- Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang diperdebatkan karena mengintervensi ruang simbolik "Titik Nol" kota.
- Desain baru dengan elemen digital dianggap kurang kontekstual dengan identitas sejarah dan berada di sumbu Masjid Agung.
- Pemerintah tetap menargetkan proyek tersebut menjadi ikon modern, meskipun kritik menyoroti etika ruang publik dekat masjid.
SuaraSumsel.id - Revitalisasi Bundaran Air Mancur (BAM) yang berada di jantung Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) tengah jadi perdebatan publik. Proyek yang dirancang untuk mempercantik wajah kota ini dinilai bukan sekadar soal estetika, tapi menyentuh persoalan makna simbolik ruang publik yang penting.
Berikut tujuh fakta penting yang perlu kamu tahu:
1. Proyek Estetika yang Dipersoalkan Maknanya
Publik dan sejumlah ahli menilai revitalisasi BAM kini dilihat sebagai intervensi ruang simbolik “Titik Nol” kota yang tidak membaca nilai historis dan spiritual kawasan. Revitalisasi ini lebih dari sekadar estetika—tetapi soal makna ruang publik yang sarat nilai sejarah.
2. Letaknya Tepat di Depan Masjid Utama
Bundaran Air Mancur Palembang berada tepat di sumbu utama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, area yang selama ini jadi ruang ikonik dan sarat makna bagi warga kota.
3. Desain Baru Dipandang Kurang Kontekstual
Revitalisasi menghadirkan elemen seperti ornamen digital, air mancur menari, dan tata cahaya artistik yang dinilai kurang kontekstual dengan identitas dan sejarah setempat.
4. Kritik Arsitek soal Bahasa Visual
Baca Juga: Ketika Dua Wakil Sumsel Berbeda Nasib: Pekan Krusial Sriwijaya FC dan Sumsel United
Menurut kritikus dan akademisi arsitektur yang mengomentari proyek ini, bahasa visual desain justru mengaburkan makna simbolik budaya lokal Palembang—bukan menyampaikan cerita atau identitas asli ruang tersebut.
5. Interpretasi Publik Berbeda dengan Rencana
Masyarakat banyak membaca simbol dalam desain yang berbeda dari maksud perancang. Misalnya, bentuk yang disebut terinspirasi dari motif lokal justru ditafsirkan sebagai teratai, bukan sebagai simbol yang dimaksud.
6. Pemerintah Tetap Targetkan Ikon Baru
Meski dikritik, Pemkot Palembang dan Pemprov Sumatera Selatan tetap menargetkan proyek ini menjadi ikon kota yang modern dan representatif bagi wisatawan.
7. Perdebatan Etika Ruang Publik Muncul
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji
-
Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh
-
Dari Nongkrong hingga Koleksi Karya, Cara Anak Muda Palembang Menikmati Seni
-
Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?
-
Kambang Iwak Diterjang Pohon Tumbang, Palembang Hadapi Ancaman Pohon Tua saat Musim Hujan