Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga

Sumsel hadapi puncak karhutla dengan 449 hotspot sehari (tertinggi di 2026). Lahan terbakar capai 1.926 ha, kualitas udara memburuk, dan kasus ISPA melonjak. Warga diimbau pakai masker.

Tasmalinda
Jum'at, 21 Agustus 2026 | 21:35 WIB
Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga
Petugas dari Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Arisan Jaya, Pemulutan Barat, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Senin (3/8/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj]
Baca 10 detik
  • BPBD Sumsel mendeteksi 449 titik panas pada 20 Agustus 2026, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang tahun ini.
  • Dinas Kesehatan Sumsel mencatat 259.297 kasus ISPA hingga Juni 2026 akibat ancaman kabut asap kebakaran hutan.
  • Satgas karhutla memperketat penanganan di lapangan serta mengerahkan operasi pemadaman udara karena 1.926 hektare lahan terbakar.

SuaraSumsel.id - Sumatera Selatan memasuki periode rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah puncak musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat 449 titik panas atau hotspot terdeteksi dalam sehari, angka tertinggi sepanjang 2026, sementara ancaman asap dan memburuknya kualitas udara mulai menjadi perhatian kesehatan masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa Ogahtriyah, mengatakan seluruh dinas kesehatan kabupaten dan kota telah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi memburuknya kualitas udara akibat karhutla, termasuk dengan menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan jika terjadi peningkatan kasus.

“Jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat. Bila keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit agar dapat ditangani lebih cepat,” kata Ira.

449 hotspot dalam sehari

Baca Juga:Musim Kemarau Ekstrem, Kilang Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Petugas BPBD Sumsel

Data BPBD Sumsel menunjukkan 449 hotspot terdeteksi pada Kamis, 20 Agustus 2026. Sebanyak 382 titik berada di lahan mineral, sedangkan 67 titik lainnya terdeteksi di lahan gambut.

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 2026 dan melampaui rekor sebelumnya, yakni 278 hotspot pada 12 Agustus 2026.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 133 titik. Berikutnya Muara Enim dan Musi Banyuasin masing-masing mencatat 68 titik, Banyuasin 33 titik dan Ogan Ilir 30 titik.

Namun, BPBD mengingatkan bahwa hotspot tidak sama dengan titik api. Data tersebut merupakan indikasi panas yang tetap harus diverifikasi melalui pemantauan lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran.

“Hotspot ini bukan titik api, tapi tetap harus diwaspadai karena berpotensi terbakar akibat vegetasi yang kian mengering, dengan meninjau ke lapangan,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman.

Baca Juga:Rudiansyah Jadi 'Superman' Lawan Karhutla, Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Terus Berulang?

Hampir 3.000 hotspot hanya dalam 20 hari

Lonjakan pada 20 Agustus bukan kejadian yang berdiri sendiri. Dengan tambahan 449 titik tersebut, jumlah hotspot di Sumsel sepanjang 1-20 Agustus 2026 mencapai 2.924 titik. Secara kumulatif sejak awal tahun hingga 20 Agustus, jumlah hotspot yang terdeteksi mencapai 6.494 titik.

Angka tersebut memperlihatkan tekanan karhutla semakin besar ketika Sumsel memasuki periode puncak kemarau.

BMKG memprakirakan puncak musim kemarau Sumsel berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Kondisi kering tersebut membuat potensi kebakaran perlu diantisipasi lebih ketat.

1.926 hektare lahan terbakar

Selain peningkatan hotspot, BPBD Sumsel mencatat luas lahan yang terbakar sepanjang 1 Januari hingga 20 Agustus 2026 mencapai 1.926,2 hektare.

Pada perkembangan hingga 20 Agustus, luas lahan terbakar bertambah sekitar 174,42 hektare. Satgas darat menangani sekitar 6,73 hektare, sementara operasi water bombing melakukan penjatuhan air pada sekitar 17 hektare.

Penanganan karhutla kini juga terus diperkuat melalui patroli udara dan operasi pemadaman.

Di tengah meningkatnya titik panas, BPBD Sumsel memperkuat armada udara dengan pesawat patroli serta sejumlah helikopter water bombing. Sebelumnya, BPBD juga menyatakan penanganan difokuskan di sejumlah wilayah yang mengalami karhutla cukup intensif, termasuk OKI, Muara Enim dan Musi Banyuasin.

Asap karhutla mulai berdampak ke Palembang

Persoalan karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. BMKG sebelumnya telah memantau dampak penyebaran asap karhutla terhadap kualitas udara Palembang. Pada pertengahan Agustus, kualitas udara di kota ini sempat masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan PM2.5.

BMKG juga menyebut wilayah Sumsel bagian tengah dan timur sebagai kawasan yang memiliki potensi hotspot tinggi, termasuk OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin, PALI, Ogan Ilir dan Palembang.

Kondisi ini menjadi penting bagi warga Palembang karena asap dari kebakaran di wilayah sekitar dapat memengaruhi kualitas udara perkotaan ketika terbawa pergerakan udara.

Pada 21 Agustus, data BPBD Sumsel mencatat ISPU Palembang mencapai 123, masuk kategori tidak sehat. PALI tercatat 121 dan Ogan Ilir 120.

Artinya, ancaman karhutla kini bukan hanya persoalan api dan lahan yang terbakar, tetapi juga kualitas udara yang dihirup masyarakat.

259.297 kasus ISPA di Sumsel

Risiko kesehatan menjadi semakin penting karena kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumsel sudah mencapai ratusan ribu. Dinkes Sumsel mencatat 259.297 kasus ISPA sepanjang Januari-Juni 2026. Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 85.032 kasus, disusul Muara Enim 30.668 kasus dan Musi Banyuasin 17.946 kasus.

Data tersebut memang tidak dapat langsung diartikan seluruh kasus ISPA disebabkan karhutla. ISPA memiliki banyak faktor pemicu, sedangkan musim kemarau dan paparan asap dapat memperburuk kondisi lingkungan serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Dinkes Sumsel sebelumnya meminta masyarakat di daerah terdampak karhutla meningkatkan kewaspadaan, menjaga kualitas udara di dalam rumah dan menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk.

Di tingkat Kota Palembang, Dinas Kesehatan mencatat 94.964 kasus ISPA sepanjang Januari-Juli 2026.

Kasus tersebut mencakup berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, orang dewasa hingga lansia. Dinkes Palembang menyebut tidak ada pasien meninggal dunia akibat ISPA dari jumlah kasus tersebut.

Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Karena itu, warga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama saat udara berasap atau kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak