Revitalisasi Makam Ario Damar Tuai Kritik, Dari Nama Salah sampai Bangunan Bocor

Revitalisasi Makam Ario Damar di Palembang menuai kritik sejarawan karena kualitasnya jauh dari kesepakatan DED.

Tasmalinda
Minggu, 18 Januari 2026 | 19:33 WIB
Revitalisasi Makam Ario Damar Tuai Kritik, Dari Nama Salah sampai Bangunan Bocor
pembangunan makam Ariodillah disoal
Baca 10 detik
  • Revitalisasi Makam Ario Damar di Palembang menuai kritik sejarawan karena kualitasnya jauh dari kesepakatan DED.
  • Tim 11 menemukan banyak kerusakan seperti genangan, kesalahan aksara Arab Melayu, dan material bangunan rendah.
  • Pihak terkait mendesak audit keuangan dan mengancam pelaporan hukum jika hasil revitalisasi tidak segera diperbaiki.

SuaraSumsel.id - Revitalisasi Makam Adipati Palembang, Ario Damar atau Ario Dillah, putra Raja Majapahit Brawijaya V, yang berada di kawasan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang, menuai sorotan.

Sejumlah sejarawan, budayawan, hingga Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang menilai proyek yang dikerjakan Pemkot Palembang melalui pihak kontraktor itu terkesan asal jadi dan jauh dari standar yang telah disepakati dalam Detail Engineering Design (DED).

Penilaian tersebut mencuat setelah Tim 11 bersama para budayawan dan sejarawan meninjau langsung kondisi makam pada Sabtu (17/1/2026) sore. Hasilnya, mereka mengaku kecewa dengan kualitas revitalisasi yang dinilai tidak mencerminkan nilai sejarah tokoh besar Palembang tersebut.

Ketua Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang, Hidayatul Fikri atau akrab disapa Mang Dayat, mengatakan pihaknya sejak awal terlibat dalam penyusunan DED revitalisasi makam bersama seniman, budayawan, dan sejarawan. Namun, hasil di lapangan dinilai jauh melenceng dari rencana.

Baca Juga:Transfer Gratis Tanpa Ribet, Ini Cara Bank Sumsel Babel Bikin Transaksi Makin Hemat

“Makam ini baru direvitalisasi. Kami tahu betul detail apa yang dibuat dan disusun dalam DED. Tapi setelah ditinjau, kami kurang puas karena masih banyak yang tidak sesuai,” ujar Hidayatul Fikri usai peninjauan.

Ia mengungkapkan sejumlah temuan mencolok, mulai dari genangan air di area makam, kesalahan penulisan huruf Arab Melayu, ornamen yang rusak dan hanya ditempel, hingga kualitas material bangunan yang dipertanyakan.

Menurutnya, kayu atap pendopo terlihat berkualitas rendah, banyak bagian bocor, dan sambungan kayu hanya ditempel. Empat tiang penyangga pendopo bahkan disebut tidak kokoh, plafon pendopo tidak ada, lisplang belum dicat, dan pencahayaan dari lampu tenaga surya dinilai sangat minim.

“Belum diserahterimakan ke Pemkot Palembang saja sudah banyak yang rusak. Ironisnya, bangunan sudah berdiri, tapi makam Ario Damar sendiri justru tidak diperbaiki secara layak,” tegasnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan pengerjaan yang dinilai terburu-buru, tidak rapi, dan kotor. Ornamen batu disebut berkualitas rendah dan jauh dari ekspektasi awal revitalisasi situs sejarah penting.

Baca Juga:Kredit UMKM Sumsel Capai Rp41,3 Triliun, OJK Ungkap 7 Indikator Penguatan Ekonomi Daerah

Wakil Ketua Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang, Vebri Al Lintani, turut menyoroti lemahnya profesionalisme dalam pengerjaan proyek tersebut. Ia bahkan mengaku ragu apakah revitalisasi makam itu sudah benar-benar selesai atau belum.

“Kelihatannya ini dikerjakan oleh orang yang tidak profesional. Paku masih menempel di dinding, teknisnya buruk, terkesan asal-asalan. Ini jelas tidak sesuai DED,” kata Vebri.

Vebri yang juga menjabat sebagai Ketua Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) mendesak agar audit keuangan segera dilakukan. Ia mencurigai adanya ketidaksesuaian antara anggaran dengan hasil pekerjaan di lapangan.

“Kami minta ini diaudit. Kami curiga ada dugaan permainan dalam proyek ini. Jika perlu, kami akan laporkan ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan agar diusut tuntas,” tegasnya.

Sorotan serupa disampaikan anggota Tim 11 lainnya, Dr Kemas Ari Panji, Spd, MSi. Ia menilai terdapat ketidaksesuaian penulisan nama Ario Damar antara huruf Arab Melayu dan huruf Latin di dalam kompleks makam.

“Penulisan ‘Ario’ itu tidak seperti ini. Tulisan hanya ditempel, bahkan sudah ada yang lepas dan hancur,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti saluran air yang tidak berfungsi, sehingga menyebabkan genangan setiap kali hujan turun.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak