- Pabrik di Banyuasin, Sumsel, merupakan fasilitas bahan baku pengolah kelapa menjadi CCO, bukan kilang bioavtur siap pakai.
- Proyek senilai Rp310 miliar dengan investasi Jepang ini adalah pionir hilirisasi kelapa untuk energi penerbangan skala industri di Indonesia.
- Klaim sebagai pabrik bioavtur pertama di dunia tidak tepat, sebab fasilitas produksi SAF serupa telah beroperasi di negara lain.
SuaraSumsel.id - Pembangunan pabrik bioavtur di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menarik perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir. Proyek bernilai ratusan miliar rupiah yang melibatkan investor Jepang ini kerap disebut-sebut sebagai pabrik bioavtur pertama di dunia.
Klaim tersebut memancing rasa ingin tahu sekaligus pertanyaan: apa sebenarnya bioavtur, dan apakah benar menjadi yang pertama di dunia?
Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat yang berasal dari sumber hayati atau biomassa, seperti minyak nabati dan bahan terbarukan lainnya. Dalam penggunaannya, bioavtur tidak menggantikan avtur konvensional sepenuhnya, melainkan digunakan sebagai campuran untuk menekan emisi karbon di sektor penerbangan.
Di tingkat global, bioavtur dikenal sebagai bagian dari Sustainable Aviation Fuel atau SAF, yang kini menjadi fokus utama banyak maskapai penerbangan dunia.
Pengembangan bioavtur dianggap strategis karena dapat langsung digunakan pada mesin pesawat yang ada, tanpa memerlukan perubahan teknologi besar. Inilah yang membuat bahan bakar ini dipandang sebagai solusi realistis dalam upaya dekarbonisasi industri penerbangan.
Lalu, apa yang sebenarnya dibangun di Banyuasin? Pabrik yang digarap PT Green Power Palembang tersebut bukanlah kilang bioavtur siap pakai untuk pesawat.
Fasilitas ini merupakan pabrik bahan baku bioavtur yang akan mengolah kelapa menjadi Coconut Crude Oil (CCO). Produk inilah yang selanjutnya digunakan dalam proses produksi bioavtur.
Proyek ini didukung investasi Jepang dengan nilai sekitar Rp310 miliar dan diarahkan untuk memperkuat hilirisasi kelapa sebagai komoditas unggulan daerah. Banyuasin dipilih karena dinilai memiliki ketersediaan bahan baku, infrastruktur, dan potensi wilayah yang mendukung pengembangan industri skala besar.
Namun, apakah pabrik ini benar-benar yang pertama di dunia? Jika dilihat secara global, fasilitas produksi bioavtur atau SAF telah lebih dulu dikembangkan di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan kawasan Eropa.
Baca Juga: Jepang Tanam Investasi Rp310 Miliar, Pabrik Bioavtur Pertama Mulai Dibangun di Sumsel
Beberapa bahkan sudah beroperasi secara komersial dan memasok kebutuhan bahan bakar penerbangan.
Dengan demikian, klaim “pertama di dunia” tidak dapat dimaknai secara mutlak. Pabrik di Banyuasin bukan satu-satunya fasilitas bioavtur di dunia, dan bukan yang pertama jika dibandingkan secara global.
Meski begitu, proyek ini tetap memiliki keistimewaan tersendiri dalam konteks Indonesia.
Keunggulan utama Banyuasin terletak pada pendekatan yang digunakan. Pabrik ini menjadi pionir pengembangan bahan baku bioavtur berbasis kelapa dalam skala industri di Indonesia, dengan dukungan investasi langsung dari Jepang.
Model hilirisasi ini membuka jalan baru bagi komoditas kelapa untuk masuk ke rantai pasok energi penerbangan ramah lingkungan.
Di tengah meningkatnya tekanan global untuk menurunkan emisi karbon, permintaan terhadap bioavtur diperkirakan akan terus tumbuh. Daerah yang mampu menyediakan bahan baku berkelanjutan memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam rantai pasok energi penerbangan dunia.
Tag
Berita Terkait
-
Jepang Garap Pabrik Bioavtur di Banyuasin, Ini 7 Fakta Investasi Rp310 Miliar
-
Jepang Tanam Investasi Rp310 Miliar, Pabrik Bioavtur Pertama Mulai Dibangun di Sumsel
-
7 Fakta Pabrik Bio Avtur di Banyuasin, Kelapa Lokal Bakal Jadi Bahan Bakar Pesawat
-
7 Fakta Viral ASN Musi Banyuasin Baru Dilantik Joget Sawer Pakai Seragam, Terancam Sanksi
-
Cerita 1.000 UMKM Banyuasin: Dapat Modal, Kini Usaha Naik Kelas Berkat Bank Sumsel Babel
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Selesai Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
Terkini
-
Jadwal Imsak Palembang Selasa 10 Maret 2026, Catat Waktu Sahur agar Tak Terlewat
-
Janggal? Meja Biliar Wakil Pimpinan DPRD Sumsel Rp335 Juta, Ketua Hanya Rp151 Juta
-
Terungkap Nilai Dana Nasabah Bank Jambi yang Diretas, Tembus Rp143 Miliar
-
5 Fakta Tawuran Maut di Palembang, Remaja 20 Tahun Tewas Ditusuk Saat Bentrokan
-
Harga Emas Antam Hari Ini di Palembang Naik Tipis, Tembus Rp3.049.000 per Gram