Negara Indonesia awalnya mengajukan nilai 17,5 miliar dollar sebagai pengganti kerusakan akibat perang tersebut namun Jepang menolaknya.
Perwakilan Indonesia yang diwakili Ahmad Subandjo Djoyodisuryo, Iwa Kusumasumatri dan Muhammad Hatta akhirnya hanya mendapatkan pergantian dari pemerintah Jepang sebesar 223,08 juta dollar.
Dari dana tersebut, Presiden Soekarno akhirnya membangun sejumlah bangunan mega proyek pada masa tersebut, termasuk Jembatan Ampera.
Jembatan ini dibagun dengan rentang waktu yang cukup cepat, bahkan disebutkan jika teknologi canggih juga menyertai pembangunan jembatan Ampera ini.
Pemasangan tiang pancang perdananya dilakukan 10 April 1962, yang tentu dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno. Sang presiden juga menargetkan pembangunannya akan selesai selama dua tahun. Sebuah pembangunan mega proyek yang bisa dikatakan ambisius pada masanya. Akan tetapi, pembangunan tersebut tidak mencapai target.
Jembatan ini baru selesai dibangun selama tiga tahun, yang kemudian diresmikan pada 30 September 1965. Sayangnya mesti ini menjadi mega proyek Soekarno, sang presiden pun tidak meresmikannya langsung.
Saat itu tepat terjadinya detik-detik pergolakan politik dengan peristiwa 30 SPKI, yang kemudian juga terjadi Gerakan Satu Oktober atau dikenal Gestok.
Melansir sejumlah sumber, pembangunan jembatan Ampera mencapai 10, 5 juta yang kemudian terjadi penambahan anggaran pembangunan 4,5 juta dollar Amerika di Desember 1961.
Politik negeri bergejolak, namun jembatan ini telah berdiri menjadi sejarah baru bagi kota Palembang. Sebagai jembatan mega proyek, jembatan ini pernah dinasbikan sebagai jembatan tercanggih se Asia Tenggara pada saat itu.
Baca Juga: Melihat Palembang dari Atas! Tower Ampera Dibuka dengan Akses Terbatas
Pada saat pembangunan, jembatan ini memang dibuat agar badan jembatan bisa diangkat guna mengatur atau menyesuaikan lalu lintas kapal di Sungai Musi.
Sungai Musi pada masa dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan yang sangat padat. Badan jembatan Ampera dibuat bisa diangkat juga untuk menyesuaikan jenis kapal yang melintas dengan ukuran besar dan tinggi.
Hal menarik lainya, jembatan juga pernah diusulkan bernama jembatan Musi, guna menjadikannya ikon semangat persatuan saat awal pembangunannya.
Bahkan masyarakat Palembang sempat mengenal proyek pembangunan jembatan ini dengan nama proyek 'Musi'. Pada saat jembatan ini akan diresmikan kemudian bernama jembatan Soekarno.
Nama Soekarno tentu dipilih sebagai figur yang memiliki ide, filosofi, persetujuan arsitektur sekaligus pemilik kebijakan pembangunannya. Sayangnya, nama Soekarno tidak lama digunakan Pemerintah saat itu.
Pada pergolakan politik 1965-1966, muncul gerakan anti Soekarno yang sangat kuat sehingga membuat nama jembatan ini digantikan menjadi Ampera.
Tag
Berita Terkait
-
Melihat Palembang dari Atas! Tower Ampera Dibuka dengan Akses Terbatas
-
Festival Glowtopia Hadir di Palembang, Cahaya Aesthetic yang Wajib Dikunjungi
-
Air Tak Mengalir, Tagihan Warga Palembang Justru Bengkak hingga Rp700 Ribu
-
Mengenang Perang Lima Hari Lima Malam, Palembang Gelar Pameran Arsip Sejarah
-
Tanpa Aplikasi, Pemeriksaan Kesehatan Gratis Warga Palembang Berlaku Februari
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
Pilihan
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
-
Jokowi Pamer Ijazah di Depan Mukanya, Roy Suryo Ketawa Ngakak
Terkini
-
Belajar Mengelola Lahan Tanpa Membakar di Desa Gambut
-
Sidang Roy Suryo, Jokowi Beberkan Riwayat Pendidikan dan Mata Kuliah Pilihan di UGM
-
20.980 Prajurit TNI Disiapkan ke Jakarta, TNI AD Ungkap Alasan Pengerahan Pasukan
-
UIN Raden Fatah Gandeng Alunjiva dan Kedutaan Inggris Gelar Workshop AI for Journalism
-
Kebakaran Pabrik OKI Pulp & Paper Berlangsung 4 Jam, Ratusan Karyawan Berhamburan, Ini Faktanya