- Pengemudi ojek online bernama Hardiansyah mengalami sesak napas parah saat kabut asap menyelimuti Palembang pada Jumat pagi, 2 Oktober 2026.
- Ia sempat dilarikan keluarganya ke RSUD Palembang BARI, namun tiba di IGD dalam kondisi tanpa nadi dan napas.
- Pihak rumah sakit menyatakan korban meninggal dunia pukul 07.42 WIB meskipun penyebab medis pastinya belum dipastikan secara resmi.
SuaraSumsel.id - Pagi itu, Hardiansyah (41) masih berada di rumahnya di Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) itu memiliki satu persoalan yang sudah lama dikenalnya: asma.
Namun, Jumat (2/10/2026) pagi menjadi hari terakhir Hardiansyah bersama keluarganya. Sesak napas yang dialaminya memburuk ketika kabut asap menyelimuti kawasan tempat tinggalnya. Ia kemudian dilarikan ke RSUD Palembang BARI, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Istri Hardiansyah, Rika Yunita Sari (39), masih mengingat keluhan suaminya sebelum dibawa ke rumah sakit. Menurut Rika, Hardiansyah memang sudah beberapa kali mengalami sesak sejak pertengahan September, tetapi kondisinya sempat membaik dan ia kembali menjalani aktivitas sehari-hari. “Asmanya langsung parah. Sempat minta diuruti dan dikeroki,” kata Rika saat ditemui di rumah duka.
Keluhan tentang asap sudah muncul sebelumnya
Baca Juga:Kilang Plaju Satukan Doa dan Ikhtiar Lewat Sholat Istisqa di Tengah Kemarau
Hardiansyah bukan orang yang bisa sepenuhnya menghindari udara luar. Sebagai pengemudi ojol, aktivitasnya banyak dilakukan di jalan. Ia biasa bekerja sejak pagi hingga siang, kemudian kembali bekerja pada sore hari.
Menurut Rika, dalam sekitar dua bulan terakhir Hardiansyah beberapa kali mengeluhkan kondisi udara di Palembang. Salah satu hal yang sering ditanyakannya adalah kapan kabut asap akan menghilang.
Di rumah, keluarga juga merasakan perubahan kondisi udara. Rika mengatakan asap dan abu dari kebakaran lahan mulai terasa di sekitar tempat tinggal mereka. Keluhan sesak Hardiansyah kemudian muncul kembali.
Meski demikian, keluarga belum memiliki pemeriksaan medis yang dapat memastikan hubungan langsung antara paparan asap dengan kematian Hardiansyah.
Malam sebelum kejadian, kondisi Hardiansyah disebut masih baik. Namun, pada Jumat pagi, situasinya berubah. Rika mengatakan kabut asap terasa pekat di sekitar rumah. Saat keluar dari kamar, Hardiansyah mulai mengalami sesak yang lebih berat.
Baca Juga:Asap Karhutla Tutup Jalur Sungai Banyuasin, Kapal Sembako Kandas dan Tenggelam
Keluarga kemudian berusaha memberikan pertolongan sebelum membawanya ke rumah sakit. Dalam kondisi sesak tersebut, Hardiansyah sempat mengeluhkan udara yang menurutnya membuat sulit bernapas.
Bagi keluarga, percakapan singkat itu kini menjadi bagian dari ingatan terakhir tentang Hardiansyah. Kondisinya kemudian memburuk dengan cepat sehingga keluarga memutuskan membawanya ke RSUD Palembang BARI.
Keterangan rumah sakit menunjukkan kondisi Hardiansyah sudah sangat kritis ketika tiba di IGD. Kepala Tim Humas dan Pemasaran RSUD Palembang BARI, Adea Triutami, mengatakan pasien datang dalam kondisi tidak sadar. Setelah dilakukan pemeriksaan, tim medis tidak menemukan denyut nadi maupun napas.
Tim medis kemudian melakukan sejumlah tindakan pertolongan, termasuk resusitasi jantung paru (RJP), pemberian obat, pemeriksaan EKG hingga defibrilasi.
Namun, Hardiansyah tidak memberikan respons terhadap tindakan medis tersebut. Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia atau death on arrival (DoA) pada pukul 07.42 WIB. Pihak rumah sakit belum menyatakan penyebab medis pasti kematian Hardiansyah.
Keluarga menyebut Hardiansyah memiliki riwayat asma sejak kecil.