Psikologi di Balik Tren Sepatu Retro: Nostalgia Tulen atau Cuma Gaya-Gayaan?

Di tengah kemajuan teknologi sepatu dan desain futuristik, mengapa justru sepatu dari masa lalu menjadi pilihan utama generasi kini?

Tasmalinda
Senin, 04 Agustus 2025 | 22:34 WIB
Psikologi di Balik Tren Sepatu Retro: Nostalgia Tulen atau Cuma Gaya-Gayaan?
Adidas Gazelle Indoor Black

SuaraSumsel.id - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia sneaker dihiasi dengan siluet-siluet lawas yang mendadak kembali mendominasi jalanan kota yakni Adidas Gazelle, SL 72, Puma Speedcat, hingga Onitsuka Tiger Mexico 66.

Di tengah kemajuan teknologi sepatu dan desain futuristik, mengapa justru sepatu dari masa lalu menjadi pilihan utama generasi kini?

Apakah ini semata tren estetik? Atau ada mekanisme psikologis mendalam yang mendorong kita untuk kembali ke bentuk-bentuk lama yang familiar?

1. Nostalgia: Terapi Psikologis yang Tak Disadari

Baca Juga:Perang Siluet Retro! Adidas Gazelle vs Onitsuka Tiger, Mana yang Lebih Hype?

Menurut para ahli psikologi budaya, nostalgia adalah bentuk perlindungan diri terhadap ketidakpastian zaman. Saat dunia terasa cepat berubah, penuh tekanan, dan informasi datang bertubi-tubi, manusia cenderung mencari kenyamanan dari masa lalu.

Sepatu retro—dengan bentuk, warna, dan material yang mengingatkan pada masa kecil atau era yang “lebih sederhana”—menjadi simbol stabilitas emosional. SL 72 mungkin tak sekadar sepatu lari vintage, tapi bisa jadi representasi kenangan tentang ayah yang dulu memakainya, atau suasana film lama yang hangat.

2. Estetika Lawas yang Relevan Lagi

Desain minimalis dan proporsional dari sepatu retro sangat cocok dengan tren gaya saat ini: normcore, Y2K, hingga old money look.

Sepatu seperti Gazelle dan Tokyo punya bentuk ramping yang mudah dipadukan dengan celana wide-leg, jeans pudar, atau jaket varsity.

Baca Juga:5 Sepatu Adidas yang Cocok Dipadukan dengan Rok, Mulai dari Kasual hingga Feminin

Siluet ini tidak agresif, tidak mencolok, tetapi berbicara banyak tentang selera dan sikap. Dalam istilah psikologi sosial, gaya retro seringkali diasosiasikan dengan orang yang memiliki “low need for status signaling”—yakni mereka yang tak butuh validasi berlebihan tapi tahu apa yang mereka suka.

3. Efek “Bandwagon” dan Validasi Sosial

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar ledakan tren ini juga didorong oleh efek ikut-ikutan. Ketika selebritas seperti Bella Hadid, Jennie BLACKPINK, dan aktor Jepang Kenjiro Tsuda memakai sepatu retro, terjadi yang disebut sebagai “bandwagon effect”: orang cenderung menyukai sesuatu karena banyak orang menyukainya.

Di sinilah garis menjadi kabur: apakah kita membeli sepatu retro karena benar-benar suka, atau hanya karena takut ketinggalan tren?

4. Identitas dan Resistensi terhadap “Fast Fashion”

Menariknya, tren sepatu retro juga menyimpan bentuk resistensi terhadap industri fashion yang terlalu cepat dan konsumtif. Banyak yang kini mencari sepatu dengan desain abadi dan makna, bukan sekadar tampilan instan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini