- Lonjakan harga emas di Palembang meningkatkan pendapatan daerah melalui aktivitas perdagangan logam mulia tersebut.
- Kenaikan harga emas berpotensi menurunkan daya beli masyarakat terhadap barang konsumsi lainnya secara signifikan.
- Pengamat ekonomi memprediksi kenaikan harga emas bisa diikuti kenaikan harga barang lain, berpotensi memicu inflasi.
SuaraSumsel.id - Kenaikan harga emas yang terus terjadi di Palembang bukan hanya soal mahalnya perhiasan atau keuntungan investasi. Di balik kilau logam mulia tersebut, tersimpan dampak serius bagi ekonomi warga, mulai dari perubahan pola belanja hingga potensi tekanan inflasi.
Pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang, Amidi, menilai lonjakan harga emas membawa dua sisi sekaligus bagi perekonomian daerah. Di satu sisi, kenaikan harga emas mendorong aktivitas perdagangan yang berpotensi meningkatkan pendapatan daerah.
“Dengan naiknya harga emas, nilai pendapatan daerah juga ikut meningkat melalui aktivitas perdagangan emas itu sendiri,” ujar Amidi, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, pedagang emas menjadi pihak yang paling cepat merasakan efek kenaikan harga. Nilai transaksi yang semakin besar membuat pendapatan pedagang ikut terdongkrak, yang pada akhirnya memengaruhi perputaran uang di pasar.
“Pedagang emas akan dapat meningkatkan pendapatannya. Ini berdampak pada pengeluaran pedagang emas sekaligus menambah jumlah uang beredar di pasar,” kata Amidi.
Namun, Amidi mengingatkan bahwa kenaikan harga emas yang berkelanjutan juga membawa risiko bagi masyarakat. Menurutnya, ketika harga emas terus menanjak, sebagian pendapatan warga akan tersedot untuk membeli emas, sehingga daya beli terhadap barang lain berpotensi menurun.
“Dengan kenaikan harga emas tersebut, pendapatan masyarakat bisa terkuras. Akibatnya, daya beli barang-barang lain akan menurun,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi ini dapat berdampak lanjutan pada perekonomian secara umum. Jika konsumsi masyarakat melemah, sektor perdagangan dan jasa bisa ikut tertekan.
Tak hanya itu, Amidi juga menyoroti potensi kenaikan inflasi. Ia menilai, dalam banyak kasus, lonjakan harga emas sering diikuti oleh kenaikan harga barang lainnya.
Baca Juga: Mengulik Alasan PLN Masih Mengangkut Batu Bara Lewat Jalan Darat di Sumsel
“Kenaikan harga emas terkadang diikuti pula oleh kenaikan harga barang lain. Ini yang kemudian bisa meningkatkan inflasi,” jelas Amidi.
Meski demikian, Amidi melihat adanya peluang bagi masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih instrumen investasi. Ia menyebut, kenaikan harga emas biasanya turut mendorong kenaikan harga logam mulia lain, seperti perak.
“Kenaikan harga emas akan mendorong naiknya harga perak di Palembang. Untuk itu masyarakat bisa mempertimbangkan investasi selain emas, bisa juga perak atau jenis investasi lainnya,” katanya.
Kondisi ini semakin terasa setelah harga emas hari ini di Palembang dilaporkan naik hingga Rp1 juta per suku. Kenaikan tajam tersebut terjadi dalam waktu singkat dan langsung memengaruhi keputusan belanja masyarakat, baik untuk kebutuhan perhiasan maupun investasi.
Sejumlah pedagang emas menyebut lonjakan harga kali ini membuat sebagian warga memilih menunda pembelian, sementara sebagian lainnya justru buru-buru membeli karena khawatir harga akan kembali naik. Situasi ini memperlihatkan bagaimana pergerakan harga emas tidak hanya berdampak pada pasar logam mulia, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi dan perputaran ekonomi warga Palembang secara keseluruhan.
Harga emas yang terus menanjak kini menjadi pengingat bahwa setiap peluang ekonomi selalu datang bersama risikonya. Bagi warga Palembang, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara memanfaatkan peluang investasi dan mempertahankan daya beli agar ekonomi rumah tangga tetap sehat.
Tag
Berita Terkait
-
Viral! Simpan Emas 20 Tahun, Ibu Ini Ubah Modal Rp41 Juta Jadi Rp927 Juta
-
Harga Emas Hari Ini di Palembang Naik Rp1 Juta, Tembus Rp17,9 Juta per Suku
-
Harga Emas Nyaris Rp17 Juta per Suku, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Palembang
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
Inflasi Sumsel Naik Jelang 2026, Ini 8 Fakta yang Perlu Diwaspadai Warga
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?
-
Derby Sumatera Dimulai! Sumsel United Bidik Balas Kekalahan dari PSMS di Laga Perdana
-
60 Hari Tak Diguyur Hujan, Karhutla Padang Sugihan Picu Kekhawatiran Habitat Gajah
-
Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?