- Inflasi bulanan Sumatera Selatan Desember 2025 naik menjadi 0,49% (mtm), namun inflasi tahunan 2,91% (yoy) tetap stabil.
- Emas perhiasan menyumbang inflasi terbesar, diikuti kenaikan harga bawang dan daging ayam terkait permintaan Nataru.
- TPID Sumsel menggelar 542 operasi pasar murah dan memperkuat GSMP untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
SuaraSumsel.id - Menutup tahun 2025, Provinsi Sumatera Selatan mencatat dinamika harga yang menarik perhatian. Inflasi pada Desember 2025 mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya, namun secara umum masih terkendali dan berada dalam sasaran nasional.
Penjagaan inflasi Sumatera Selatan ini juga ditegaskan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono. Ia menyampaikan bahwa inflasi Sumsel sepanjang 2025 masih berada dalam rentang sasaran nasional dan terus dikawal melalui sinergi erat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan TPID.
Menurut Bambang, berbagai tekanan harga, khususnya dari komoditas pangan dan emas, telah diantisipasi melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, serta langkah stabilisasi harga di lapangan.
“Koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat Sumatera Selatan tetap terjaga,” ujarnya.
Berikut 8 fakta penting yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik angka inflasi Sumsel.
1. Inflasi Bulanan Sumsel Naik Tajam
Pada Desember 2025, inflasi Sumatera Selatan tercatat 0,49% (month to month/mtm). Angka ini melonjak dibandingkan November 2025 yang hanya 0,02% (mtm), mencerminkan meningkatnya tekanan harga di akhir tahun.
2. Inflasi Tahunan Tetap Stabil
Secara tahunan, inflasi Sumsel berada di angka 2,91% (year on year/yoy), relatif stabil dibanding bulan sebelumnya. Capaian ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%, menandakan inflasi 2025 tetap terjaga.
3. Inflasi Nasional Sedikit Lebih Tinggi
Sebagai pembanding, inflasi nasional pada Desember 2025 tercatat 2,92% (yoy), naik dari 2,72% pada bulan sebelumnya. Artinya, inflasi Sumsel masih sejalan dan terkendali dibanding tren nasional.
4. Emas Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar
Komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi Sumsel adalah emas perhiasan dengan kontribusi 0,09% (mtm). Kenaikan harga emas dipicu tingginya permintaan masyarakat yang menjadikan emas sebagai safe haven asset di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: Larangan Berlaku 1 Januari 2026, Tapi Truk Batu Bara Masih Bebas Jalan: Ini 8 Faktanya
5. Harga Pangan Ikut Menekan Inflasi
Selain emas, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga bawang merah (0,07%), daging ayam ras (0,07%), cabai rawit (0,06%), dan cabai merah (0,05%). Lonjakan harga daging ayam berkaitan erat dengan meningkatnya konsumsi saat HBKN Natal dan Tahun Baru (Nataru), sementara bawang dan cabai tertekan akibat pasokan terbatas karena cuaca.
6. Cuaca dan Banjir Jadi Faktor Risiko
Tekanan inflasi ke depan masih berpotensi muncul seiring curah hujan tinggi hingga Februari 2026 dan sisa dampak banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera. Kondisi ini berisiko mengganggu pasokan komoditas hortikultura jika tidak diantisipasi dengan baik.
7. TPID Sumsel Genjot Operasi Pasar
Untuk menjaga daya beli masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah Sumatera Selatan menjalankan strategi pengendalian inflasi berbasis 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Hingga akhir Desember 2025, tercatat sekitar 542 operasi pasar murah digelar di seluruh wilayah Sumsel, termasuk penyaluran beras SPHP bekerja sama dengan Bulog.
8. GSMP dan Dukungan Bank Indonesia Diperkuat
Upaya pengendalian inflasi juga diperkuat melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) 2025 yang menyasar ribuan rumah tangga dan kelompok wanita tani. Bank Indonesia bersama TPID memberikan dukungan bibit, sarana produksi, hingga capacity building. Langkah ini melengkapi sinergi kebijakan yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sumsel Herman Deru melalui berbagai high level meeting pengendalian inflasi.
Meski inflasi Sumatera Selatan meningkat pada Desember 2025, berbagai indikator menunjukkan stabilitas harga masih terjaga. Ke depan, koordinasi pemerintah daerah, TPID, dan Bank Indonesia menjadi kunci agar tekanan harga, terutama pangan yang tetap terkendali, sekaligus menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Sumsel yang berkelanjutan.
Tag
Berita Terkait
-
Larangan Berlaku 1 Januari 2026, Tapi Truk Batu Bara Masih Bebas Jalan: Ini 8 Faktanya
-
Bukan Sekadar Ganti Baju! Ini Aturan Baru Seragam ASN 2026 yang Diterapkan di Sumsel
-
Larangan Truk Batu Bara Berlaku, Tapi Masih Melintas: Efektifkah Aturan Gubernur?
-
BSB Kembali Terbaik Nasional, Pertahankan Peringkat Pertama SLE Index 2026
-
Jelang Detik-Detik Tahun Baru, 11 Daerah di Sumsel Berpotensi Hujan Lebat
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
Pilihan
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
5 HP Infinix RAM 8 GB Paling Murah, Pilihan Terbaik Mulai 1 Jutaan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
Terkini
-
Peringatan Perang 5 Hari 5 Malam: Menghormati Sejarah yang Terlalu Lama Sunyi?
-
Bayar Kuliah hingga Tiket Pesawat, Permintaan Dokter Senior Diduga Tekan Junior PPDS Unsri
-
Diduga Dibully Senior, Junior PPDS Unsri Tertekan hingga Berniat Bunuh Diri
-
Listrik Tak Stabil, Produksi Tambak Udang OKI Menurun dan Ribuan Tenaga Kerja Terancam
-
BRI VISA Infinite Jawab Kebutuhan Gaya Hidup Global Nasabah Prioritas