SuaraSumsel.id - Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi, sebuah kajian ilmiah dari UIN Raden Fatah Palembang justru mengangkat kembali memori kolektif tentang sistem moneter lokal masa silam.
Sebuah koin mungil yang dahulu menjadi denyut ekonomi Kesultanan Palembang Darussalam, kini kembali menjadi sorotan yang dinamai pitis.
Dalam Kajian Reboan Pascasarjana UIN Raden Fatah yang digelar secara daring dan luring pada Rabu (2/7), Dr. Kemas A.R. Panji, M.Si, dosen sejarah Islam yang baru saja menyandang gelar Doktor Peradaban Islam ke-272—memaparkan hasil penelitiannya tentang mata uang lokal tersebut.
Kajian ini tidak berdiri sendiri, tetapi dipadukan dengan temuan-temuan naskah kuno Palembang yang dimiliki oleh Ustad Kemas H. Andi Syarifuddin, seorang pengkaji manuskrip tradisional.
Disertasi doktoral Dr. Kemas berjudul “Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam dalam Perspektif Sejarah” membuka cakrawala baru soal eksistensi pitis sebagai instrumen ekonomi yang sah di masa Kesultanan Palembang.
Ia menyebutkan bahwa penyebutan pitis dalam naskah kuno Palembang telah tercatat sejak pasca atau Perang Menteng tahun 1819 yang menandai bahwa sistem keuangan lokal telah terbangun sebelum kolonial Belanda menguasai penuh tanah Sriwijaya ini.
“Naskah dan koin saling menguatkan. Apa yang tertulis di naskah dikuatkan keberadaan koin, dan sebaliknya,” ujar Dr. Kemas dalam kajian tersebut.
Salah satu naskah yang dibuka menyebut peristiwa ketika Sultan Palembang bersuka cita atas kemenangan dalam Perang Palembang Pertama melawan Belanda.
Sultan dikisahkan membagikan hadiah berupa pakaian dan uang pitis kepada para panglima sebagai penghargaan atas jasa mereka.
Baca Juga: Inflasi Sumsel Naik Tipis, Tapi Masih Aman! Ini Langkah Pemerintah Kendalikan Harga Pangan
Ini menjadi catatan penting bahwa pitis bukan sekadar alat transaksi, tetapi juga simbol status, hadiah kerajaan, dan bagian dari diplomasi internal istana.
Lebih menarik lagi, eksistensi pitis ternyata tidak hanya tercatat dalam sumber lokal.
Seorang orientalis Inggris, William Marsden, dalam karyanya The History of Sumatra (1783), juga mencatat penggunaan pitis sebagai mata uang lokal yang aktif digunakan dalam aktivitas perdagangan.
Sementara dalam buku Kuto Gawang karya sejarawan lokal Johan Hanafiah, keberadaan pitis dikaitkan erat dengan sistem perdagangan Kesultanan Palembang yang telah menjalin kontrak dagang hingga ke luar negeri.
“Kesultanan Palembang saat itu telah memiliki jaringan perdagangan antarbangsa. Pitis adalah salah satu alat yang menjaga keseimbangan nilai tukar di tingkat lokal,” ungkap Ustad Kemas Andi.
Kajian ini tidak hanya penting bagi sejarawan, namun juga membuka peluang bagi sektor ekonomi kreatif dan pariwisata.
Tag
Berita Terkait
-
Viral Dukun Palsu Tipu WNA Pakistan di Palembang, Modusnya Bikin Merinding
-
Lagi Cari Korean BBQ? Ini 5 Restoran Korea Populer di Palembang 2025
-
Apa Bisa PKL Tertib Tanpa Konflik? Ini Solusi Ratu Dewa di 16 Ilir Palembang
-
Jarak Pandang di Palembang Anjlok sampai 1.500 Meter, Apakah karena Kebakaran Lahan?
-
Penutupan Festival Bulan Juni 2025 di Palembang, Suara Perlawanan Kolektif Menggema
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Bukan Water Bombing, Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' dari Singkong Atasi Karhutla
-
1.926 Hektare Lahan Terbakar di Sumsel, Mengapa Baru 17 Tersangka?
-
Herman Deru Klaim Karhutla Sumsel Menurun, Tapi Kabut Asap Masih Bertahan di Palembang
-
Hotspot Sumsel Mendadak Turun Saat Prabowo Pimpin Rakor Karhutla, Benarkah Mulai Reda?
-
Viral, Kawasan Lereng Gunung Jempol Lahat Terbakar