“Saat harga kopi turun, perempuan dituntut memenuhinya. Di desa ini, perempuan juga ke kebun, pekerjaan dominan dilakukan bersama-sama. Seperti saat ke kebun, kami (perempuan) menanam, membersihkan rumput, panen, dan jika bisa angkut maka diangkut,” akunya.
Selain menanam kopi, warga terutama perempuan juga berkebun sayur, beternak ayam, ikan, sapi dan kambing. Meski jumlah ternaknya tidak banyak, mereka memanfaatkan ruang di halaman rumah yang dominan merupakan rumah panggung.
“Sistem niaga kopi benar-benar tradisional, langsung dijual ke luar desa,” ungkap Surainah.
Kekinian harga kopi nan makin tinggi. Ia pun mengungkap berkah tersendiri dan berharap akan semakin banyak produk olahan kopi yang dihasilkan.
Sejumlah pelatihan pun digelar dalam serangkaian program pendampingan. Diceritakan istri ketua adat Tebat Benawa ini jika sejumlah pelatihan tersebut juga sudah menghasilkan sejumlah produk olahan selain kopi.
Di rumah produksi Ringkeh juga diperkenalkan manisan tomat, yang mengelola tomat agar tak banyak busuk saat harga murah kala panen. “Kami bikin manisan, teh dari kulit kopi yang sering dibuang saat menyortir kopi. Selain itu, kami juga ada kerajinan tangan yang berasal dari rotan,” ucapnya.
Beberapa pekan lalu, ibu-ibu kelompok hutan adat ini pun mengikuti pelatihan pemanfaatan ampas kopi yang kemudian dibuat sabun kopi dan minyak badan (body oil). Pembuatan olahan dari komoditas kopi ini bertekad agar makin beragam olahan pada komoditas yang menjadi sandaran ekonomi masyarakat desa ini.
Di desa ini, dominan atau bisa mencapai 80 persen merupakan petani kopi. Baik yang memiliki kebun kopi, atau bekerja di kebun kopi milik orang lain. Mereka yang ke kebun atau ladang kopi, tidak hanya kaum laki-laki namun juga perempuan.
Bagi perempuan, lokasi kebun kopi yang digarap ialah yang lebih dekat dengan wilayah desa, sementara laki-laki menjaga atau bertanam di ladang kopi yang lebih jauh atau mendekati hutan.
Baca Juga: Tangan-Tangan Inspiratif Perempuan Tebat Benawa: Menjaga Hutan, Membangun Desa
Masyarakat di desa ini memiliki adat secara turun temurun untuk menjaga hutan. Adat ini juga menguatkan alasan para laki-laki dianggap lebih mampu menggarap kebun kopi dalam luasan dan jarak yang lebih berdekatan dengan hutan.
Jika mendatangi desa ini pada siang hari, maka akan lebih banyak menemui kalangan perempuan. Karena selepas dari ke ladang atau kebun kopi, perempuan menghabiskan waktu di desa. Mulai dari mengurus anak, memasak, bertanam sayuran atau mengelola kopi atau hanya bersilaturahmi satu dengan lainnya.
Waktu yang banyak tersedia di desa ini pula yang menjadi pengikat Surainah dan puluhan perempuan desa lainnya mengaktifkan rumah produksi kopi Ringkeh.
Tidak hanya kopi, mereka pun rutin membuat kerajinan tangan dengan mengelola rotan, dan bambu. Jenis tanaman bambu di desa pun berkualitas baik sehingga mampu diolah menjadi jenis cangkir, piring dan tas kemasan kecil.
Kerajinan ini pula yang menyebabkan setiap pertemuan desa, para ibu-ibu tidak disibukkan menggunakan piring dan gelas plastik lagi. Semua piring dan gelas dibuat dari rotan dan langsung bisa dibuang menjadi sampah yang mudah diolah oleh alam.
Guna menguatkan sisi ekonomi, para perempuan ini pun mengaktifkan koperasi. Setiap anggota dari komunitas Rumah Produksi kopi Ringkih diwajibkan menyetorkan sekitar 10 kilogram kopi setiap periode panennya.
Berita Terkait
-
Tangan-Tangan Inspiratif Perempuan Tebat Benawa: Menjaga Hutan, Membangun Desa
-
Kopi Pagaralam: Emas Hitam dari Bumi Besemah yang Menggoyang Dunia
-
Sidang Gugatan YLKI vs Pertamina Digelar, Harga Elpiji 3 Kilogram Masih Mahal?
-
Kasus Pemukulan Kepala Puskesmas Pagar Alam Diselidiki: Motif Korupsi Jadi Pemicu
-
Guru Sekolah Ternama di Pagar Alam Dilaporkan Dugaan Kasus Pencabulan Anak
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Long Weekend Mei 2026 Dimulai, Alfamart Tebar Diskon hingga 60 Persen Sampo, Sabun sampai Susu Anak
-
Promo QRIS Bank Sumsel Babel Mei 2026, 7 Merchant Kuliner di Palembang Ini Kasih Diskon Makan
-
7 Restoran Keluarga di Palembang yang Cocok buat Makan Besar saat Long Weekend, Harga Ramah Kantong
-
Driver Ojol di Gandus Ditangkap Kasus Kekerasan Seksual Anak, Jaket dan Helm Jadi Barang Bukti
-
Now Nudge Samsung Galaxy S26 Series: Fitur AI Proaktif yang Bisa Memberi Saran Otomatis