SuaraSumsel.id - Jika anda datang ke kota Palembang, pasti salah satu tujuan utamannya ialah Jembatan Ampera. Jembatan yang menjadi penghubung antara kota Palembang di seberang hulu dan seberang hilir ini sudah menjadi icon ibu kota Sumatera Selatan.
Banyak kisah jembatan ini, mulai dari keinginan Presiden Soekarno memberikan bakti pembangunan kepada masyarakat Palembang sekaligus menjadi kebanggaan Indonesia baru merdeka.
Pergolakan politik akhirnya membuat Presiden Soekarno tidak meresmikannya langsung, tepat sehari sebelum Gerakan Satu Oktober (Gestok).
Berikut fakta Jembatan Ampera di kota pempek ini
Jembatan Tercanggih di Asia Tenggara
Jembatan ini memiliki panjang 1.117 meter dan lebar lebih dari 20 meter menjadikannya jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Selain menjadi jembatan terpanjang, jembatan ini merupakan infratuktur megah di jamannya.
Badan jembatan dapat diangkat guna mengatur ketinggiannya menyesuaikan lalu lintas kapal di Sungai Musi. Arus lalu lintas di Sungai Musi sejak dahulu terkenal padat, terutama mengangkut hasil bumi dan tambang dengan menggunakan kapal-kapal berukuran tinggi dan besar.
Jembatan ini menjadi jembatan tercanggih secara teknologi pembangunan dengan sistem persinyalan yang diatur dari sebuah pos berjarak cukup jauh.
Diresmikan oleh Letnan Jendral Ahmad Yani
Baca Juga: Polda: Tak Ada Nobar Film G30S/PKI di Sumsel
Tragedi Gerakan September 30 1965 (Gestapu) juga menyisahkan cerita bagi masyarakat Palembang.
Siang hari, tepatnya di 30 September 1965 sekiranya pukul 10.00 wib, Panglima TNI AD Ahmad Yani sempat meresmikan Jembatan Ampera bersama dengan Gubernur Brigjen. TNI H. Abu Yasid Bustomi yang mewakili Presiden Soekarno yang berhalangan hadir.
Meski pada malam harinya, jendral ini pun menjadi salah satu korban Gestapu.
Dana Rampasan Penjajah Jepang
Setelah kalah pada Perang Dunia ke II, sekutu mengharuskan Jepang menandatangani perjanjian San Fransisco. Perjanjian ini mengharuskan Jepang bertanggung jawab moral dan material kepada negara jajahan, termasuk Indonesia.
Karena dari itu, terjadi perundingan alot antara Jepang dan Indonesia menghitung besaran kerugian perang oleh Jepang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
Terkini
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana
-
Perkuat Keamanan Ruang Udara Obvitnas, Kilang Plaju Jalani Assessment AIP dan Supervisi SMP
-
Ratu Dewa Target Macet Palembang Turun 40 Persen dalam 90 Hari, Mungkinkah?