- Demonstrasi mahasiswa terkait penanganan karhutla di depan Mapolda Sumatera Selatan pada Selasa (13/10/2026) berakhir ricuh akibat bentrokan antarkelompok.
- Dua jurnalis yang meliput aksi tersebut mengalami penganiayaan dan intimidasi, sehingga mendapat perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang.
- Polda Sumatera Selatan telah mengamankan seorang terduga provokator serta menetapkan dua tersangka dalam kasus pengeroyokan wartawan.
SuaraSumsel.id - Demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di depan Markas Polda Sumsel, Palembang, Selasa (13/10/2026), berakhir ricuh. Aksi yang semestinya menjadi ruang penyampaian aspirasi mengenai penanganan karhutla dan kabut asap itu justru diwarnai bentrokan, dugaan provokasi, hingga kekerasan terhadap dua jurnalis yang sedang bertugas.
Peristiwa tersebut menjadi sorotan setelah wartawan Tribun Sumsel/Sriwijaya Post, Rachmad Kurniawan, dan jurnalis PalTV, Mulyadi, mengalami penganiayaan saat meliput kericuhan. Dalam perkembangan berikutnya, polisi mengamankan seorang terduga provokator, kemudian dua orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan terhadap wartawan.
Berikut rangkuman peristiwa kericuhan demonstrasi karhutla di Sumatera Selatan, mulai dari awal ketegangan hingga perkembangan penanganan kasusnya.
1. Demo Karhutla Digelar di Depan Mapolda Sumsel
Aksi mahasiswa pada Selasa (13/10/2026) berkaitan dengan persoalan karhutla dan kabut asap yang melanda Sumatera Selatan. Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung Plus datang untuk menyampaikan aspirasi terkait penanganan karhutla dan penegakan hukum terhadap persoalan tersebut.
Baca Juga:Butuh Lapor Polisi di Sumsel? Ini Nomor WhatsApp Kapolda dan 18 Kapolres
Pada saat bersamaan, sekelompok orang berpakaian hitam berada di sekitar Mapolda Sumsel untuk membagikan masker kepada pengendara.
Situasi kemudian memanas ketika kelompok mahasiswa hendak menyampaikan aspirasi. Kedua kelompok terlibat perselisihan yang berkembang menjadi bentrokan fisik di sekitar Mapolda Sumsel hingga kawasan Simpang Polda.
Kapolda Sumsel Irjen Pol. Rony Samtana mengatakan adanya dugaan provokasi yang memicu kericuhan. Namun, keterlibatan setiap pihak dan rangkaian kejadian secara menyeluruh tetap menjadi bagian yang perlu diungkap melalui penyelidikan kepolisian.
2. Dua Jurnalis Menjadi Korban Penganiayaan
Di tengah kericuhan, dua jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan turut menjadi korban kekerasan. Rachmad Kurniawan, wartawan Tribun Sumsel/Sriwijaya Post, dilaporkan mengalami luka akibat pengeroyokan. Sementara itu, Mulyadi, jurnalis PalTV, mengalami luka setelah berusaha melerai dan membantu rekannya.
Baca Juga:Dua Tersangka Pengeroyokan Wartawan di Mapolda Sumsel, Ini Dugaan Peran Masing-masing
Keduanya kemudian mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang. Peristiwa ini menjadi perhatian karena kekerasan terjadi ketika jurnalis sedang mendokumentasikan dan melaporkan kejadian di ruang publik.
Para jurnalis juga mengalami intimidasi. Mereka disebut dituduh membawa senjata tajam dan diminta menghapus rekaman foto maupun video. Rachmad bahkan dilaporkan mengalami serangan ketika melakukan siaran langsung melalui Facebook.
3. Polisi Mengamankan Terduga Provokator dan Dua Senjata Tajam
Pada Selasa malam (13/10/2026), Polda Sumsel mengumumkan telah mengamankan seorang pria yang diduga sebagai provokator kericuhan.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana menyebut pria tersebut bernama Riki Kurniawan. Polisi juga mengamankan dua bilah senjata tajam yang ditemukan dalam penanganan peristiwa tersebut.
Kapolda menyatakan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap rangkaian kejadian dan pihak-pihak yang terlibat. Penangkapan seorang terduga provokator itu merupakan perkembangan awal, bukan berarti seluruh pelaku kekerasan telah teridentifikasi.