- Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang dikritik karena menghilangkan makna historis dan identitas ruang publik yang melekat.
- Perubahan fisik dinilai terlalu fokus pada estetika modern, mengabaikan konteks sejarah dan ingatan kolektif warga kota.
- Kritik ini bertujuan mengingatkan pembangunan kota agar tetap berlandaskan sejarah dan identitas lokal Palembang.
SuaraSumsel.id - Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang kembali menuai sorotan. Sejumlah kalangan menilai pembaruan kawasan ikon kota tersebut tidak sekadar menyangkut tampilan visual, tetapi menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni hilangnya makna historis dan identitas ruang publik yang telah melekat puluhan tahun.
Bundaran Air Mancur Palembang sejak lama dikenal sebagai salah satu ikon kota yang memiliki sejarah dan makna filosofis bagi warga. Kawasan ini bukan hanya penanda ruang publik, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif masyarakat Palembang. Sejarah Bundaran Air Mancur Palembang inilah yang kemudian menjadi sorotan ketika revitalisasi dilakukan, karena perubahan fisik dinilai berpotensi mengaburkan makna yang telah hidup selama puluhan tahun.
Kritik terhadap revitalisasi Bundaran Air Mancur muncul karena perubahan dinilai terlalu menitikberatkan aspek estetika modern, sementara konteks sejarah dan simbolik kawasan kurang mendapatkan perhatian memadai.
Bagi sebagian pemerhati sejarah dan tata kota, Bundaran Air Mancur bukan sekadar simpang jalan dengan elemen dekoratif. Ia adalah penanda perkembangan Palembang sebagai kota besar, sekaligus simbol keterikatan kota ini dengan unsur air sebagai sumber kehidupan dan peradaban.
Perubahan bentuk dan konsep tanpa narasi sejarah yang jelas dikhawatirkan membuat ruang publik tersebut kehilangan makna kultural, terutama bagi generasi yang tumbuh dengan Bundaran Air Mancur sebagai bagian dari identitas kota.
"Revitalisasi Bundaran Air Mancur (BAM) di kawasan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo bukan sekadar proyek estetika kota, melainkan intervensi pada Titik Nol, Palembang yang merupakan ruang yang memikul beban simbolik, historis, dan spiritual. Karena berada pada sumbu utama Masjid Agung, kawasan ini dapat dibaca sebagai teks urban sakral, yang menuntut kehati-hatian: setiap bentuk, cahaya, dan narasi harus tunduk pada hierarki visual-spiritual yang sudah lama hidup dalam memori kolektif warga," ungkap Dr. Ir. Zuber Angkasa, M.T. yang merupakan Wakil Ketua Lembaga Kajian Pembangunan Sumatera Selatan belum lama ini,
Selain itu, revitalisasi dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek ingatan kolektif warga. Ruang publik yang memiliki nilai historis seharusnya tidak hanya diperbarui secara fisik, tetapi juga dirawat maknanya agar tetap relevan lintas generasi.
Di satu sisi, modernisasi kota merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan. Penataan ulang ruang publik penting untuk menjawab tantangan lalu lintas, kenyamanan, dan estetika perkotaan masa kini. Namun di sisi lain, modernisasi yang mengabaikan konteks sejarah berisiko memutus hubungan emosional antara warga dan kotanya.
Dalam banyak kasus, revitalisasi ruang bersejarah justru berhasil ketika perubahan fisik berjalan seiring dengan pelestarian nilai dan cerita yang melekat pada tempat tersebut. Tanpa pendekatan ini, revitalisasi mudah dipersepsikan sebagai proyek visual semata.
Baca Juga: Palembang Hujan Ringan, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Disertai Petir di Sumsel
Kritik terhadap revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang sejatinya bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan. Kritik ini lebih sebagai pengingat agar pembangunan kota tetap berpijak pada sejarah dan identitas lokal.
Bundaran Air Mancur bukan hanya milik masa kini, tetapi juga bagian dari perjalanan panjang Palembang. Setiap perubahan idealnya memperkaya makna, bukan justru mengaburkannya.
Di tengah geliat pembangunan perkotaan, perdebatan soal Bundaran Air Mancur menunjukkan bahwa warga Palembang masih memiliki kepedulian kuat terhadap ruang publik dan sejarah kotanya—sebuah modal penting dalam membangun kota yang berkelanjutan dan berkarakter.
Tag
Berita Terkait
-
Masjid Agung Palembang Mulai Hasilkan Listrik Sendiri, Dampaknya Tak Sekadar Hemat Jutaan Rupiah
-
5 Hal Penting tentang Sejarah Bundaran Air Mancur Palembang yang Perlu Diketahui
-
Palembang Hujan Ringan, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Disertai Petir di Sumsel
-
5 Ciri Warkop Legendaris Palembang yang Jadi Tempat Kumpul Cerita Warga Kota
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
-
Purbaya Tegaskan Masih Jabat Menkeu dan Tidak Ada Pembahasan Reshuffle, Ini Buktinya
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
Terkini
-
Siapa Ahmad Nasuhi? Terpidana Korupsi Masjid Sriwijaya yang Kini Jadi Sorotan Usai Kecelakaan Maut
-
QRIS BSB Mobile Tidak Bisa Digunakan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
-
Ahmad Nasuhi Tabrak 5 Orang hingga 2 Tewas, Mengapa Eks Terpidana Korupsi Ini Sudah Bebas?
-
Dua Sumur Baru Pertamina EP Zona 4 Tambah Produksi Migas hingga 4.834 Barel per Hari
-
Kasus Dokter Gigi Palembang: Dari Perselisihan di Jalan hingga Serangan Palu