- Sindikat hacker asal Tulung Selapan membobol dana BOS SMA Negeri 2 Prabumulih menggunakan teknik brute force sederhana.
- Pelaku berhasil mencuri uang negara sebesar Rp942,8 juta yang kemudian digunakan untuk kepentingan pribadi serta membeli narkoba.
- Ditreskrimsus Polda Sumatera Selatan membongkar jaringan terorganisir yang melibatkan empat pelaku dengan peran pembagian tugas yang sistematis.
Fakta paling memprihatinkan, uang hasil pembobolan tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi, termasuk membeli narkotika jenis sabu.
Saat penangkapan, tiga pelaku bahkan diketahui baru saja mengonsumsi narkoba. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti, termasuk mobil dan ponsel mewah.
Ironisnya, dana yang berasal dari anggaran pendidikan justru berakhir untuk aktivitas ilegal yang merusak masa depan.
Kasus ini membuka pertanyaan besar soal keamanan sistem keuangan pendidikan di Indonesia. Jika metode sederhana seperti brute force bisa menembus sistem, maka ada potensi kelemahan serius yang perlu segera diperbaiki.
Baca Juga:Awal Bulan, Momentum Tepat Upgrade Lemari dengan Promo Spesial Bank Sumsel Babel
Kasus hacker Selapan ini menjadi bukti bahwa kejahatan siber kini tidak lagi menyasar individu semata, tetapi juga lembaga pendidikan. Dana BOS yang seharusnya menjadi penopang masa depan siswa, kini justru jadi ladang empuk bagi pelaku kejahatan digital.
Jika tidak ada evaluasi menyeluruh, bukan tidak mungkin kasus serupa akan kembali terulang — bahkan dengan nilai kerugian yang lebih besar.