Tasmalinda
Kamis, 29 Januari 2026 | 16:18 WIB
harga emas di Palembang terus naik.
Baca 10 detik
  • Lonjakan harga emas di Palembang meningkatkan pendapatan daerah melalui aktivitas perdagangan logam mulia tersebut.
  • Kenaikan harga emas berpotensi menurunkan daya beli masyarakat terhadap barang konsumsi lainnya secara signifikan.
  • Pengamat ekonomi memprediksi kenaikan harga emas bisa diikuti kenaikan harga barang lain, berpotensi memicu inflasi.

SuaraSumsel.id - Kenaikan harga emas yang terus terjadi di Palembang bukan hanya soal mahalnya perhiasan atau keuntungan investasi. Di balik kilau logam mulia tersebut, tersimpan dampak serius bagi ekonomi warga, mulai dari perubahan pola belanja hingga potensi tekanan inflasi.

Pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang, Amidi, menilai lonjakan harga emas membawa dua sisi sekaligus bagi perekonomian daerah. Di satu sisi, kenaikan harga emas mendorong aktivitas perdagangan yang berpotensi meningkatkan pendapatan daerah.

“Dengan naiknya harga emas, nilai pendapatan daerah juga ikut meningkat melalui aktivitas perdagangan emas itu sendiri,” ujar Amidi, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, pedagang emas menjadi pihak yang paling cepat merasakan efek kenaikan harga. Nilai transaksi yang semakin besar membuat pendapatan pedagang ikut terdongkrak, yang pada akhirnya memengaruhi perputaran uang di pasar.

“Pedagang emas akan dapat meningkatkan pendapatannya. Ini berdampak pada pengeluaran pedagang emas sekaligus menambah jumlah uang beredar di pasar,” kata Amidi.

Namun, Amidi mengingatkan bahwa kenaikan harga emas yang berkelanjutan juga membawa risiko bagi masyarakat. Menurutnya, ketika harga emas terus menanjak, sebagian pendapatan warga akan tersedot untuk membeli emas, sehingga daya beli terhadap barang lain berpotensi menurun.

“Dengan kenaikan harga emas tersebut, pendapatan masyarakat bisa terkuras. Akibatnya, daya beli barang-barang lain akan menurun,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi ini dapat berdampak lanjutan pada perekonomian secara umum. Jika konsumsi masyarakat melemah, sektor perdagangan dan jasa bisa ikut tertekan.

Tak hanya itu, Amidi juga menyoroti potensi kenaikan inflasi. Ia menilai, dalam banyak kasus, lonjakan harga emas sering diikuti oleh kenaikan harga barang lainnya.

Baca Juga: Mengulik Alasan PLN Masih Mengangkut Batu Bara Lewat Jalan Darat di Sumsel

“Kenaikan harga emas terkadang diikuti pula oleh kenaikan harga barang lain. Ini yang kemudian bisa meningkatkan inflasi,” jelas Amidi.

Meski demikian, Amidi melihat adanya peluang bagi masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih instrumen investasi. Ia menyebut, kenaikan harga emas biasanya turut mendorong kenaikan harga logam mulia lain, seperti perak.

“Kenaikan harga emas akan mendorong naiknya harga perak di Palembang. Untuk itu masyarakat bisa mempertimbangkan investasi selain emas, bisa juga perak atau jenis investasi lainnya,” katanya.

Kondisi ini semakin terasa setelah harga emas hari ini di Palembang dilaporkan naik hingga Rp1 juta per suku. Kenaikan tajam tersebut terjadi dalam waktu singkat dan langsung memengaruhi keputusan belanja masyarakat, baik untuk kebutuhan perhiasan maupun investasi.

Sejumlah pedagang emas menyebut lonjakan harga kali ini membuat sebagian warga memilih menunda pembelian, sementara sebagian lainnya justru buru-buru membeli karena khawatir harga akan kembali naik. Situasi ini memperlihatkan bagaimana pergerakan harga emas tidak hanya berdampak pada pasar logam mulia, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi dan perputaran ekonomi warga Palembang secara keseluruhan.

Harga emas yang terus menanjak kini menjadi pengingat bahwa setiap peluang ekonomi selalu datang bersama risikonya. Bagi warga Palembang, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara memanfaatkan peluang investasi dan mempertahankan daya beli agar ekonomi rumah tangga tetap sehat.

Load More