-
Kisah seorang ibu di Binjai yang menjual emas lama seharga Rp95 juta mengingatkan kembali tradisi wong Palembang: emas bukan sekadar perhiasan, melainkan tabungan hidup yang diwariskan lintas generasi. Dari biaya sekolah hingga modal usaha, emas menjadi penyelamat di kala genting.
-
Transformasi besar terjadi ketika Pegadaian dikukuhkan sebagai Bank Emas pertama di Indonesia pada Februari 2025. Dengan fondasi hukum yang kokoh, emas kini tak hanya disimpan di lemari kayu, tapi juga bisa dikelola secara digital, ditabung mulai Rp10 ribu, hingga dijadikan instrumen keuangan modern yang tercatat aman.
-
Fenomena ini menjembatani tradisi dan modernitas. Dari gelang kecil seusai Lebaran hingga saldo emas di aplikasi, masyarakat Palembang kini punya cara baru menyulam harapan. Bersama Pegadaian, emas bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi pijakan menuju Indonesia Emas 2045.
SuaraSumsel.id - Di sebuah toko emas di Binjai, seorang perempuan paruh baya berdiri sambil menatap papan hitung yang berderet angka. Tangannya sedikit bergetar, tetapi matanya berbinar penuh syukur. Ia baru saja menjual emas yang dibelinya pada tahun 1987 seharga Rp738 ribu, dan kini, di tahun 2025, nilainya menjulang menjadi Rp95,75 juta.
Senyumnya merekah, bukan hanya karena keuntungan berlipat, melainkan karena keyakinan lama yang terbukti benar: emas tak pernah berkhianat pada waktu.
Video tentang dirinya beredar cepat di media sosial. Warganet terharu sekaligus iri. Ada yang menyesal karena tak sempat menabung emas sejak muda, ada pula yang menjadikannya pengingat agar jangan sekali-kali meremehkan kilau logam mulia itu.
Kisah sederhana ini seakan menggambarkan memori kolektif banyak keluarga Indonesia, terutama di Palembang, yang sejak lama menjadikan emas sebagai tabungan hidup. Dari gelang kecil seusai Lebaran hingga kalung yang disimpan di lemari kayu untuk biaya sekolah, emas selalu hadir sebagai penolong di kala genting.
Kini, tradisi turun-temurun itu memasuki babak baru dengan lahirnya Bank Emas Pegadaian, tonggak penting yang menjembatani masa lalu, masa kini, dan cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.
Bagi wong kito, emas bukan sekadar perhiasan. Ia adalah bank berjalan. Ia bisa diam di laci lemari selama bertahun-tahun, lalu berubah menjadi biaya kuliah, modal usaha, atau penolong di kala genting. Emas adalah tabungan sekaligus identitas sosial.
Di rumah-rumah Palembang, emas hadir dalam setiap siklus hidup. Ketika tahun ajaran baru tiba, orang tua menjual cincin atau kalung kecil demi membayar biaya sekolah anak.
Seusai Lebaran, sisa tunjangan hari raya dialihkan menjadi perhiasan emas, seakan menegaskan bahwa rezeki tak boleh habis di meja makan saja, tetapi juga harus tersimpan rapi untuk masa depan. Dalam pesta pernikahan, kilau gelang dan kalung pengantin bukan hanya tanda cinta, melainkan juga simbol kehormatan keluarga.
“Kalau bukan emas, apa lagi yang bisa cepat jadi uang? Saya beli gelang sedikit-sedikit, kadang kalung juga. Nanti kalau anak masuk sekolah, ya tinggal jual. Dari dulu orang tua saya juga begitu,” kata Yuliana (43), ibu rumah tangga di Plaju.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan di Palembang Tembus Rp10,55 Juta per Suku, Apa Penyebabnya?
Namun, tradisi itu kini bertransformasi. Rini (36), warga Kenten, tak lagi membeli perhiasan, tetapi menabung emas lewat aplikasi.
“Dulu kalau simpan uang di bank, lama-lama kepake. Kalau emas, kan sayang dijual sembarangan. Jadi lebih aman. Sekarang enak, ada tabungan emas di Pegadaian, bisa mulai dari Rp10 ribu. Saya sering nabung lewat aplikasi, jadi nggak harus beli gelang,” ujarnya kepada Suara.com.
Bank Emas: Dari Tradisi Menuju Transformasi
Kebiasaan turun-temurun itu menemukan babak baru pada 26 Februari 2025. Pegadaian resmi dikukuhkan sebagai Bank Emas pertama di Indonesia. Lahirnya bank emas bukan sekadar inovasi teknis, melainkan lompatan sejarah.
Undang-Undang No. 4 Tahun 2023 tentang Penguatan Sektor Keuangan, ditambah Peraturan OJK No. 17 Tahun 2024 tentang kegiatan usaha bulion, menjadi fondasi hukum yang kokoh. Indonesia kini masuk dalam peta bullion bank dunia, berdampingan dengan London, Dubai, dan Singapura.
“Pegadaian saat ini mulai bertransformasi menjadi Bank Emas. Kalau melihat kinerja penjualan emas di wilayah kita, sudah meningkat tiga kali lipat. Tahun lalu penjualan hanya 70 kilogram, sekarang dari Januari sampai April 2025 saja sudah 400 kilogram,” ujar Novryandi, Pimpinan Pegadaian Kanwil III Palembang, dalam acara Media Gathering di Bukit Golf Resto, Mei lalu.
Tag
Berita Terkait
-
Harga Emas Perhiasan di Palembang Tembus Rp10,55 Juta per Suku, Apa Penyebabnya?
-
Waktunya Panen Cuan? Bongkar Cara Maksimalin Promo Emas 17 Agustus 2025
-
Naik Lagi, Harga Emas Perhiasan di Palembang Capai Rp1,57 Juta per Gram
-
Antam vs UBS Juli 2025: Mana Emas Batangan Terbaik untuk Investasi Kilat?
-
Harga Emas di Palembang Anjlok Ratusan Ribu, Ini Tanda Waktunya Borong Perhiasan?
Terpopuler
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Wajah Rusak Usai Mudik? 7 Skincare Detox Ini Ampuh Balikin Glowing dalam Hitungan Hari
-
Jadwal Penutupan Jembatan Ampera 4-5 April 2026, Uji Coba CFN dan CFD Palembang
-
9 Fakta Mengerikan Warga Palembang Jadi Operator Penipuan di Kamboja, Polisi Bongkar Dugaan TPPO
-
Diskon 50 Persen di Alfamart, Snack Favorit Ini Bikin Banyak Orang Borong Sekaligus
-
5 Fakta Kepulangan Pekerja Migran Sumsel dari Kamboja, Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan