- Remaja Palangka Raya bernama Rudiansyah memadamkan kebakaran hutan pada Senin, 17 Agustus 2026, mengenakan kostum Superman.
- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memuji aksi pemadaman api oleh Rudiansyah di Palangka Raya tersebut sebagai pahlawan hutan.
- Data Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran hutan di Sumatera Selatan mencapai 1.926,2 hektare hingga Juli 2026.
SuaraSumsel.id - Sosok Rudiansyah mungkin tidak pernah membayangkan kostum Superman yang dibelinya untuk mengikuti lomba lari justru membawanya ke tengah kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepulang sekolah, remaja asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah, itu ikut memadamkan api yang semakin mendekati rumahnya.
“Saya khawatir melihat kebakaran lahan yang semakin mendekati rumah, makanya sepulang sekolah saya sempatkan untuk ikut membantu pemadaman,” kata Rudiansyah.
Kostum itu dipakainya secara spontan. Rudi mengaku sudah membeli kostum Superman sejak lama yang juga membuatnya tidak ingin melihat kejadian serupa terulang. Aksi Rudi kemudian viral dan mendapat perhatian Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Saat bertemu Rudi di lokasi karhutla, Raja Juli menyebutnya sebagai forest hero.
“Ini salah satu contoh anak muda yang luar biasa. Ini superhero, tapi juga menjadi forest hero, pahlawan yang menyelamatkan hutan kita,” ujar Raja Juli.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Pecahkan Rekor 8 Tahun, Luas Terbakar Tembus 1.926 Hektare
Namun, kisah Rudi sebenarnya membuka persoalan yang jauh lebih besar. Ia menjadi “Superman” ketika api sudah mendekati rumah. Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan terus muncul di berbagai daerah Indonesia.
Bukan Sekadar Cerita Remaja Berkostum Superman
Di Palangka Raya, BPBD mencatat 177 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 165,98 hektare sepanjang 1 Juni hingga 9 Agustus 2026. Jekan Raya menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 110 kasus, disusul Sebangau 43 kejadian dan Pahandut 18 kejadian.
Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan peristiwa tunggal yang kebetulan menjadi latar aksi viral Rudi. Kebakaran terjadi berulang di tengah musim kemarau dan membutuhkan pengerahan petugas serta masyarakat.
Skalanya bahkan lebih besar ketika melihat Sumatera Selatan.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
Data Kementerian Kehutanan berdasarkan analisis citra satelit bersama BRIN menunjukkan luas karhutla di Sumsel mencapai 1.926,2 hektare sepanjang Januari-Juli 2026. Angka itu melonjak dibandingkan 664,8 hektare yang tercatat hingga Juni. Kabupaten Ogan Komering Ulu menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, mencapai 516 hektare. Berikutnya Banyuasin 274,4 hektare, Ogan Ilir 272,5 hektare, OKI 230,3 hektare dan Musi Banyuasin 228 hektare.
Yang membuat situasi perlu diperhatikan, luas karhutla Sumsel hingga Juli 2026 sudah lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2023, 2024 dan 2025.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, menyebut kondisi tersebut sebagai peringatan karena puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus-September. “Tentunya ini menjadi warning penting. Peningkatan signifikan dan ancaman ke depan dapat terjadi seiring dengan puncak musim kemarau yang terjadi Agustus-September,” kata Ferdian.
Kenapa Karhutla Terus Berulang?
Kemarau membuat lahan lebih kering dan api lebih mudah menyebar. Namun menjelaskan karhutla hanya karena cuaca juga terlalu sederhana. Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Kementerian Lingkungan Hidup, Eduward Hutapea, menyebut sebagian besar karhutla berkaitan dengan aktivitas manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian.
Menurut dia, karhutla pada dasarnya merupakan bencana yang dapat dicegah dan dikendalikan. Jika kebakaran terus berulang, persoalannya bukan semata kemampuan memadamkan api, tetapi juga efektivitas pencegahan dan mitigasi.
Di sinilah persoalan karhutla menjadi lebih rumit, mulai dari ada kondisi cuaca yang kering lalu lahan yang mudah terbakar, seperti halnya lahan gambut.
Raja Juli menegaskan masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan, termasuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. “Jangan ada lagi pembukaan lahan di musim ini dengan cara membakar. Land clearing dengan cara membakar, baik itu korporasi yang besar maupun masyarakat,” tegasnya.
Pemerintah sendiri mengandalkan berbagai cara, mulai dari pemadaman darat, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca jika kondisi atmosfer memungkinkan. Namun keterbatasan sumber air masih menjadi salah satu persoalan dalam pemadaman.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak api berhasil dipadamkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah sebelum terjadi.
Superman Hanya Viral
Rudiansyah menjadi perhatian karena kostum Superman yang dikenakannya yang kemudian viral di media sosial. Tetapi yang lebih penting dari kostum itu adalah alasan ia turun ke lokasi: api sudah mendekati rumahnya dan ia tidak ingin kembali mengalami kabut asap seperti 2015.
Di Sumsel, situasinya juga membutuhkan kewaspadaan. Luas karhutla telah mencapai 1.926,2 hektare hingga Juli, sementara puncak kemarau masih berlangsung.
Maka, kisah seorang remaja berkostum Superman seharusnya tidak berhenti sebagai cerita viral. Ia justru menjadi pertanyaan apakah sistem pencegahan kita sudah bekerja cukup baik sebelum api muncul?
Sebab karhutla tidak akan selesai hanya dengan lebih banyak orang memadamkan api. namun yang dibutuhkan adalah semakin sedikit api yang muncul sejak awal.