangun kehidupan yang kemudian melahirkan adat istiadat, identitas, hingga berbagai perlengkapan budaya.
Menurutnya, sejak masa ketika transportasi masih mengandalkan jalur sungai, masyarakat hidup sangat bergantung pada air. Cara mereka membangun rumah, membuat alat tangkap ikan, memanfaatkan tanaman, hingga menyelenggarakan upacara adat tidak bisa dipisahkan dari lingkungan lahan basah.
"Lahan basah melahirkan tradisi masyarakat. Dari sanalah tumbuh identitas, perlengkapan adat, sampai cara hidup masyarakat yang memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana," kata Amrullah.
Karena itu, ia menilai menjaga lahan basah tidak hanya berarti melindungi lingkungan, tetapi juga menjaga akar kebudayaan masyarakat Musi.
Baca Juga: Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan
"Kalau lingkungan berubah, kebudayaan juga ikut berubah," ujarnya.
Ancaman Tak Hanya Kehilangan Lahan
Pandangan serupa disampaikan aktivis lingkungan dari Hutan Kita Institute (HaKI), Adios Syafri. Menurutnya, lahan basah Sumatera Selatan menyimpan kekayaan ekologis sekaligus pengetahuan yang berkembang bersama masyarakat selama ratusan tahun. Namun dalam beberapa dekade terakhir, kawasan tersebut terus menghadapi tekanan akibat alih fungsi menjadi perkebunan monokultur, terutama karet dan sawit.
"Lahan basah bukan hanya menyimpan air. Di dalamnya ada pengetahuan, budaya, dan keanekaragaman hayati. Kalau bentang alamnya berubah, yang hilang bukan hanya ekosistem, tetapi juga cara masyarakat memahami dan merawat lingkungannya," katanya.
Adios menilai isu lahan basah sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari, padahal dampaknya sangat dekat dengan masyarakat.
"Kita sering merasa isu lingkungan itu jauh. Padahal ketika ikan-ikan yang dulu mudah ditemukan sekarang semakin sulit dicari, ketika hasil tangkapan terus menurun, itu sebenarnya tanda bahwa ekosistem kita sedang berubah," ujarnya.
Berita Terkait
-
Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan
-
Ternyata Budaya Kopi Palembang Dipengaruhi Arab, India, Persia dan Tiongkok
-
Masak Tepi Sungai 2026 Digelar di Kampung Perigi, Mengungkap Budaya Kopi Palembang
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Apa Itu Jongot? Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur di Sumsel
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Pestapora 2026 Makin Meriah Bareng BRImo, Ada Cashback hingga Aktivitas Berhadiah
-
PHR dan Kejaksaan Agung Kawal Kerja Sama Produksi Sumur Minyak BUMD, Koperasi, dan UMKM
-
Dari Energi untuk Negeri, Kilang Plaju Hadirkan Harapan Dengan Donor Darah
-
Sumsel Raih 3 Penghargaan TPID dan TP2DD Awards 2026
-
Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?