- BPBD Sumsel mendeteksi 449 titik panas pada 20 Agustus 2026, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang tahun ini.
- Dinas Kesehatan Sumsel mencatat 259.297 kasus ISPA hingga Juni 2026 akibat ancaman kabut asap kebakaran hutan.
- Satgas karhutla memperketat penanganan di lapangan serta mengerahkan operasi pemadaman udara karena 1.926 hektare lahan terbakar.
Pada perkembangan hingga 20 Agustus, luas lahan terbakar bertambah sekitar 174,42 hektare. Satgas darat menangani sekitar 6,73 hektare, sementara operasi water bombing melakukan penjatuhan air pada sekitar 17 hektare.
Penanganan karhutla kini juga terus diperkuat melalui patroli udara dan operasi pemadaman.
Di tengah meningkatnya titik panas, BPBD Sumsel memperkuat armada udara dengan pesawat patroli serta sejumlah helikopter water bombing. Sebelumnya, BPBD juga menyatakan penanganan difokuskan di sejumlah wilayah yang mengalami karhutla cukup intensif, termasuk OKI, Muara Enim dan Musi Banyuasin.
Asap karhutla mulai berdampak ke Palembang
Baca Juga:Musim Kemarau Ekstrem, Kilang Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Petugas BPBD Sumsel
Persoalan karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. BMKG sebelumnya telah memantau dampak penyebaran asap karhutla terhadap kualitas udara Palembang. Pada pertengahan Agustus, kualitas udara di kota ini sempat masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan PM2.5.
BMKG juga menyebut wilayah Sumsel bagian tengah dan timur sebagai kawasan yang memiliki potensi hotspot tinggi, termasuk OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin, PALI, Ogan Ilir dan Palembang.
Kondisi ini menjadi penting bagi warga Palembang karena asap dari kebakaran di wilayah sekitar dapat memengaruhi kualitas udara perkotaan ketika terbawa pergerakan udara.
Pada 21 Agustus, data BPBD Sumsel mencatat ISPU Palembang mencapai 123, masuk kategori tidak sehat. PALI tercatat 121 dan Ogan Ilir 120.
Artinya, ancaman karhutla kini bukan hanya persoalan api dan lahan yang terbakar, tetapi juga kualitas udara yang dihirup masyarakat.
Baca Juga:Rudiansyah Jadi 'Superman' Lawan Karhutla, Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Terus Berulang?
259.297 kasus ISPA di Sumsel
Risiko kesehatan menjadi semakin penting karena kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumsel sudah mencapai ratusan ribu. Dinkes Sumsel mencatat 259.297 kasus ISPA sepanjang Januari-Juni 2026. Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 85.032 kasus, disusul Muara Enim 30.668 kasus dan Musi Banyuasin 17.946 kasus.
Data tersebut memang tidak dapat langsung diartikan seluruh kasus ISPA disebabkan karhutla. ISPA memiliki banyak faktor pemicu, sedangkan musim kemarau dan paparan asap dapat memperburuk kondisi lingkungan serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Dinkes Sumsel sebelumnya meminta masyarakat di daerah terdampak karhutla meningkatkan kewaspadaan, menjaga kualitas udara di dalam rumah dan menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk.
Di tingkat Kota Palembang, Dinas Kesehatan mencatat 94.964 kasus ISPA sepanjang Januari-Juli 2026.
Kasus tersebut mencakup berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, orang dewasa hingga lansia. Dinkes Palembang menyebut tidak ada pasien meninggal dunia akibat ISPA dari jumlah kasus tersebut.