- Kilang Plaju di Sumatera Selatan yang berdiri sejak tahun 1904 terus beroperasi untuk menopang ketahanan energi nasional.
- Pihak Kilang Plaju melaksanakan lifting perdana Biosolar B50 pada 22 Juli 2026 guna mendukung kemandirian energi dan mengurangi impor.
- Kilang minyak tertua tersebut juga berhasil memproduksi 50.050 ton Polytam serta meraih penghargaan PROPER Emas selama empat tahun berturut-turut.
SuaraSumsel.id - Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka menjadi bagian dari perjalanan panjang bangsa dalam membangun kehidupan yang mandiri dan berdaulat, termasuk dalam memenuhi kebutuhan energinya. Di tepian Sungai Musi, Sumatera Selatan, Kilang Plaju menjadi salah satu saksi perjalanan tersebut.
Berdiri sejak 1904, Kilang Plaju telah melewati berbagai fase, mulai dari masa kolonial, proses nasionalisasi, hingga menjadi bagian penting dari industri energi nasional di bawah naungan Pertamina. Lebih dari satu abad kemudian, kilang tertua di Indonesia yang masih beroperasi itu terus menjalankan perannya dalam menjaga pasokan energi bagi masyarakat.
Sejarah panjang tersebut menjadikan Kilang Plaju bukan sekadar fasilitas pengolahan minyak. Kilang ini telah berkembang menjadi aset strategis yang ikut mengiringi perjalanan bangsa dalam membangun kemandirian energi.
Di usia ke-81 kemerdekaan Indonesia, semangat untuk menjaga warisan sekaligus menghadirkan inovasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Kilang Plaju.
Baca Juga:Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
Dari Warisan Sejarah Menjadi Penopang Energi Nasional
Saat ini, Kilang Plaju memiliki kapasitas desain pengolahan sebesar 120 ribu barel per hari. Operasional kilang didukung oleh lima unit Crude Distillation Unit (CDU) serta berbagai fasilitas pengolahan lainnya.
Beragam produk dihasilkan dari kilang ini, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), produk non-BBM, hingga produk intermedia yang mendukung berbagai sektor industri.
Keberadaan Kilang Plaju di tepian Sungai Musi juga menjadikannya memiliki keterikatan yang kuat dengan masyarakat Sumatera Selatan. Sungai yang selama ratusan tahun menjadi jalur perdagangan dan pusat aktivitas masyarakat itu turut menjadi bagian dari perjalanan panjang kilang.
Karena itu, Kilang Plaju tidak hanya berperan sebagai fasilitas energi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan perkembangan masyarakat di Sumatera Selatan.
Baca Juga:Sambut Bulan Energy & Loss 2026, Kilang Plaju Perkuat Budaya Efisiensi Energi Berbasis Digital
Inovasi yang Terus Berkembang
Memiliki sejarah panjang tidak membuat Kilang Plaju berhenti berinovasi. Seiring berkembangnya kebutuhan energi dan industri, berbagai terobosan terus dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki.
Salah satunya adalah Breezon MC-32, produk refrigeran berbasis propylene yang dikembangkan melalui riset pekerja Kilang Plaju sejak 2018.
Produk tersebut mampu menekan konsumsi listrik hingga 20-30 persen serta membutuhkan massa pengisian yang lebih rendah dibandingkan refrigeran sintetis. Saat ini, Breezon MC-32 juga telah dimanfaatkan oleh PT Pertamina EP Cepu untuk mendukung operasional di Lapangan Gas Cepu, Jawa Tengah.
Inovasi lainnya hadir melalui produk petrokimia Polytam. Sepanjang 2025, unit Polypropylene Kilang Plaju berhasil memproduksi 50.050 ton Polytam atau mencapai 114 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2025.
Produk biji plastik yang telah dikembangkan selama lebih dari 50 tahun tersebut menjadi salah satu bahan baku penting bagi industri kemasan, otomotif, hingga kebutuhan rumah tangga.