Tasmalinda
Kamis, 29 Januari 2026 | 19:08 WIB
Harga emas tembus Rp17,9 Juta per Suku, gadai emas warga Sumsel melonjak
Baca 10 detik
  • Kenaikan harga emas awal 2026 mendorong masyarakat Sumsel memilih gadai daripada menjual aset berharga mereka.
  • Nilai taksiran emas meningkat signifikan di Palembang, memicu lonjakan Outstanding Loan Gadai Sumbagsel mencapai Rp4,91 triliun.
  • Masyarakat memanfaatkan kenaikan harga emas untuk memperoleh pinjaman lebih besar melalui Pegadaian tanpa harus kehilangan kepemilikan emas.

SuaraSumsel.id - Kenaikan harga emas sejak awal 2026 membawa perubahan menarik dalam perilaku keuangan masyarakat Sumatera Selatan. Di saat harga logam mulia terus menguat, banyak warga justru tidak terburu-buru menjual emasnya. Sebaliknya, opsi gadai emas semakin diminati karena dinilai lebih menguntungkan tanpa harus kehilangan aset berharga yang telah disimpan bertahun-tahun.

Fenomena ini terlihat jelas di Palembang dan sejumlah daerah lain di Sumsel. Harga emas perhiasan hari ini dilaporkan berada di kisaran Rp17,9 juta per suku, naik sekitar Rp1 juta dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Kenaikan tajam tersebut membuat nilai taksiran emas ikut meningkat, sehingga masyarakat bisa memperoleh dana lebih besar saat menggadaikan emasnya untuk memenuhi kebutuhan mendesak, modal usaha, hingga menjaga arus kas rumah tangga.

Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil III Sumbagsel, Novryandi, mengatakan kenaikan harga emas menjadi momentum yang dimanfaatkan masyarakat secara lebih cerdas. Menurutnya, masyarakat kini semakin paham bahwa emas tidak harus dijual saat harga tinggi, melainkan bisa dioptimalkan melalui layanan gadai.

“Kenaikan harga emas dalam sebulan terakhir menjadi momentum bagi nasabah. Saat harga naik, nilai taksiran jaminan ikut meningkat sehingga masyarakat bisa memperoleh pinjaman lebih besar tanpa harus menjual emasnya,” ujar Novryandi.

Berdasarkan data internal Pegadaian per 28 Januari 2026, Outstanding Loan (OSL) Gadai di Kanwil III Sumbagsel tercatat mencapai Rp4,91 triliun dengan pertumbuhan 7,40 persen secara year to date.

Capaian tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional, menunjukkan tingginya respons masyarakat terhadap pergerakan harga emas. Pertumbuhan ini juga terjadi merata di berbagai wilayah, dengan Area Palembang mencatatkan pertumbuhan tertinggi, disusul Jambi dan Lampung.

Bahkan, dalam sepekan terakhir Januari, volume pinjaman harian di wilayah Sumbagsel bertambah rata-rata Rp18 miliar hingga Rp28 miliar per hari.

Novryandi menilai tren ini mencerminkan meningkatnya literasi keuangan masyarakat. Warga tidak lagi memandang emas semata-mata sebagai barang yang harus dilepas saat harga tinggi, tetapi sebagai aset jangka panjang yang bisa dimanfaatkan nilainya. Dengan menggadaikan emas, aset tetap dimiliki, sementara kebutuhan dana segar tetap terpenuhi.

Baca Juga: Mengulik Alasan PLN Masih Mengangkut Batu Bara Lewat Jalan Darat di Sumsel

Tren gadai emas juga semakin didorong oleh kemudahan layanan digital. Melalui aplikasi Tring! by Pegadaian, masyarakat kini dapat mengakses layanan gadai langsung dari ponsel tanpa harus datang ke outlet. Proses pendaftaran cukup menggunakan KTP dan verifikasi sederhana, sehingga layanan keuangan Pegadaian bisa dinikmati dari mana saja.

Di tengah harga emas hari ini di Palembang yang masih berfluktuasi dengan kecenderungan menguat, pilihan warga Sumsel untuk menggadaikan emas menunjukkan strategi bertahan yang adaptif. Emas tetap tersimpan sebagai aset jangka panjang, sementara dana segar dapat dimanfaatkan untuk menjaga roda ekonomi keluarga maupun usaha tetap berputar di tengah tekanan kebutuhan hidup.

Kenapa Gadai Lebih Untung Saat Harga Emas Naik?

Saat harga emas naik, nilai taksiran jaminan ikut meningkat, sehingga dana yang diterima dari gadai menjadi lebih besar. Dengan gadai, emas tidak berpindah kepemilikan seperti saat dijual, sehingga masih bisa ditebus kembali ketika kondisi keuangan membaik. Opsi ini banyak dipilih untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau modal usaha tanpa kehilangan aset jangka panjang.

Load More