Sementara anggota tim pengabdian, Serly Oktarina, S.Kom., M.Kom menambahkan upaya pemasaran yang dilakukan pun sudah digital dengan memanfaatkan media sosial.
Dengan demikian produk abon jamur tiram di Desa Mulia Sari memiliki peluang dan tantangan tersendiri dalam pasar online tersebut.
"Dengan nama produk “Kampung Jamur TransUss” akan menjadi ekosistem umkm terintegrasi sampai pada hasil akhir serta pasar (penjualan)," ucapnya.
"Produk olahan jamur tiram berupa abon itu sangat menjanjikan bagi wirausaha. Namun jika wirausaha jamur tidak dimaksimalkan, maka juga mengancam keberlangsungan usaha baglog, jamur segar dan produk turunannya tersebut. Sehingga menjadi penting untuk mengembangkan budidaya jamur dan abon jamur sebagai produk turunan di Desa Muliasari," imbuh Serly.
Baca Juga:9.697 Hektare Lahan Hangus Terbakar di Sumsel, Catatan Terburuk Karhutla