Bayar Kuliah hingga Tiket Pesawat, Permintaan Dokter Senior Diduga Tekan Junior PPDS Unsri

Pesan berantai viral menuduh oknum senior PPDS Unsri menekan junior secara finansial untuk keperluan pribadi.

Tasmalinda
Rabu, 07 Januari 2026 | 11:46 WIB
Bayar Kuliah hingga Tiket Pesawat, Permintaan Dokter Senior Diduga Tekan Junior PPDS Unsri
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri)
Baca 10 detik
  • Pesan berantai viral menuduh oknum senior PPDS Unsri menekan junior secara finansial untuk keperluan pribadi.
  • Tuntutan finansial mencakup biaya kuliah, hiburan, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga senior secara tunai.
  • Kemenkes RI telah menerima laporan mengenai dugaan perundungan ini dan masyarakat menanti investigasi transparan.

SuaraSumsel.id - Sebuah pesan berantai yang kembali viral di media sosial memicu keprihatinan publik. Isinya menyoroti dugaan perundungan di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sriwijaya, yang kali ini disebut terjadi lewat tekanan finansial dari oknum dokter senior kepada junior.

Pesan tersebut diklaim berasal dari Aliansi Masyarakat Peduli Keadilan Sipil (AMPKS) Sumatera Selatan. Dalam narasinya, junior PPDS digambarkan berada dalam posisi sulit yakni selain harus menjalani beban akademik dan jam kerja panjang, mereka juga diduga diminta menanggung berbagai kebutuhan pribadi senior yang tidak berkaitan dengan proses pendidikan.

Salah satu poin yang paling menyita perhatian publik adalah permintaan agar junior membayari uang kuliah atau semesteran senior. Di luar itu, junior juga disebut diminta menanggung biaya hiburan, seperti pesta dan aktivitas nongkrong, yang sama sekali tidak berhubungan dengan kewajiban akademik.

Daftar permintaan yang beredar tak berhenti di situ. Junior PPDS juga diklaim diminta membiayai tiket pesawat dan tiket konser, konsumsi harian, hingga perawatan diri para senior. Beban finansial ini disebut datang bersamaan dengan tekanan psikologis akibat relasi kuasa yang timpang.

Baca Juga:Inflasi Sumsel Naik Jelang 2026, Ini 8 Fakta yang Perlu Diwaspadai Warga

Dalam pesan tersebut, junior bahkan disebut harus membayar sewa rumah atau kos senior, biaya penelitian dan seminar, hingga kebutuhan rumah tangga. Narasi lain menyebut junior diminta mengantar-jemput anak senior serta membelikan barang bernilai tinggi, termasuk alat kesehatan.

Dugaan tekanan finansial ini disebut dilakukan secara tertutup dan tunai, tanpa catatan administratif. Cara ini dinilai membuat junior sulit menolak atau melapor, karena takut berdampak pada kelangsungan pendidikan dan relasi kerja klinis sehari-hari.

Rangkaian permintaan tersebut diduga berdampak serius pada kondisi mental junior PPDS. Salah satu junior dikabarkan mengalami tekanan psikologis berat, hingga akhirnya memilih mengundurkan diri dari program pendidikan yang selama ini menjadi tujuan kariernya.

Isu ini memantik empati luas dari masyarakat. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana lingkungan pendidikan dokter spesialis yang seharusnya menjunjung profesionalisme dan kemanusiaan—bisa menjadi ruang yang menekan secara ekonomi dan psikologis.

Menanggapi informasi yang beredar, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan telah menerima laporan terkait dugaan perundungan di lingkungan PPDS Universitas Sriwijaya. Publik kini menanti langkah konkret agar dugaan praktik tersebut diusut secara transparan dan korban mendapatkan perlindungan.

Baca Juga:Bukan Sekadar Ganti Baju! Ini Aturan Baru Seragam ASN 2026 yang Diterapkan di Sumsel

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perundungan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik atau verbal. Tekanan finansial yang sistematis juga dapat menjadi bentuk kekerasan yang perlahan menggerus kesehatan mental dan masa depan peserta didik.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini