- Sumatera Selatan mencatat inflasi bulanan sebesar 0,06 persen dan tahunan sebesar 2,60 persen pada Agustus 2026.
- Kenaikan harga dipicu oleh daging ayam ras, emas perhiasan, beras, dan gangguan cuaca panas.
- TPID Sumsel melaksanakan lebih dari 385 operasi pasar dan memperkuat kerja sama antarwilayah untuk mengendalikan inflasi.
SuaraSumsel.id - Inflasi Sumatera Selatan kembali bergerak pada Agustus 2026. Setelah mengalami deflasi pada bulan sebelumnya, tekanan harga mulai meningkat, meski masih berada dalam level yang relatif terkendali.
Di tengah ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu pasokan pangan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat pada tahun ajaran baru, Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada Agustus 2026.
Secara tahunan, inflasi Sumsel tercatat 2,60 persen year on year (yoy), naik tipis dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka 2,50 persen. Meski demikian, angka tersebut masih mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga di tengah berbagai potensi tekanan terhadap perekonomian daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, dalam rilis menyampaikan bahwa perkembangan inflasi tersebut mencerminkan pentingnya sinergi pengendalian harga untuk menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan kesejahteraan produsen.
Baca Juga:Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi
“Capaian ini mencerminkan terjaganya stabilitas harga serta efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah, sehingga memberikan keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat sembari tetap memastikan kesejahteraan produsen,” katanya.
Pada Agustus 2026, tekanan inflasi terutama datang dari sejumlah komoditas utama. Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,33 persen, disusul emas perhiasan sebesar 0,07 persen, beras dan kacang panjang masing-masing 0,02 persen, serta jagung manis sebesar 0,01 persen.
Cuaca Panas Tekan Produktivitas Ayam
Kenaikan harga daging ayam ras tidak terlepas dari persoalan produktivitas di tengah kondisi cuaca panas. Pertumbuhan ayam yang tidak optimal menyebabkan masa pemeliharaan menjadi lebih panjang, sementara permintaan terus bergerak. Kombinasi tersebut kemudian memberi tekanan terhadap harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, harga emas perhiasan meningkat sejalan dengan perkembangan harga emas global yang mendorong penyesuaian harga di pasar domestik. Sementara harga beras juga mengalami tekanan akibat berkurangnya pasokan dari petani. Kondisi tersebut diperkuat oleh peningkatan kebutuhan bahan baku plastik kemasan di tengah kembali beroperasinya program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan
Meski inflasi Agustus masih terkendali, tantangan berikutnya mulai terlihat. Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi pada September 2026 cenderung meningkat. Salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah potensi gangguan pasokan pangan hortikultura akibat fenomena El Nino.
Kondisi kemarau yang lebih kering dan curah hujan yang diperkirakan berada di bawah normal berpotensi memengaruhi produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan.
“Tekanan inflasi pada September 2026 diprakirakan akan cenderung meningkat, antara lain dipengaruhi oleh potensi gangguan pasokan pangan hortikultura imbas El Nino yang menyebabkan kondisi kemarau yang lebih kering dan curah hujan yang diprakirakan berada di bawah normal,” imbuhnya.
Selain faktor cuaca, aktivitas sekolah yang kembali berjalan penuh juga diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap sejumlah kebutuhan pangan. Komoditas seperti daging ayam ras dan telur ayam ras menjadi dua komoditas yang berpotensi mengalami peningkatan permintaan seiring normalisasi aktivitas masyarakat pada tahun ajaran baru.
Tekanan inflasi juga masih berpotensi datang dari pergerakan harga emas global.
Lebih dari 385 Operasi Pasar Digelar