Tasmalinda
Jum'at, 26 Juni 2026 | 14:30 WIB
Pempek Palembang yang menjadi sumber penghidupan masyarakat lokal [Suara.com/Tasmalinda]
Baca 10 detik
  • Sejak 1986, Wardiah mempertahankan kualitas Pempek 755 di Palembang dengan konsisten menggunakan bahan baku ikan gabus segar.
  • Pempek 755 memperkuat kapasitas usaha melalui akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari Bank Sumsel Babel secara produktif.
  • Strategi menjaga mutu dan dukungan modal memungkinkan usaha tersebut memperluas distribusi produk hingga ke berbagai kota Indonesia.

SuaraSumsel.id - Tidak mudah mempertahankan cita rasa ketika harga bahan baku terus berubah dan persaingan usaha semakin ketat. Di saat sebagian pelaku usaha memilih mencampur berbagai jenis ikan demi menekan biaya produksi, Wardiah justru mengambil jalan yang berbeda. Ia memilih tetap menggunakan ikan gabus segar, meski konsekuensinya keuntungan yang diperoleh tidak sebesar usaha lain.

Keputusan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi perempuan yang telah membuat pempek sejak 1986 tersebut, kualitas adalah satu-satunya cara menjaga kepercayaan pelanggan yang telah dibangun hampir empat dekade.

"Kalau hari itu bahan bakunya tidak sesuai standar, lebih baik kami tidak jualan," kata Wardiah.

Di balik kalimat singkat itu tersimpan filosofi yang membuat Pempek 755 tetap bertahan hingga hari ini. Baginya, usaha pempek bukan sekadar mencari keuntungan. Ada nama baik keluarga yang dipertaruhkan di setiap potong pempek yang sampai ke tangan pelanggan.

Prinsip itulah yang membuat pelanggan lama tetap setia. Sebagian masih rutin memesan meski telah menetap di berbagai kota di Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang sengaja kembali ke Palembang hanya untuk menikmati rasa yang tidak berubah sejak puluhan tahun lalu.

"Angka 755 itu diambil dari tiga angka terakhir nomor telepon dan kode area lama yang sekarang sudah tidak aktif. Pelanggan lama masih banyak yang mengingatnya," ujar Siti Mastura, putri ketiga Wardiah.

Namun menjaga kualitas saja tidak cukup.

Di tengah perubahan perilaku konsumen, meningkatnya kebutuhan modal, dan persaingan usaha yang semakin terbuka, pelaku UMKM juga dituntut mampu beradaptasi agar tetap bertahan.

Di titik itulah akses pembiayaan menjadi penting.

Baca Juga: Korupsi Lampu Jalan Palembang Diusut, Berapa Kerugian Negara yang Sebenarnya?

Pempek 755 kemudian menjadi salah satu mitra Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Sumsel Babel. Pembiayaan tersebut membantu memperkuat kapasitas usaha tanpa harus mengorbankan prinsip yang selama ini dijaga keluarga Wardiah.

Kini, pempek produksi Wardiah tidak hanya dinikmati masyarakat Palembang. Pesanan rutin datang dari berbagai kota di Indonesia, mulai dari Jabodetabek hingga Bali. Setiap paket yang dikirim bukan sekadar membawa kuliner khas Palembang, tetapi juga membawa cerita tentang sebuah usaha keluarga yang tetap bertahan karena memilih menjaga mutu dibanding mengejar keuntungan sesaat.

Bagi Direktur Utama Bank Sumsel Babel Muhamad Suryadi, penguatan UMKM memang menjadi salah satu fokus utama perseroan.

Menurutnya, bank pembangunan daerah tidak hanya bertugas menjaga kesehatan bisnis perbankan, tetapi juga memiliki tanggung jawab mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor produktif. Karena itu, Bank Sumsel Babel terus memperkuat pembiayaan UMKM, memperluas layanan digital, serta meningkatkan akses keuangan agar semakin banyak pelaku usaha mampu berkembang dan naik kelas.

Komitmen tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar penyaluran kredit.

Ketika satu UMKM bertumbuh, yang ikut bergerak bukan hanya pemilik usaha. Ada nelayan yang memasok ikan.

Load More