Peneliti sastra dari Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri [UIN] Raden Fatah Dr. Muhammad Walidin, M.Hum mengapresiasi buku yang diterbitkan Teater Potlot atas dukungan Indonesiana dan LPDP tersebut. Dia lebih khusus menyoroti sastra tutur andai-andai yang dituturkan Cik Isa atau Kajut Odon [109 tahun].
“Mengutip James James Dananjaya, bahwa penelitian terhadap tradisi lisan merupakan aspek penting bagi pembangunan sebuah bangsa. Pembangunan mempunyai dua aspek: aspek fisik dan aspek psikis. Keduanya penting, namun yang terpenting adalah aspek psikis, karena tanpa persiapan mental, tanpa adanya motivasi untuk maju, pembangunan fisik akan sukar dilaksanakan,” katanya.
Beranjak dari pemikiran tersebut, Walidin juga merekomendasikan agar penampilan sastra lisan, seperti andai-andai, harus sering diadakan. Bahkan perlu diadakan pelatihan penulisan versi andai-andai. Sasarannya untuk semua usia. Termasuk melalui digital.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Cahyo Sulistyaningsih mengatakan selain pemerintah daerah, Teater Potlot dan bersama lembaga lainnya, termasuk perguruan tinggi seperti UIN Raden Fatah, dapat mengusulkan penutur [sastra tutur] yang karyanya dikutip dalam buku sebagai maestro.
Baca Juga:Dukungan BRI untuk UMKM Jadi Sorotan di Perayaan HUT ke-129
“Jika mereka ditetapkan oleh pemerintah sebagai maestro, maka mereka akan mendapatkan jaminan hidup atau santunan setiap bulan dari pemerintah pusat,” kata Cahyo.*
Tapi yang terpenting yang harus dilakukan adalah pengarsipan semua karya sastra yang masih diingat mereka, sebelum mereka keburu “berpulang”.