- Mahasiswi Unsri, Sessi, terbantu efisiensi penelitian menggunakan ChatGPT 5.0, namun terhambat biaya langganan tinggi sebelumnya.
- Telkomsel berkolaborasi dengan OpenAI menghadirkan paket ChatGPT Go terjangkau, mengubah aksesibilitas AI bagi masyarakat.
- Akses AI yang lebih mudah diharapkan memperluas manfaat teknologi bagi mahasiswa dan pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
SuaraSumsel.id - Sessi Anggraini, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri), awalnya mengira kecerdasan buatan adalah teknologi yang hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu. Selama setahun terakhir ia mengandalkan ChatGPT 5.0 untuk membantu memahami jurnal asing, menyusun kerangka teori, dan mengolah data tugas penelitian.
Manfaatnya memang besar, tetapi harga langganannya yang mencapai Rp75.000 atau sempat lebih mahal dari itu membuatnya harus berpikir dua kali. Ia bahkan pernah beberapa kali patungan dengan teman lainnya agar tetap bisa mengakses layanan tersebut ketika tugas menumpuk.
Perubahan terjadi tanpa rencana besar. Suatu malam, ia membuka aplikasi MyTelkomsel hanya untuk membeli kuota biasa. Ingatannya tertahan pada pemberitaan tentang promo paket ChatGPT Go dengan harga mulai Rp50.000. Ia menatap layar cukup lama sebelum memutuskan untuk mencoba, terutama karena pertimbangan ekonomi.
“Kalau benar murah dan tidak ribet, mungkin ini bisa jadi jalan keluar,” pikirnya.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Night Run 2025 Berlangsung Meriah, Ribuan Peserta Padati JSC Malam Ini
Dalam hitungan detik, paket tersebut aktif. Sejak itu ritme belajarnya berubah.
Dengan ChatGPT Go, ia bisa mengunggah jurnal dalam format PDF, memasukkan tabel data, bahkan mengirimkan grafik mata kuliah ekonomi manajerial untuk diminta analisis. Proses yang biasanya menyita waktu berjam-jam menjadi jauh lebih efisien. Sessi tetap membaca jurnal dan menyusun argumen sendiri, tetapi ia tidak lagi kehabisan tenaga hanya untuk merapikan bagian teknis.
“Bukan untuk menghindari belajar, tapi supaya waktu yang ada dipakai untuk memahami, bukan menghabiskan energi pada hal-hal repetitif,” ucapnya.
Bagi mahasiswa yang tengah dikejar jadwal penelitian sampai laporan mingguan, efisiensi semacam ini sangat berarti. Ia mengaku bisa menyelesaikan dua bab kajian pustaka dalam waktu yang sebelumnya hanya cukup untuk menyelesaikan satu. Ketegangan belajar perlahan bergeser menjadi perasaan mampu menguasai materi, bukan lagi dikejar materi.
Kisah Sessi menggambarkan perubahan yang lebih luas dari sekadar penggunaan teknologi baru. Kehadiran paket bundling ChatGPT hasil kolaborasi Telkomsel dan OpenAI membuka pintu yang sebelumnya sulit dijangkau.
Baca Juga:Herman Deru: Kunci Ketahanan Pangan Sumsel pada Integrasi HuluHilir, Bukan Sekadar Produksi
AI tidak lagi identik dengan layanan yang hanya dimiliki mereka berkemampuan. Dengan harga yang lebih terjangkau, mahasiswa, pekerja kreatif, maupun pelaku UMKM kini memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang melalui teknologi.
Telkomsel memposisikan langkah ini sebagai bagian dari upaya memperluas akses kecerdasan buatan di Indonesia. Melalui konektivitas yang menjangkau lebih dari 98 persen populasi nasional, perusahaan berharap siapa pun, dari pusat kota hingga daerah pinggiran dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.
Jika selama ini transformasi digital hanya dirasakan sebagian masyarakat, kolaborasi ini berusaha membawa manfaatnya ke lingkup yang lebih luas dan nyata.
Vice President Technology Strategy and Consumer Product Development Telkomsel, Ronald Limoa menegaskan arah tersebut.
“ChatGPT Go menjadi cara Telkomsel menghadirkan kecerdasan buatan yang lebih mudah diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan harga yang terjangkau. Melalui kolaborasi Telkomsel dan OpenAI, kini teknologi AI dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, berkat konektivitas digital Telkomsel yang telah menjangkau lebih dari 98 persen populasi Indonesia,” ujarnya.
Di lingkungan kampus, perubahan mulai terlihat perlahan. Mahasiswa tidak lagi hanya memburu jurnal untuk difotokopi, tetapi juga mendiskusikan teknik analisis data menggunakan AI. Beberapa dosen memberi perhatian pada perkembangan ini dan mengarahkan mahasiswa untuk tetap menjaga integritas akademik, namun mereka juga mengakui bahwa teknologi membantu mempercepat proses pemahaman.